2.8K
Kebahagian sesederhana memasak kue dan membagikannya. Ada yang menyukai rasanya dan menanyaimu resepnya. Ada yang bahkan mencicipinya pun tak sudi. Jangan tersingung dan jangan berhenti membuat dan membagikannya.
“Kebahagiaan itu seperti kue. Kue ajaib yang butuh dibagi...”

Kemarin malam, saya bertemu dengan beberapa teman lama. Ketika bercerita tentang kue, ia membuat saya menerawang. Notabenenya, ibu dari salah seorang teman saya tak lagi ingin memanggang kue untuk anaknya. “Kata Karen, kue Tante nggak enak!” begitu curhatnya pada salah satu dari kami.

Ketika itu, teman lain yang sedang doyan-doyannya memasak mencoba memberi Tante semangat lagi. “Dicoba lagi aja, Tante...” ujarnya. Namun Oma bercucu dua ini kadung kecewa, dan tak lagi punya ingin untuk mencoba.

Cerita tentang kue ini membawa ingatan saya pada suatu pagi di salah satu losmen di Sanur. Tahun 2009 tepatnya. Analogi yang digunakan teman saya untuk mendefinisikan bahagia: “Kebahagiaan itu seperti kue...” Perumpamaan yang saya amini, dan saya yakini diam-diam.

Kebahagiaan itu seperti kue yang perlu dibagi-bagi. Ketika itu, saya bertanya dengan polosnya, "Semua?"

“Semuanya...” jawab teman saya dengan mantap dan mata berbinar-binar.

“Buat apa disimpan, jika nanti jadi kadaluarsa dan bahkan kamu pun tak bisa memakannya lagi?” masih dengan senyum ia menjawab. "Kue itu ada untuk dinikmati bersama."

Lalu saya melanjutkan bertanya, “ Bagaimana jika kue itu habis?”

Dia menjawab, “Hei, siapa tau ada yang akan menawarimu kue-kue, bukan?” Lalu dia terkekeh-kekeh dengan santai.

Analogi ini sederhana, namun mampu membuat saya berpikir panjang dan merenung. Seringnya kita berpikir kebahagiaan itu sesuatu yang sebegitu berharga. Seperti perhiasan indah yang perlu dikenakan ketika pesta. Tidak, kita menyalahartikannya dengan “kebanggaan”.

Sesungguhnya, bahagia seperti kue yang bisa kamu buat sendiri tanpa bantuan siapapun; lalu kamu makan bersama teman. Tak mungkin bersisa, karena masih begitu banyak orang di luar sana yang membutuhkan makanan.

Bagaimana jika kuemu habis, namun kekurangan bahan untuk membuatnya? Jangan remehkan putaran Semesta. Bisa saja ada orang lain yang menawarkan kuenya untukmu.

Pertanyaannya: Apa kamu mau menerima kue mereka? Rasanya mungkin tak selalu sesuai dengan inginmu. Tapi niatnya tulus.

Kebahagiaan sesederhana memasak kue dan membagikannya. Ada yang menyukai rasanya dan menanyaimu resepnya. Ada yang bahkan mencicipinya pun tak sudi. Jangan tersingung dan jangan berhenti membuat dan membagikannya.

Kalau kamu, apa definisi bahagia menurutmu? Apakah kamu tetap mau membuat kue-mu, jika ada yang mengatainya tak enak?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kue-Kue Kebahagian yang Penting Dibagi". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar