2.8K
Krisis seperempat abad kadang tak seperti namanya. Ia tak selalu tepat memunculkan diri saat usia kita benar-benar seperempat abad. Ada yang mengalaminya lebih awal, ada juga yang mengalami jauh setelah berumur dua puluh lima.

Hari itu, setelah aktivitas berakhir, tiba-tiba saya merasa rindu pada teduhnya senja. Jadi, pergilah saya ke sana: Pantai Batu Belig, yang letaknya tak jauh dari tempat kerja saya.

Sambil memandangi langit lembayung, saya teringat akan sebuah artikel yang pernah saya baca.

Artikel itu mengulas tentang krisis seperempat abad.

Langsung jemari saya memainkan layar telepon genggam, mencari pengertian krisis seperempat abad. Saya mendarat pada laman yang membuat kepala saya mengangguk berulang kali. Dikatakan pada laman itu, bahwa krisis seperempat abad terjadi saat kita menemukan keadaan transisi dalam hidup, dimana kita menghadapi segala kemungkinan perubahan yang tak terbatas. Sambil mendengar deburan ombak dan memandangi orang-orang yang berlalu-lalang di pantai, saya berpikir.

Krisis seperempat abad kadang tak seperti namanya. Ia tak selalu tepat memunculkan diri saat usia kita benar-benar seperempat abad. Ada yang mengalaminya lebih awal, ada juga yang mengalami jauh setelah berumur dua puluh lima.

Krisis itu muncul saat kita mulai menyadari suatu perubahan secara psikologis: bahwa kita sudah seharusnya bertindak sebagai pembuat keputusan, bukan lagi sebagai 'sekadar' penerima keputusan.

Saya melihat kehidupan saya dengan latar belakang 'anak mama', di mana segala sesuatu dalam hidup saya sebagian besar diputuskan oleh Ibu; mulai dari sekolah mana yang harus saya masuki (tentunya semakin beranjak tingkatan jenjang sekolah keputusan itu juga disesuaikan dengan jumlah nilai akhir yang saya peroleh), kemudian les-les apa saja yang mesti saya ikuti, dengan siapa saja saya boleh bergaul, jam berapa waktu yang tepat bagi beliau untuk saya meninggalkan rumah atau pulang kembali ke rumah.

Hal-hal tersebut secara tidak sadar juga membentuk karakter pikiran saya, bahwa everything is gonna be okay, my mom will choose what's best for my life.

Saya merasa hidup saya akan berjalan sesuai arahan ibu saya.

Apapun itu, saya tidak perlu capek-capek berpikir, toh ada ibu yang akan memberikan keputusan.

Kemudian, saat saya duduk di bangku SMA konflik mulai muncul. Saya benar-benar merasa hilang kendali di fase remaja. Pengaruh pergaulan, perubahan hormon, juga perubahan kesukaan merupakan sedikit dari banyaknya faktor yang membentuk karakter pemberontak dalam diri saya.

Perubahan kesukaan yang saya maksud adalah dari yang awalnya saya hanya suka membaca komik Doraemon atau Candy-Candy, atau menonton film India bersama teman-teman satu geng kemudian tiba-tiba beralih pada Guns and Roses; dan saya mulai punya rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Dalam kasus ini, saya menjatuhkan pilihan pada Axl Rose.

Konflik yang timbul kemudian adalah saya mulai berontak pada Ibu.

Entah krisis apa namanya yang menimpa saya waktu itu, namun saya kira masa-masa pemberontakan itu terjadi pada hampir semua anak remaja. Syukurlah Ibu dan juga Ayah dapat mengatasi fase itu dengan baik meski tak mudah.

Pikiran saya bergerak lagi kepada masa krisis seperempat abad saya yang sesungguhnya. Waktu itu, saya berada pada usia 20 tahun. Relatif muda memang, dan krisis itu muncul akibat keputusan saya untuk menikah dan memiliki anak pada masa itu. Saya yang awalnya terbiasa menerima keputusan, kini dihadapkan pada situasi sebagai pengambil keputusan. Tak mudah memang, dan jujur saja secara psikologis saya sangat terguncang waktu itu.

Sayangnya, waktu itu saya belum kenal apa itu Quarter Life Crisis, apa itu Baby Blues, bahkan apa itu rumah tangga pun saya amat sangat tidak paham.

Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak.

Saya bercerai.

Mata saya mendadak berkaca-kaca, saat melihat seorang anak kecil berlari bersama anjing pudelnya. Teringat dengan anak saya yang kini berada di bawah pengasuhan ayahnya. Namun saat ini bukanlah saat yang tepat lagi untuk bersedih. Mengenai anak saya, akhirnya kami telah berada dalam keadaan yang menggembirakan. Kami bertemu secara teratur tiap minggu dan apabila libur semester tiba, ia akan berada dalam pengasuhan saya.

Kisah tentang saya dan anak pun telah saya tuangkan dalam artikel berjudul 'Mungkinkah Tetap Mengasuh Anak Bersama-sama, Pasca Perceraian?'

Lalu bagaimana sebenarnya keadaan krisis seperempat abad yang saya alami?

Saat itu adalah saat-saat dimana kehidupan ini terasa tak adil dan saya pada waktu itu juga mengalami banyak tekanan di sana-sini. Saya merasa bagaikan berada di jaman keruntuhan.

Selepas bercerai, saya merasa hidup saya selesai. Berakhir. Gagal.

Namun kembali ibu saya mengambil peran penting sebagai 'pemberi' keputusan.

Saat itu hidup saya terasa kembali pada masa-masa sebelumnya. Di mana saya hanyalah gadis kecil tanpa pengetahuan apa-apa tentang hidup dan bersembunyi di balik hangat pelukan Ibu. Ibu mengarahkan kehidupan saya, Ibu yang tidak pernah malu apalagi menolak saya hadir kembali di tengah keluarga karena perceraian. Ibu yang membangkitkan semangat hidup saya dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Keputusan Ibu yang pertama terhadap hidup saya waktu itu adalah bahwa saya harus melanjutkan pendidikan saya kembali. Saya harus kembali kuliah dan meraih gelar sarjana. Dan setelah akhirnya semua yang disarankan pada saya terwujud, ibu kembali menyarankan saya untuk mencari pekerjaan yang tetap. Bukan hanya sekadar bekerja. Tahun-tahun berjalan dengan begitu cepat, hingga berdirilah saya di sana pada saat itu, di Pantai Batu Belig memandang senja.

Hidup ini tak jauh berbeda dengan matahari.

Ada saat kita terbit dengan semburat terhalang sisa-sisa kegelapan malam. Lalu kemudian matahari kita terbang tinggi, teriknya membakar dunia.

Sejenak saya berpikir, berarti saat ini matahari saya sedang menapaki puncak. Dan mungkin akan terus tinggi hingga 20 tahun ke depan. Hingga pada saatnya nanti matahari terik itu akan berubah menjadi senja, seperti yang saya lihat saat itu. Ia tak lagi membakar, ia menyejukkan kemudian ia bersiap untuk pulang ke rumah cakrawala dan menyinari belahan dunia lainnya.

Dan matahari itu tidak akan saya sia-siakan lagi.

Saat ini, saya menulis untuk membagikan bagaimana saya berjuang untuk menghadapi krisis seperempat abad serta bagaimana saya memaknai kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda. Meskipun keadaan saya saat ini entah dapat disebut sudah sukses atau belum, namun ada banyak barometer yang dapat digunakan sebagai pengukur dan itu bersifat relatif.

Paling tidak, saya sudah berhasil untuk mengatasi krisis seperempat abad saya, paling tidak saya sudah berhasil untuk membawa diri saya bangkit dan bergerak maju meninggalkan masa lalu dan paling tidak saya terus berusaha menjadikan kehidupan saya lebih baik demi orang-orang yang menyayangi saya.

Kehidupan ini memang pahit bila memang kita memilih untuk melihatnya dari sisi negatif, namun bila kita mau memandang lewat kacamata positif, sesungguhnya manisnya hidup juga selalu tersedia bagi kita.

Hal paling konkret yang saya temukan selama bergelut menghadapi pahit-getir kehidupan adalah betapa saya menyadari bahwa untuk mengatasi segala persoalan dalam hidup, hal paling penting yang dapat kita lakukan adalah mengosongkan hati dari segala beban dan sesak.

Berhenti menyesali dan menyalahkan diri.

Berhenti membenci keadaan.

Kosongkan hati dari semua yang melanda.

Kemudian perlahan-lahan isi hati dengan semangat untuk bangkit. Isi hati dan pikiran dengan kata-kata baik sebagai bekal perjalanan panjang ke depan. Dan yang selalu saya tekankan adalah jangan berpikir untuk melakukannya secara instan dan terburu-buru. Terima saja prosesnya yang memang memakan waktu.

Tidak ada yang mengkompetisikan kita dalam kehidupan ini selain diri kita sendiri. Karenanya kita sering mendengar kata-kata: musuh paling besar adalah diri sendiri. Kita harus mengalahkan ego kita sendiri karena sesungguhnya diri sendiri bagai dua mata pisau, sisi pertama ia yang membantu kita untuk bangkit, sedangkan sisi lawannya adalah ia sendiri yang menjatuhkan kita ke jurang kegagalan.

Dan hanya ada satu senjata untuk mengalahkan sisi buruk diri sendiri yaitu Pengendalian Pikiran.

Saya pun tak serta merta bangkit setelah kegagalan. Butuh waktu bertahun-tahun. Saya yang pada 2012 silam hanyalah seseorang yang lemah dan berlindung di bawah pelukan Ibu pasca badai hebat yang hampir menenggelamkan kapal kehidupan saya.

Selang lima tahun kemudian, inilah saya, seseorang yang jauh lebih positif, bersemangat untuk terus mengarak matahari kehidupan sehingga bisa terus membumbung tinggi dan menyinari dunia.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Krisis Seperempat Abad, dan Berdamai Dengan Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Traveller, A Believer

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

Ada saat kita terbit dengan semburat terhalang sisa-sisa kegelapan malam. Lalu kemudian matahari kita terbang tinggi, teriknya membakar dunia. Harga Emas Har ini