545
Ya, betapa banyak yang telah kita terima. Pada setiap detik, pada setiap kejadian dan tindakan dalam hidup kita.

Malam itu kami kembali diajak berkontemplasi. Tentang begitu banyak hal yang telah kita terima dari siapa atau apa pun di semesta.

Cermati berbagai hal yang tampak jelas. Mereka yang telah secara eksplisit dan langsung memberi kepada kita. Orangtua kita. Guru kita. Teman kita. Atau kadang, orang tak dikenal yang telah berbuat baik pada kita.

Lihat pula hal-hal yang tak terlalu eksplisit. Sepiring nasi yang tengah kita santap. Petani yang bekerja keras menumbuhkannya. Orang-orang yang membantu menuainya. Mereka yang menyediakan pupuk. Yang membeli beras dari petani. Yang memindahkan beras hingga ke toko. Yang menjual beras. Yang membeli beras. Yang menanaknya untuk kita. Yang menghidangkan nasi ini bagi kita.

Itu baru nasi. Tengok makanan lain yang kita santap, piring, sendok-garpu, tempat duduk, meja, lampu, dan atap yang menaungi kita. Kontemplasikan, proses panjang setara yang dilalui nasi, dilalui juga oleh setiap elemen lain. Tengok pula orang-orang yang menemani kita menikmati santapan ini.

Kemudian lihat lebih jauh dari sekadar manusia. Udara yang kita hirup. Segarnya air mengatasi dahaga. Burung-burung di sekitar. Bunga-bunga. Semua merupakan kenikmatan sendiri buat indera kita.

Lantas kita tersadar, betapa banyak yang telah kita terima. Pada setiap detik, pada setiap kejadian dan tindakan dalam hidup kita.

Dengan kesadaran ini, bila benar-benar tertanam dalam diri, kita akan tergerakkan secara berbeda. Setiap kita melakukan sesuatu buat pihak lain -- manusia maupun alam pada umumnya, kita tidak lagi berlagak seakan mereka berutang kepada kita. Kita tidak lagi menepuk dada, merasa kita telah berjasa bagi mereka. Karena mereka -- yang merupakan bagian dari semesta -- telah lebih dahulu memberikan begitu banyak kepada kita. Jauh lebih banyak.

Lihat diri kita sendiri. Perhatikan betapa kesadaran itu kemudian menggeser segala akar tindakan kita. Tindakan kita kini beranjak menjadi ungkapan syukur, rasa terima kasih atas jasa semesta -- jasa orang-orang di sekitar kita, masyarakat, tumbuhan, hewan, dan semesta alam.

Terbersit sebagai manusia -- tetapi bukankah ada orang atau peristiwa yang menimbulkan rasa sakit atau amarah dalam diri? Ya, namun apabila kita kembali menilik demikian banyak yang telah berjasa kepada kita, betapa kita telah menerima begitu banyak, kita mulai memahami, bahwa jumlah orang yang telah memberi jauh lebih banyak ketimbang orang-orang yang menimbulkan rasa sakit dan amarah.

Kemudian kita pun kembali menjadi manusia yang bersyukur. Yang melakukan segala sebagai ungkapan rasa syukur, rasa terima kasih, atas segala yang telah terlimpahkan kepada kita.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kontemplasi: Begitu Banyak Kita Telah Menerima". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar