2.4K
Dengan menyadari bahwa perasaan saya bukan suatu masalah, maka masalah saya pun berkurang.

Beberapa waktu yang lalu, saya mengalami suatu pengalaman yang kurang menyenangkan. Pengalaman ini sungguh menyakitkan bagi saya karena saya terpaksa menanggungnya sendiri. Alasan mengapa saya terpaksa menanggungnya sendiri adalah karena saya merasa masalah yang saya alami sesungguhnya adalah konflik yang saya alami secara internal.

Sebagian besar masalah ini menyangkut perasaan saya, dan saya pun berpikir bahwa tidak ada gunanya minta bantuan orang lain untuk menghadapi ini, terutama karena tidak ada yang bisa mengubah keadaan. Ditambah lagi saya malu untuk membicarakannya, dan saya pun tidak bersedia mengungkapkan lebih dari penjelasan rancu yang saya berikan pada artikel ini.

Alhasil, sampai sekarang masalah tersebut masih menghantui saya. Memang saya luar biasa sedih pada awalnya saja.

Kini, saya sudah berdamai sedikit demi sedikit dengan diri saya mengenai hal ini. Sayangnya saya terlanjur terluka, maka tidak jarang saya mengingat kembali hal yang terjadi dan jatuh pada kesedihan yang sama.

Saya tahu cara termudah untuk mengobati perasaan yang tidak sehat adalah dengan bicara, namun kali ini saya tidak melakukannya. Parahnya lagi, saya termasuk orang yang bila menyimpan sesuatu sendiri akan berpikir macam-macam dan selalu membayangkan yang terburuk—hal ini di luar kontrol saya.

Tidak hanya saya sedih karena masalah yang ada, namun saya juga merasa kecewa dengan cara saya mengatasinya. Saya tahu saya tidak mampu mengubah keadaan, dan saya pun akhirnya tahu bahwa keadaan tidak seburuk yang saya bayangkan di pikiran saya, namun tetap saja ada kesedihan yang tidak tertanggulangi ketika saya memikirkan masalah yang saya hadapi itu.

Ada perasaan seolah saya ingin mengubah keadaan, bahkan kalau bisa, mengulang segalanya dari awal agar saya dapat menghindari masalah tersebut. Saya kecewa karena saya merasa saya sendiri yang mempersulit keadaan, mungkin ini mengapa saya malu menceritakan masalah saya ke orang lain.

Setelah beberapa waktu bersedih, saya merefleksikan bahwa sesungguhnya ada batas antara menerima keadaan dan menerima perasaan. Saya bisa saja memaafkan orang yang menyakiti hati saya, atau mencari jalan keluar dari masalah saya, namun bukan berarti saya mampu berkata bahwa saya baik-baik saja.

Kalau saya tidak ingin mengubah keadaan sekalipun, bukan berarti saya sudah tenang dan bahagia dengan keadaan saya.

Memang benar bahwa perasaan dan pemikiran tidak selalu sejalan, kita bisa menjadi orang yang pragmatis tapi kita tidak bisa memutuskan hubungan dengan sisi emosional kita. Saya pun hanya bisa menghindari perbuatan atau keputusan yang berdasarkan perasaan, bukan berarti saya bisa berhenti punya perasaan.

Saya ternyata punya banyak perasaan, dan sebelum menyadari ini, saya tidak bisa memahami mengapa masalah yang saya alami ini terasa tidak kunjung selesai.

Saya memaknai hal ini begini: solusi dari kesedihan saya bukanlah dengan membenarkan keadaan, namun dengan menghadapi perasaan.

Dalam hal ini saya harus menyadari bahwa kita tidak bisa memiliki kontrol pada diri kita sepenuhnya, namun kita bisa menerima kenyataan tersebut. Kita tidak bisa mengalahkan perasaan semudah kita memperbaiki suatu kesalahan. Saya malu karena perasaan saya seringkali memegang kontrol terhadap diri saya dan bukan sebaliknya, namun saya salah, saya tidak perlu malu.

Pada kenyataannya, kita tidak bisa selalu baik-baik saja. Apabila saya tidak malu pada perasaan saya, maka saya pun tidak harus menanggung kesedihan saya sendiri. Sayangnya tidak mudah menanggung malu, apalagi bila kita belum menerima bahwa kita tidak memiliki kontrol terhadap perasaan kita.

Terkadang kita berpikir bahwa solusi dari suatu masalah hanyalah dengan mengatasinya secara konkret, namun hal tersebut tidak menjamin kita merasa damai dengan masalah tersebut. Maka kita harus berhenti mencari cara mengubah apa yang telah terjadi, dan berhenti berharap kita tidak melakukan kesalahan yang telah terjadi, atau berharap kita tidak pernah masuk ke dalam situasi yang telah kita alami.

Lihat ke dalam diri kita, temukan perasaan kita, dan terima perasaan tersebut karena perasaan bukan suatu kelemahan yang perlu kita hindari. Dengan menyadari bahwa perasaan saya bukan suatu masalah, maka masalah saya pun berkurang.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kita Tidak Bisa Selalu Baik-baik Saja dan Ini Tak Mengapa.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Alibaba Alibabi | @alibabaalibabi

makasih kak info nya Harga emas hari ini