867
Kita tidak harus terus-menerus menang. Kita tidak harus terus-menerus menjadi yang terbaik.

Kegagalan dan penyesalan

Sebuah teori yang pernah saya dengar mengatakan bahwa kegagalan hanyalah tanda bahwa kita hampir mencapai apa yang kita inginkan.

Kita merasa menyesal bukan karena kita begitu jauh dari apa yanng kita inginkan, namun justru karena kita begitu dekat.

Ketika kita tahu bahwa kita dapat berhasil--namun tidak berhasil, barulah kita merasakan penyesalan tersebut. Pikirkanlah bila sebaliknya: yaitu ketika kita jauh dari hal yang ingin kita capai. Kita tidak akan menyesali kegagalan sebegitu dalam. Kita menyesal dengan berkata, "Seharusnya saya berlatih lebih sering!" atau "Seharusnya saya membeli hal itu saja, bukan yang ini." atau "Seharusnya saya hadir lebih awal."

Kita dapat memaknai kegagalan dan penyesalan secara positif.

Setiap kali menyesal, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan--namun tidak kita lakukan. Hal itu mengindikasikan bahwa kita dapat berkembang. Dan kita tahu caranya. Setiap kali hal ini terjadi, secara tidak sadar, kita justru semakin dekat dengan keinginan kita. Kita hanya perlu melakukan hal-hal yang belum kita lakukan, karena toh, kita sudah tahu hal apa yang semestinya dilakukan.

Kegagalan dan kekalahan bukan hal yang sama

Kegagalan merujuk pada ketidakberhasilan melakukan sesuatu dengan baik, sedangkan kekalahan mendeskripsikan situasi ketika kita tidak menerima suatu simbol kemenangan.

Maka, jangan marahi diri kita karena kekalahan. Kekalahan terjadi karena berbagai faktor yang tidak dapat kita kontrol, seperti banyaknya orang lain yang berlomba melawan kita, atau sedikitnya modal yang kita miliki dibandingkan saingan kita.

Kekalahan dan kemenangan pun merupakan konstruksi sosial yang tidak harus kita percaya. Tanyakanlah pada diri kita sendiri: apakah kita perlu menjadi lebih baik dari orang lain untuk merasa puas? Apakah kepuasan kita harus datang dari suatu bentuk penilaian yang diberikan orang lain kepada kita?

Kita dapat menyimpulkan bahwa "kegagalan" terjadi ketika kita tidak berhasil mencapai sesuatu. Sebuah ide yang muncul dari keinginan bahwa kita ingin memenuhi target kita sendiri. Kita dapat memutuskan sendiri apakah kita telah "gagal" atau tidak dalam mencapai target kita. Sedangkan kekalahan mengharuskan kita untuk membandingkan diri dengan orang lain. Dan bahkan menerima orang lain lagi untuk memberi penilaian atas kerja dan usaha kita.

Kita telah diajarkan untuk berpikir bahwa kita harus menjadi versi terbaik dari diri kita setiap saat.

Menurut saya, ini tuntuan yang terlalu berat.

Terkadang, sebagai manusia, kita pun perlu menyadari dan berteman dengan saat-saat kekalahan dan perasaan yang tidak nyaman. Terkadang, kita terpaksa menjalani sesuatu yang penting pada saat kita tidak kuat secara emosional atau mental, entah dalam bentuk kesedihan, panik, ketakutan, atau yang lainnya. Terkadang pula kita sudah memberikan apa yang kita anggap baik, namun kebetulan saja kita butuh memberikan sedikit lebih baik dari itu.

Hal macam ini terjadi, dan dapat terjadi kapan saja.

Ketika saya mengalami kekalahan, teman-teman saya suka berkata, "That's okay, you've done your best." Ini justru membuat saya bertanya-tanya. Tapi, sebenarnya, have I really done my best?

Maka, saya akan menambahkan sesuatu pada pernyataan itu: I think, you've done your best and if it wasn't your best, that's okay.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kita Tak Selalu Menjadi Versi Terbaik Diri Kita, dan Ini Tak Apa-apa Juga.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rachel Diercie | @racheldiercie

Pecinta seni dan sastra. Hidup dari membaca, berjalan kaki, dan kopi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

mudahnya mencatat keuangan