2.5K
Manusia itu selayaknya tanah liat di tangan perajin keramik: dibanting, dibentuk, bahkan dibakar, sebelum menjelma sebuah keramik yang cantik dan bernilai.

Definisi di atas cukup representatif bagi saya. Saya baru bisa memaknai mengenai definisi bahwa manusia terbuat dari tanah secara utuh pada waktu-waktu seperti ini. Saya memutuskan untuk akhirnya memulai suatu hal yang baru di umur saya yang sudah tidak terlalu muda. Karena merasa masih diberi berkat dari Yang Maha Kuasa berupa tubuh yang sehat, umur yang panjang, dan kemampuan berpikir yang masih bisa saya andalkan, saya ingin keluar dari zona nyaman. Saya ingin mencoba bertualang mencari ranah baru, di mana saya bisa berkembang,dan belajar lebih banyak lagi.

Bolak-balik saya berpikir mengenai keluar dari zona nyaman. Seperti apakah nanti jadinya? Akan nyamankah saya seperti sediakala? Baikkah orang-orang yang nantinya akan berteman dengan saya? Namun saya memutuskan untuk tetap keluar dari zona nyaman tersebut berbekal doa dari Ibu, dan kepercayaan terhadap diri saya sendiri.

Dalam prosesnya, ternyata timbul konflik yang tidak saya perhitungkan sebelumnya: respon dari atasan dan rekan kerja saya. Rekan kerja ini sudah saya anggap seperti adik saya sendiri. Dia beserta keluarganya telah membantu menyelamatkan saya dan Ibu ketika kami dilanda cobaan beberapa waktu belakangan. Dia dan keluarganya hampir tidak pernah absen saat kami dilanda kesulitan. Ia seperti tangan pertama yang datang dari Tuhan.

Tempat dimana saya bekerja sekarang belum memiliki kapasitas untuk menerima karyawan baru demi menggantikan saya. Kantor yang tidak terlampau besar membuat semua staff yang berada di sana seperti keluarga besar yang hangat. Ketika surat pengunduran diri saya akhirnya ditandatangani, seharusnya saya merasa lega. Tapi yang terjadi adalah saya merasa bahwa saya telah berbuat tidak adil terhadap rekan kerja saya, yang selama ini telah banyak berjasa dalam hidup.

Saya merasa menumpukkan semua beban pekerjaan kepada dirinya, atas dasar kemauan atasan saya. Dan saya tidak mampu berbuat apa-apa. Saya merasa telah dzalim terhadap dia, yang sudah begitu banyak membantu saya dan Ibu.

Buat saya ini sulit. Di satu sisi, saya diberikan kesempatan yang mungkin tidak akan saya dapatkan lagi di lain waktu. Di sisi lain, saya yakin saya telah membuat jurang yang seharusnya tidak ada di sana; antara saya dengan rekan kerja saya (dan mungkin dengan keluarganya).

Untuk saat ini, saya hanya bisa menyampaikan kata maaf, untuk rekan kerja saya itu. Ini bukan pilihan yang mudah, dan yang saya inginkan adalah jika kami dapat tumbuh, mendewasa, dan kuat bersama, sehingga walaupun terpisah tempat dan mungkin jarak, tapi kami tetap bisa berjalan beriringan.

Mungkin saya dipandang egois, dan saya mengerti. Terkadang ada posisi ketika kita perlu mengambil sikap: antara ditinggalkan, atau meninggalkan. Dan saya telah mengambil jalan untuk meninggalkan, untuk pertama kalinya dalam 31 tahun hidup saya.

Kembali kepada hakikat manusia sebagai tanah liat yang tengah dibentuk oleh Sang Pencipta untuk menjadi keramik yang indah, saya berharap, suatu hari kebaikkan dan kesabaran rekan kerja saya itu akan bertumbuh. Bertumbuh menjadi keramik yang paling indah dan paling bernilai, di tengah orang-orang yang memahami dan menghargainya.

Mungkin pada saat itu, saya tidak berada di sisinya, tapi saya pastikan, akan selalu ada tempat di ruang hati saya atas nama rekan kerja saya itu, dan keluarganya yang telah begitu baik terhadap saya selama ini.

Rekan kerja saya yang baik, yang telah saya anggap adik, mungkin ketika kamu membaca tulisan ini, saya tak lagi berada di dekatmu. Namun, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu selama ini, dan menghadiahimu kehidupan yang baik, seperti kebaikan yang disampaikan Ibumu terhadap saya pagi ini.

Mungkin ini adalah proses sulit saat kita tengah ditempa untuk menjadi keramik-keramik yang indah. Semoga.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kita Adalah Keramik yang Tengah Ditempa untuk Menjadi Indah dan Bernilai.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Rose Daniaty | @miracle8rose

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar