24.4K
Sahabat saya, yang saya sayangi dengan teramat sangat, berpikir bahwa untuk dicintai, yang ia perlukan adalah penampilan fisik yang memukau. Ini kisahnya - yang mengingatkan saya bahwa setiap perempuan berhak diperlakukan dengan hormat, tak peduli seperti apapun penampilannya.

It was just a normal day at the gym.

Saya bersepeda santai sambil menunggu kelas zumba dimulai. Seorang perempuan datang kemudian, dengan kekasihnya. Lelaki itu dengan sigap menyetel sepeda statis yang hendak digunakan si perempuan. Tak ada yang spesial, hingga si perempuan itu mengeluh: "Sayang, ini sepedanya berat banget..."

Dan kekasihnya menjawab: "Ya, nggak apa-apa. Supaya kamu kurusan!"

Baiklah. Pada dasarnya, saya memang cenderung suka mencampuri urusan orang lain. Namun, biasanya saya akan lebih menahan diri. Tidak kali ini. Saya melirik perempuan itu--yang tubuhnya sudah sangat kurus menurut kamus. Saya tak bisa tidak menyeletuk: "Nggak salah? Kamu mau dia lebih kurus lagi? Gimana caranya? Kalau saya nih, memang agak gendutan!"

Belakangan saya tahu, berat badan si perempuan 45 kilogram, dengan tinggi badan sekitar 160 cm. Mungil dan kurus. Secara fisik, saya tak bisa mengerti dari mana ia bisa 'kelihatan gendut'. Saya saja, dengan tinggi badan yang hanya 154 cm, berat badannya mencapai 58 kilogram.

Si lelaki menatap saya tajam, dan tetap teguh pada pendiriannya.

"Sudahlah. Setelannya tetap segini aja. Supaya paha kamu nggak bergelambir," katanya pada si perempuan, mengabaikan celetukan saya.

Si perempuan akhirnya pasrah. Ia mengayuh dengan susah-payah. Beberapa menit kemudian, ia pun menyerah. Tetapi si lelaki kini justru menyuruh kekasihnya untuk terus berlatih dengan alat-alat angkat beban.

Di kesempatan lain, saya kemudian bertemu lagi dengan si perempuan di kelas zumba. Awalnya, seperti biasa, kami hanya berbasa-basi, lalu berbincang ringan. Akhirnya, ia bercerita--atau tepatnya mengkritisi dirinya sendirim mengeluhkan mengenai pantatnya yang rata hingga perutnya yang buncit.

Saya hanya bisa menatap perempuan itu dengan tak percaya. Saya harap saya bisa punya tubuh seperti dia! Tapi saya mengerti. Saya yakin perempuan ini tidak sendiri. Saya pun masih saja membenci cermin ketika memandang tubuh saya di dalamnya. Sepertinya selalu ada sejuta alasan untuk tidak menyukai tubuh sendiri, bahkan setelah kita kehilangan berat badan, mengubah gaya rambut, atau mengencangkan otot.

Tetapi, alih-alih mengasihani diri saya sendiri yang masih belum bisa menganggap cermin sebagai sahabat baik, saya tiba-tiba jadi merasa kasihan dengan perempuan ini. Bukan, bukan karena keluhan-keluhannya mengenai tubuhnya. Saya kasihan pada perempuan ini karena ia menjalin hubungan dengan lelaki yang masih saja menyuruhnya menguruskan badan dan melatih pahanya agar 'tidak bergelambir'. Rasanya saya luar biasa gemas.

Inilah sosok seorang lelaki yang mampu menciptakan dan menumbuhkembangkan perasaan insecurity pada seorang perempuan--yang katanya ia cintai. Apa kabar ‘mencintai apa adanya’?

Saya juga kesal melihat perempuan seperti perempuan ini. Perempuan yang menerima begitu saja perlakuan dan perkataan kekasihnya yang seperti itu. Mengapa sepertinya keinginan untuk dinilai dan dikagumi secara fisik oleh pasangannya begitu besar--melebihi keinginannya untuk dicintai apa adanya? Atau mungkin saya salah? Mungkinkah ada dimensi lain dari hubungan ini yang sebenarnya tidak (atau belum) saya mengerti?

Pertemuan singkat saya dengan perempuan di kelas zumba itu kemudian mengingatkan saya akan sahabat saya di masa kuliah dulu. Ini adalah cerita yang ia bagikan kepada saya, jujur dan apa adanya. Ia bilang, ia ingin saya menuliskannya, agar perempuan lain tak mengikuti 'jejaknya'.

Sejak awal perkenalan pada masa ospek, saya merasa lucu. Kok perempuan yang kelak jadi sahabat saya ini mau berteman dengan saya yang berkerudung. Bukannya apa-apa, ia selalu mengenakan baju yang ketat dan terbuka saat ke kampus. Apalagi di luar kampus. Hampir semua pakaiannya menunjukkan belahan dada dan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Banyak kawan lelaki pun tak kuasa untuk tak melirik ketika ia melintas. Apalagi kala itu kami kuliah di kota kecil seperti Malang.

Tak ada yang salah, sih. Setiap perempuan berhak berpakaian sesuka hatinya. Ia bebas berpakaian sedemikian, dan saya bebas berkerudung. Saya hanya tak menyangka, ia mau berkawan dengan saya--yang sepertinya punya gaya berpakaian, bergaul, dan berperilaku yang jauh berbeda dengannya. Atau mungkin, itulah yang membuat kami kemudian dekat. Karena saya tak menilai dirinya dari pakaiannya, dan ia tak menilai diri saya dari kerudung yang saya kenakan.

Beberapa semester selanjutnya, sahabat saya mulai mendapatkan pekerjaan untuk menyanyi di kafe-kafe. Suaranya memang bagus. Bahkan, kelas kami sepakat untuk tidak akan mengajaknya jika kami pergi untuk karaoke, karena berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial! Kami kan ingin menghibur diri, bukannya depresi karena ia hobi protes jika kami mulai menyanyi dengan nada sumbang! Tapi, di luar arena karaoke, kami tetap menjadi kawan-kawan yang suportif, kok. Ketika sahabat kami mengikuti audisi kontes penyanyi untuk sebuah televisi nasional, kami adalah kawan-kawan yang sama yang juga mendukung dan menyemangatinya. Sayang, sahabat saya tak lolos kala itu. Akhirnya, ia kembali menyanyi di kafe-kafe.

Seiring semakin dekatnya kami, saya ingin mencoba mengerti dirinya, dan pilihan-pilihannya. Saya sempat bertanya, mengapa ia memilih untuk berpakaian sedemikian. Apalagi, ia tinggal dengan kakak ibunya--keluarga yang cukup religius. Apakah pekerjaan dan gaya berpakaiannya tidak menimbulkan konflik dalam keluarga?

Sahabat saya pun bercerita. Sebagai anak bungsu, dengan ayah yang berprofesi sebagai pejabat pemerintah, dan ibu yang sibuk mendampingi sang ayah; ia kesepian. Maka, sambil tertawa, ia berkata bahwa target utamanya ketika pindah ke Malang untuk kuliah, adalah mencari pacar. "Dan cara apa yang lebih mudah untuk menggaet lelaki selain berpenampilan seksi dan menjaga bentuk tubuh agar tetap ideal?" gelaknya.

Saya terkejut. Ternyata ini alasannya?

Saat itu, saya juga punya pacar. Dan kami pasangan yang suka makan. Kami tak kurus, tapi juga tak gendut. Penampilan fisik masing-masing tak terlalu menjadi tumpuan dalam hubungan kami--bahkan menjadi salah satu hal yang jarang kami bahas. Karenanya saya cukup kaget ketika mendengar pengakuan sahabat saya itu.

Long story short, akhirnya sahabat saya bisa memenuhi targetnya. Ia mendapatkan seorang pacar. Belakangan saya tahu, setiap kali ia dan pacarnya bertengkar, sahabat saya akan berpakaian lebih terbuka. Make-upnya semakin tebal. Ia pun semakin giat menjaga agar tubuhnya makin sintal. Inilah cara sahabat saya untuk 'berbaikan'. Agar sang pacar bisa melihat kembali betapa seksi dirinya, menyesal, lalu memutuskan untuk berdamai.

Mungkin karena saya sangat menyayangi sahabat saya ini, lama-lama saya marah. Saya tak tega sahabat saya berhubungan dengan lelaki yang hanya melihat penampilan fisiknya saja--dan menjadikan penampilan fisiknya sebagai ukuran. Tetapi kekecewaan saya tak ia gubris. Ia bersikukuh, bahwa memang seperti inilah caranya untuk mencintai dan dicintai.

Sayangnya, dia dan sang pacar tetap saja sering bertengkar. Sampai suatu saat mereka berada di ambang berakhirnya hubungan. Saya mendukung penuh. Di sela-sela derai tangisnya, ia mengaku sangat terkejut bahwa ternyata fisiknya 'tidak cukup' untuk melanggengkan sebuah hubungan.

Kalau aku sih, aku nggak mau dicintai seseorang--apalagi cowok, hanya dari fisikku saja.” Itu kalimat terakhir saya malam itu. Sangat disayangkan sebenarnya, karena saya dan teman-teman sekelas tahu betul sahabat saya itu tergolong mahasiswi yang cerdas. Mengapa ia mau bertahan dalam hubungan di mana tampilan fisiknya menjadi pengikat utama?

Beberapa tahun kemudian, dia menelepon. Dia mengabari bahwa ia akan menikah, dan dia meminta saya untuk menjadi pendampingnya. Di penghujung telepon, dia berkata perlahan, “Tapi... kamu jangan marah ya, Prim, aku menikah sama...”, dan dia pun menyebutkan nama pacarnya itu. Ya, pacar yang sama semasa kuliah.

Saya membisu. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tapi itu pilihannya. Dan sahabat saya itu sudah dewasa. Yang bisa saya lakukan tentu hanya mendoakan dan mendampinginya, seperti yang ia minta.

Saya pun terbang ke Lombok, menemaninya dari H-3, mencandai segala sesuatu yang ia lakukan agar ia tidak terlalu tegang. Ibu saya pun ikut sibuk membantu ibunya, dan menemani si calon pengantin lelaki, karena ia yatim-piatu.

Hari akad nikah pun tiba. Saya dan sahabat saya berdiam di kamar pengantin sambil menyimak apa yang terjadi di luar. Tiba-tiba, dia menggenggam tangan saya, “Terima kasih atas kemarahanmu dulu, Prim. Aku sadar bahwa aku punya lebih dari sekadar badan. Selama ini aku salah. Sebenarnya calon suamiku tidak hanya menginginkan itu. Tapi dengan harga diriku yang sudah terlanjur hancur, aku yang memaksakan diriku kepadanya. Tetapi doakan, ya, bahwa kali ini kami memulai semuanya dengan lebih baik.”

Saya mengiyakan dalam hati, walau sempat ada keraguan melintas dalam benak saya. Apa ada kucing yang menolak ikan? Tetapi sahabat saya bukan ikan. Dia manusia. Dia punya hati, dan dia punya harga diri. Meskipun terlambat, saya senang dia menyadarinya. Lebih senang lagi karena sang suami juga mau berubah dan lebih menghargai sahabat saya.

Ah, kelak, jika saya dikaruniai anak perempuan, saya harap ia tumbuh besar dengan pengertian bahwa ia adalah seorang perempuan dengan banyak kelebihan, impian, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya. Bahwa tubuh adalah untuk dirayakan dan diterima dengan senang hati, bukan untuk dikritisi dan dinilai--baik oleh orang lain, maupun oleh diri sendiri. Untuk yang satu ini, saya harus belajar memulainya dari diri saya sendiri. Karena bukankah anak-anak hanya bisa melihat dan mencontoh perilaku kita--orang-orang yang membesarkannya?

Dan semoga, ketika ia jatuh cinta kelak, ia akan jatuh cinta pada lelaki yang juga punya pemahaman yang sama. Yang mencintai dirinya untuk segala kelebihan dan kekurangannya, impian dan ketakutannya, juga kebebasan dan kegamangannya. Untuk yang satu ini, saya pun berharap demikian, untuk diri saya sendiri, dan sahabat-sahabat perempuan saya--yang saya sayangi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kisah Seorang Perempuan yang Menggunakan Tubuhnya untuk Mendapatkan Cinta". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Primadita Rahma | @primaditarahma

Currently juggling between writing thesis and posting my thoughts on http://theprimadita.blogspot.co.id. Lately enjoying zumba and cold-pressed juice. Obsessed with the Crown Prince of Dubai.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar