2.2K
Kadang, orang dewasa yang justru lebih sulit menerima perbedaan dibanding anak kecil. Komentar-komentar dan cara pikir orang dewasalah yang justru membuat kebijaksanaan mereka runtuh. Lenyap.

Ini kisah seorang gadis kecil yang berteman dengan saya selama di Ubud, Bali. Yang bangun pada keesokan pagi, lalu berpikir, mungkin dunia akan lebih menarik bila ia berkulit putih.

***

Saya sedang duduk di bangku kayu di sebuah pekarangan belakang rumah yang penuh dengan tanaman menjalar. Tiupan angin, menggoyangkan gantungan bambu yang digantungkan di jendela dapur, menimbulkan suara mirip kentongan dipukul bila setiap bilah bambunya bertubrukan.

Seorang gadis cilik berambut panjang hitam legam masuk dengan wajah cemberut. Bibir merahnya mencucut mirip ikan cucut.

‘Aku mau beli krim pemutih,’ kata Adel. Ia menyodorkan gambar krim pemutih yang diguntingnya dari sebuah majalah. ‘Yang kayak ini.’

Saya dan teman saya yang sedang asyik memilih daun kemangi untuk dibuat saus pesto terdiam beberapa saat. Teman saya pun bertanya, ‘Kenapa, Del?’

‘Adel mau punya kulit putih. Adel nggak suka kulit Adel.’ Adel adalah gadis cilik dari Bima, usianya belum genap 6 tahun waktu itu. Ia pindah ke Ubud karena persoalan keluarga. Ibunya tak sanggup lagi membesarkan Adel. Ada lima orang anak yang harus dihidupi. Bayi Adel—yang katanya lahir karena kebobolan—membuat persoalan tambah runyam. Jadilah Adel dibawa ke Ubud. Dititipkan ke saudara yang dianggap masih mampu merawatnya.

Saya menggeser panci berisi dedaunan kemangi ke sisi kanan saya. Adel duduk di kursi kayu pendek berwarna kuning. Setiap siang atau sore, Adel sering bermain ke rumah teman saya ini. Selama di Ubud, Adel adalah salah satu teman kecil saya. Kami bermain ke padang rumput, kandang kerbau yang tak jauh dari rumah teman saya, atau ke sawah menangkap capung. Sesekali, kami bermain layangan.

Adel diam. Kaki kecilnya yang panjang bergoyang-goyang, tergantung tak menyentuh lantai.

‘Kulit hitam jelek. Tidak cantik.’ Adel memandang kulit tangannya dengan wajah manyun. Bibirnya tetap cemberut, kali ini dengan mata yang menyipit dan alis bertaut karena keningnya berkerut.

‘Siapa yang bilang seperti itu, Del? Saya bertanya.

Kata Adel, semalam dia menonton TV di rumah tetangga bersama teman-teman dan beberapa orang di desa. Lalu, ada iklan. Adel tak menyebutkan iklan apa. Saya rasa dia juga tak terlalu tahu. Tapi, Adel ingat iklan tersebut dibintangi oleh seorang perempuan. Intinya, iklan mengatakan perempuan itu cantik bila berkulit putih. Parahnya, ketika iklan itu tayang orang-orang dewasa berkomentar dan rupanya, komentar ini yang melekat dan mengusik Adel.

Adel diolok-olok. ‘Kata Made, Adel tidak bisa masuk TV soalnya hitam.’

Saya menghela napas. Bingung, bagaimana menjelaskan ini kepada anak sekecil Adel. Tapi, yang membuat saya saat itu lebih sakit hati adalah karena orang dewasalah yang mengejek-ejek warna kulit Adel.

Menurut saya Adel gadis Bima yang cantik. Sepasang mata cokelatnya berbentuk seperti mata kucing, sudut luar matanya meruncing naik, bibir tipisnya berwarna merah jambu segar, kontras dengan kulitnya yang gelap dan kerap terbakar sinar matahari ketika bermain. Rambutnya panjang dan hitam legam. Perawakan Adel kurus dan jangkung. Saya pernah bilang ke teman saya, Adel kalau besar nanti diarahkan jadi model saja. Karena besar di Ubud dan beberapa temannya anak-anak orang asing, Adel jago berbahasa Inggris. kalau kesulitan mengartikan apa yang dia mau, Adel akan berbicara dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa logat Bali sama sekali.

Saya memahami perasaan Adel. Dulu—bahkan sampai sekarang—saya masih kerap diolok-olok karena kulit saya berwarna gelap.

Saya pernah seperti Adel, pulang ke rumah dengan kesal dan memukul-mukul kulit tangan saya yang gelap karena diolok-olok ‘Windy Si Layangan Hitam’. Disebut layangan karena saya kurus kerempeng. Saya tidak ingat apa yang kemudian membuat saya memutuskan menulikan telinga. Yang jelas, saya tidak mau bermain dengan Si Pengolok, bahkan tak sudi berbicara dengannya di sekolah. Dia suka menarik kuncir rambut saya kalau saya bergeming. Kalau saya melotot, dia akan bilang, ‘Cie, Si Layangan Hitam Manis marah!’ Untungnya, saya kerap berpindah sekolah, jadinya saya tak perlu lama-lama satu sekolah dengan anak itu. Sayangnya, saya tidak melupakan sama sekali apa yang dia katakan. Saya membencinya.

Satu hari, entah kenapa waktu kami kembali bersinggungan. Indonesia ini luas dan sekali lagi saya bertemu dengan dia, di sebuah mall. Dia menyapa saya duluan. ‘Kamu Windy kan?’

Saya mengamati lelaki yang menyapa saya. Potongan-potongan kejadian ketika seragam kami masih merah-putih bermunculan. Saya tahu, dia teman sekolah saya itu. ‘Aku Bobby! Teman sekolah kamu waktu di Manado.’

Tak usah diingatkan, saya tahu. Tapi, saya memilih menjawab, ‘Maaf, kamu yakin kamu teman saya?’

Saya melihat kilat kebingungan di wajahnya. Teman yang ada di sampingnya menowel, ‘Salah orang kali. Lihat cewek manis aja lo langsung ngaku-ngaku temannya.’

‘Kamu Windy kan? Saya ingat tahi lalat di dagu kamu. Kita teman SD.’

Saya ingat tanpa perlu diingatkan. Tapi, sekali lagi, saya menggeleng. ‘Maaf, saya tak yakin kita pernah berteman.’

Bobby menatap saya heran, saya tersenyum tipis lalu pergi dengan seringai puas. Sekarang, dia bilang dia teman saya. Iya, saya tidak sebaik orang lain. Saya membencinya dan menikmati balas dendam saya.

Waktu kuliah, teman lelaki saya juga mengolok-olok saya dengan bilang kalau sekujur tubuh saya dipenuhi tahi lalat makanya hitam. Pernah juga dibilang, ‘Kamu sih mau dandan kayak apa kalau hitam juga jadinya nggak cantik’.

Saya sebenarnya tersinggung. Kesal. Saya tidak pernah memilih berkulit gelap atau putih. Tapi, kalau marah, dibilang tidak asyik diajak bercanda. Kadang, keinginan untuk diterima membuat saya bertahan dengan bersikap baik-baik saja. Saya marah, tetapi malah yang keluar dari mulut saya selalu, ‘Biarin saja. Aku suka kok kulitku.’ Dan sampai sekarang, teman saya itu tetap tidak mengerti. Dia masih suka mengolok-olok saya sampai sekarang. Tapi, pemahaman saya sudah berubah 180 derajat. Hal seperti itu sudah tidak mengesalkan lagi. Saya justru kasihan dengan dia dan berharap anaknya tak perlu mendengar kalau bapaknya sering ngomong begitu.

Dan saya, sejak memasuki bangku kuliah, benar-benar menyukai warna kulit saya. Bahkan menghindari memakai krim pemutih atau produk kecantikan yang mengandung pemutih.

Saya memahami perasaan Adel, tetapi saya bingung menjelaskan kepada Adel tak ada yang salah dengan warna kulitnya.

‘Adel kan sering lihat orang warna kulitnya beda-beda?’ tanya saya.

Adel mengangguk. ‘Tapi mereka bukan orang Indonesia.’

Iya. Di Ubud, desa internasional—begitu julukan Rhys, teman saya asal Australia, mudah menemukan orang asing dengan beragam suku bangsa, warna kulit, warna bola mata, dan warna rambut. Adel sejak kecil terbiasa dengan perbedaan itu. Namun, ketika ia kembali ke lingkungannya, Adel justru diolok-olok karena warna kulitnya.

Keesokan harinya, Adel sudah tak lagi ribut minta dibelikan krim pemutih, tetapi seharian dia mendekam di rumah teman saya. Ketika diajak main oleh teman-temannya, Adel menolak, dia tidak mau terkena sinar matahari, takut hitam. Saya sempat singgah ke Periplus, menemukan sebuah majalah yang di dalamnya ada model-model berkulit gelap. Saya membelinya dan menunjukkan itu ke Adel.

‘Mereka cantik kan?’

‘Mereka bukan orang Indonesia. Kalau orang Indonesia memang bisa masuk TV dan majalah?’ Adel balik bertanya.

‘Bisa.’ Saya berusaha meyakinkan

‘Adel tidak pernah lihat ada di TV. Yang di iklan semuanya putih.’

Teman saya menyahut, Adel sebaiknya tidak usah lagi ke rumah tetangga untuk menonton TV. ‘Adel kan lihat, kulit Windy juga cokelat.’

Adel melihat ke saya. ‘Iya, tapi orang-orang itu tidak bilang Windy jelek. Bu Agung juga sering bilang Windy cantik.’ Yang dimaksud Adel orang-orang itu adalah para tetangga. Bu Agung adalah salah satunya.

‘Menurut Adel, aku cantik?’ Saya melihat Adel. Saya pikir, saya tak perlu model di majalah untuk membahas masalah ini. Menjadikan saya sebagai contoh justru lebih realistis buat Adel.

Adel yang biasanya memanggil saya dengan nama saja itu mengangguk. ‘Padahal warna kulit saya sama seperti Adel. Tidak putih.’

‘Windy dulu main di sawah? Panas-panasan juga tidak?’

Saya mengangguk. Saya bilang, sampai sekarang saya masih main di sawah. ‘Kan kita nangkap capung dan main layang-layang bareng, Del….’

Adel menepuk jidatnya. ‘O, iyaaa!’ Ia tersenyum lebar hingga gigi-gigi susunya yang berwarna putih terlihat. ‘Tidak takut hitam?’

Sekali lagi saya menggeleng. ‘Tidak. Ya, sehabis main, rajin mandi biar bersih dan tidak bau.’ Saya tahu Adel, sama seperti kebanyakan anak kecil, suka susah disuruh mandi.

Adel loncat dari sofa. Ia berdiri di depan cermin yang diletakkan dekat tangga. ‘Apa lagi?’

‘Makan buah dan sayur.’ Teman saya menyahut, Adel susah kalau disuruh makan sayur. ‘Biar kulitnya halus dan sehat, Del.’

Gadis kecil itu mengerling, dia lalu menghampiri saya. Tangan kurusnya berusaha menggapai pipi saya. Saya membungkuk, membiarkan Adel merabai kedua pipi saya. Kembali ia tersenyum lebar, lalu dalam sekejap, dia berlari memburu ke arah pintu depan.

Kami terkejut. ‘Loh, Adel mau ke mana?’ Teman saya berteriak memanggil Adel.

‘Main!’

***

Adel tidak pernah lagi merengek minta dibelikan krim pemutih. Juga tidak lagi meributkan warna kulitnya. Adel kembali bermain bersama teman-temannya. Saya senang melihat anak-anak beragam bangsa, warna kulit, warna rambut, dan warna bola mata itu bermain. Berkejar-kejaran. Mereka bicara dalam beragam bahasa. Inggris, Indonesia, Bali. Campur aduk. Anehnya, mereka seperti saling paham.

Kadang, orang dewasa yang justru lebih sulit menerima perbedaan dibanding anak-anak kecil. Komentar-komentar dan cara pikir orang dewasalah yang justru membuat kebijaksanaan mereka runtuh. Lenyap.

Satu sore, Adel tiba-tiba menghampiri saya yang sedang duduk di tepi lapangan depan pura, menonton mereka bermain layangan. ‘Windy, kata Wayan kamu cantik. Dia suka kamu,’ bisiknya sambil melirik ke arah Wayan yang sedang berada di tengah lapangan, hendak menerbangkan layangan.

Wayan, teman main Adel yang berusia setahun lebih muda darinya. Saya ikut mengerling ke arah Wayan. Wayan menatap kami dari kejauhan. ‘Adel, ayo, kamu pegang layangannya!’

Adel menyeringai puas, melemparkan tatapan penuh arti sebelum berlari ke tengah lapangan, menghampiri Wayan. Sebuah rahasia antarperempuan telah dibagikannya. Kali ini, saya yang menepuk jidat, menirukan gaya Adel. [13]

*) untuk kenyamanan, semua nama disamarkan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kisah Seorang Gadis Cilik yang Ingin Berkulit Putih". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Windy Ariestanty | @windyariestanty

a writer who falls in love with places she hasn't been yet and people whom she hasn't met yet. she prolongs her memories by writing her daily life on windyariestanty.com, tweeting on @windyariestanty, and posting pictures on instagram @windy_ariestanty.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar