1.2K
Suatu kali, asisten rumah tangganya sakit. Ternyata, menurut dokter, asisten rumah tangganya itu sakit jantung dan tidak boleh kerja keras.

Aku sedang WhatsApp-an dengan sahabatku, Gunawan Tjahjadi, saat ia menyinggung soal asisten rumah tangganya yang berhenti karena akan menikah setelah 29 tahun terus bersama keluarganya.

Aku menaruh rasa hormat yang sangat dalam terhadap orang-orang yang mampu mempertahankan asisten rumah tangganya selama itu. Ini artinya, mereka orang-orang yang memperlakukan dan merawat asisten rumah tangga mereka dengan baik.

Aku jadi teringat pada kawanku, Edith Loupatty-Umboh. Pertama kali aku berkunjung ke rumahnya beberapa tahun lalu, salah satu hal yang menarik perhatianku adalah foto dua anak laki-laki di ruang tamunya. Keduanya memakai busana Muslim.

“Itu cucuku,” jelas Edith waktu aku bertanya tentang foto itu.

What? Setahuku Edith hanya punya seorang anak, Myrna, yang saat itu masih kuliah. Cucu dari mana? Jangan-jangan Myrna sudah menikah dan suaminya Muslim? Ternyata, kedua anak itu, Ujang (13) dan Ardhi (10), adalah anak Titi, asisten rumah tangga Edith.

“Kok, kamu mau merawat mereka?” tanyaku.

No, no, no! Terbalik. Titi—mereka—merekalah yang merawat saya,” tukas Edith. “Titi itu ibu kedua bagi Myrna. Ujang and Myrna juga sangat akrab. Mereka menyukai hal sama atau sebaliknya."

Edith lalu bercerita bahwa Titi mulai bekerja di rumahnya saat Myrna baru berusia 7 bulan. Titi lalu menikah dan setelah menikah, tetap tinggal bersama Edith beserta suaminya. Bahkan setelah Titi kemudian mempunyai dua anak.

Edith dan suaminya, Jozef, benar-benar memperlakukan Titi sebagai anggota keluarga. Kami, teman-teman Edith dan Jozef pun, secara tak sadar sudah menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga Edith. Edith dan suaminya juga membiayai sekolah Ujang dan Ardhi, dan memenuhi semua kebutuhan mereka. Termasuk kebutuhan untuk rekreasi.

Edith mirip dengan salah seorang sepupuku, Ceu Rini.

Hal menonjol di ruang tamu Ceu Rini yang besar adalah foto dan lukisan seorang perempuan tua yang dipajang di sana. Orang yang tidak mengenalnya dekat, bakal mengira itu foto ibunya. Ternyata itu foto Emeh (bahasa Sunda berarti “mamih” - mami, mommy)--asisten rumah tangganya.

Ketika Emeh sudah lanjut usia, Ceu Rini memboyong Emeh ke rumahnya dan merawatnya layaknya seorang anak merawat ibu kandungnya. Bila Emeh harus memeriksakan diri ke dokter, Ceu Rini sendiri yang menemani, bukan salah seorang karyawannya (Ceu Rini seorang pengusaha) atau supirnya.

Yang tak kalah hebat adalah kawan saya, Ratna Syahnakri.

Suatu kali, asisten rumah tangganya sakit. Ternyata, menurut dokter, asisten rumah tangganya itu sakit jantung dan tidak boleh kerja keras. Orang lain mungkin akan segera memberhentikan asisten rumah tangga itu atau memulangkan dia ke kampungnya, karena sudah tak bisa bekerja maksimal lagi. Tapi, tidak demikian dengan Mbak Ratna.

“Yah, pembantu kok nggak boleh kerja keras. Jadi, ya sudah, gue, deh, yang ngerjain yang berat-berat, termasuk ngepel. Biarlah dia bantu pekerjaan yang ringan-ringan saja,” kata Mbak Ratna ringan.

Edith, Ratna, Rini: mereka adalah tiga malaikat yang aku kenal. God bless you.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kisah kawan-kawanku dan Asisten Rumah Tangga Mereka.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Lela Madjiah | @lelamadjiah

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar