1K
Menyelamatkan hubungan yang kandas itu seperti menyelamatkan bangunan yang hampir runtuh. Ada kemungkinan, dalam prosesnya, kamu terluka. Tertimpa puing--bahkan mati, tapi setidaknya kamu tak mati penasaran.

“Hati-hati dengan bangunan yang kamu masuki. Bangunan yang hampir runtuh bisa roboh kapan saja!”

Saya ingat pesan seorang teman dulu--ketika kami bicara soal hubungan. Dulu sekali, ketika saya berada di posisi berbahaya itu.

Tentu saja, ketika itu saya tak percaya.

Lalu benar saja dugaannya. Akhirnya bangunan bernama hubungan itu roboh.

Saya?

Saya tertimpa, tetapi selamat. Patah di beberapa sisi, tetapi terobati waktu.

Kata-kata teman saya itu akhirnya selalu saya ingat dan sematkan dalam hati. Moga-moga lain kali saya lebih eling menimbang. Begitu pikir saya.

Lalu suatu siang, seorang teman menceritakan kisah-kasih sahabat kami yang jika diumpamakan seakan hidup segan mati tak mau. Pasalnya, dia kesal dengan betapa bebal dan kuatnya sang sahabat menghadapi segala hal negatif yang dilakukan sang pasangan. Atas nama saya mencintainya, dia bertahan dan mencoba menutup mata dengan fakta-fakta dari sekeliling: tentang kebohongan dan pengkhianatan, tentang kehambaran dan ketakpedulian yang ditutupi kesibukan tak terdasar.

“Kami bahagia. Kalian aja yang nggak tau,” begitu kilah sang sahabat. Mendengar kisah ini, serta-merta saya teringat kembali tentang perumpamaan bangunan.

Mungkin benar adanya.

Sebuah hubungan itu seperti sebuah bangunan. Ketika bangunan itu--karena satu dan lain hal--terobrak-abrik badai dan hancur, proses penyelamatan bangunan rusak ini butuh keberanian dan kekuatan besar. Butuh diingat: bangunan runtuh yang coba dibenahi ini bisa roboh kapan saja.

Di akhir cerita, saya hanya berkata, “Biar, biar dia tuntaskan...”

Kita semua tahu betapa banyak hal 'bodoh' yang dilakukan manusia atas nama cinta. Kita juga tahu seberapa banyak hal indah yang dilakukan manusia, juga karena cinta. Saya selalu meyakini satu hal: ketika menyoal hati, jangan sampai kamu meninggalkan sesal ketika mati.

Sebagai teman, saya hanya akan memastikan siap menyediakan ambulans termutakhir. Akan saya parkir di dekat bangunan yang (jelas-jelas) akan roboh itu. Saya tak akan menahan sahabat memperjuangkan hati, biar tuntas saja segalanya, semampunya. Karena saya tahu, desahan andai-saja-dulu lebih menyakitkan ketimbang melakukan hal-hal yang terlihat super bodoh di mata orang lain.

Buat para perempuan yang sebegitu keras berusaha menahan fondasi bangunannya, saya sampaikan salam salut. Saya hanya bisa berpesan: hai, perempuan tangguh, hati-hati selalu dengan hatimu. Semoga Semesta memberimu yang terbaik. Apapun hasil akhirnya, perjuangan itu pasti jadi pelajaran berharga, dan jadi cerita yang akan mewarnai kehidupanmu di depan sana.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Menyoal Hati, Jangan Sampai Kita Meninggalkan Sesal Ketika Mati.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar