932
Jika kamu memilih untuk membaca artikel ini, mungkin kamu tengah berada dalam situasi yang sama sekarang. Kamu tahu benar kan, bagaimana rasanya menyaksikan seseorang—yang dulu menjadi orang penting dalam hidupmu—terlihat lebih berbahagia bersama orang lain?

Saya tahu anatomi perasaan itu.

Saya tahu tiap detailnya. Saya berada dalam situasi ini beberapa tahun lalu.

Kamu merasa begitu kecil, dunia ini seolah menganggapmu tak ada (dunia yang dimaksudkan di sini tentu saja dunia dalam mata lelakimu). Semua hal di sekelilingmu jadi kehilangan arti. Kini lelakimu lebih berbahagia dengan orang lain. Orang lain yang bukan dirimu.

Harga diri kita seperti terperosok masuk ke dasar jurang. Kita bertanya pada diri sendiri, “Mengapa dia lebih bahagia sekarang?”

Apa yang salah dengan diri saya?
Apa yang dia pikirkan?
Mengapa saya tak bisa membuatnya bahagia, dan membuatnya tetap tinggal?
Mengapa perempuan lain itu, yang tak pernah saya perhitungkan sebelumnya, bisa membuat dia lebih bahagia?
Uh, lihat saja, dia seperti wanita murahan. Memamerkan dada dan wajahnya seperti itu. Memuakkan! Kenapa, sih? Standar lelaki itu ternyata serendah itu?
Uh, kenapa dia pergi? Dia yang rugi karena meninggalkan saya. Saya benci perempuan itu!

Masih banyak lagi pikiran buruk dan gerutuan bodoh yang saya katakan pada diri sendiri untuk membuat diri saya merasa lebih baik (meski hanya untuk sementara).

Hingga, dua bulan kemudian, saya mengetahui semua jawaban dari mengapa-mengapa yang saya tanyakan itu: ini bukan tentang saya. Ini bukan tentang perempuan itu. Ini juga bukan tentang lelaki itu.

Ini cuma masalah pilihan.

Saya tidak akan pernah bisa memaksa seseorang untuk merasa sepenuhnya cocok dengan saya. Kalau ia memilih orang lain, itu bukan karena ia punya ‘standar yang rendah’, juga bukan karena perempuan yang baru itu lebih baik dari saya.

Ini hanyalah pilihan. Pilihan yang ia ambil. Dan saya tidak dapat mengendalikan pilihannya (atau pilihan orang lain).

Ia pantas mendapatkan seseorang yang cocok dengan seleranya. Jelas tak ada yang salah dengan hal ini. Dan ini juga tak ada hubungannya dengan apa yang saya miliki (atau tidak miliki) dalam diri saya. Bagaimanapun, keputusan untuk berpisah ini kemudian bukanlah tentang siapa yang lebih baik dari siapa atau semacamnya.

Ini sesederhana karena saya dan lelaki saya itu sudah tak lagi cocok untuk satu sama lain, atau kami bosan, atau kami jenuh terhadap satu sama lain, atau mungkin di alam bawah sadar, kami membenci satu sama lain, mungkin kami tak punya apa-apa lagi yang tersisa untuk dijadikan pegangan. Intinya: hubungan kami tidak berjalan. Titik.

Kebetulan saja, lelaki saya menjadi orang yang menyadari hal ini lebih dahulu. Dan untungnya, ia bertemu dengan seseorang yang baru lebih lekas dari saya. Sementara itu, saya masih berpegangan erat-erat pada perasaan saya mengenai hubungan kami di masa lalu. That’s why.

Saya tak mengatakan bahwa saya ini gila kendali atau control freak, tapi memang, seringkali saya berharap saya bisa mengendalikan segala hal di sekitar saya. (I know, right). Ini tentu saja jadi masalah besar. Tapi kemudian saya menyadari bahwa satu hal yang bisa saya kendalikan di dunia ini adalah diri saya sendiri, pilihan-pilihan saya, dan pikiran-pikiran saya.

Sejak menyadari hal ini, saya menerima kenyataan bahwa perempuan yang baru itu memang sangat menarik. Saya mulai mengerti mengapa mantan saya tertarik padanya, dan akhirnya jatuh cinta. Sesungguhnya, dalam banyak hal, perempuan itu mirip dengan saya. Hanya saja, ia lebih cocok dengan mantan kekasih saya.

Dan tentang ego saya yang mengatakan bahwa ia murahan dan di luar hitungan? Saya sepenuhnya salah. Ini bukan tentang dia, bukan tentang saya, dan bukan tentang mantan kekasih saya. Ini hanya masalah pilihan.

Ini adalah pilihan mantan kekasih saya untuk merasa lebih berbahagia dengan perempuan lain. Ini adalah pilihan perempuan itu, untuk menjadi bahagia dengan mantan kekasih saya. Adalah saya yang memilih penderitaan ini karena bertahan untuk melekat pada hubungan yang sudah selesai.

Saya bisa saja sudah bersama seseorang yang lebih cocok bagi saya, jika saya menginginkannya.

Dan saya juga mungkin bisa lebih berbahagia dengan orang lain, sama seperti mantan kekasih saya itu. Tapi saya tak memilih jalan ini, jadi... memang tak ada yang bisa saya salahkan selain diri saya sendiri. Derita yang saya alami adalah apa yang saya pilih untuk saya rasakan.

Butuh waktu bagi saya menerima semua ini.

Mereka bilang, waktu itu menyembuhkan.

Ini separuh benar.

Separuhnya lagi, seringkali, bergantung pada momen-momen kesadaran seperti ini.

Saya menyebutnya: penerimaan.

Penerimaan adalah perasaan yang luar biasa, bukan hanya karena ia membuatmu merasa lega, tapi juga karena ia membebaskanmu sehingga kamu bisa memulai bab baru dalam hidupmu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketika Lelakimu Lebih Berbahagia Dengan Wanita Lain.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Fujiwiryani Utami | @fujiwiryaniutami

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar