6.4K
Apakah kita kehilangan diri sendiri ketika berupaya menjadi pribadi yang diinginkan pasangan kita?

Seberapa Banyak Bagian Jiwa Kita yang Hilang Tanpa Kita Sadari?

Saya sadar, sebagai manusia, saya memiliki jiwa dalam raga. Jiwa yang perlu dirawat dengan baik, yang mengisi relung hati saya, dan menjadikan saya pribadi yang unik--dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya, dengan segala hal yang saya sukai atau kurang saya sukai, dengan kebiasaan-kebiasaan saya, dengan pandangan-padangan dan pemikiran-pemikiran saya, dengan cara saya menjalani dan menyikapi hidup...

Saya bisa menengok ke dalam diri, merasai jiwa saya, dan berkata: "Ya, ini saya."

Namun, begitu memiliki pasangan, ada sesuatu yang berubah di dalam diri. Ketika dengan segenap hati, saya mulai mencurahkan segala daya upaya untuk memberikan 'yang terbaik' yang diinginkan pasangan saya, untuk membuat pasangan saya nyaman dan bahagia menjalani kehidupan bersama-sama. Saya begitu bersungguh-sungguh dalam memastikan bahwa saya menjadi pribadi yang diinginkan pasangan saya: tanpa menyadari bahwa saya telah meninggalkan bagian-bagian jiwa yang telah lama ada bersama saya.

Saya tak menyadarinya hingga suatu hari saya terbangun dan menyadari bahwa segalanya baik-baik saja, namun saya merasa hampa. Seperti ada yang salah. Saya seperti bukan diri saya lagi, seutuhnya.

Menyalahkan Pasangan Atas Kehampaan yang Kita Rasakan.

Kehampaan itu, kemudian sering kita rasakan sebagai ketidakbahagiaan, kegelisahan, ketidaktenteraman dalam hati. Kita pun mulai menyalahkan pasangan atas perasaan-perasaan ini. Kita merasa bahwa pasanganlah yang telah 'menuntut kita berubah', dan sebagai balasannya, kita kemudian berpikir bahwa kita bisa menuntut mereka melakukan hal yang sama: menyerahkan segenap jiwa dan kehidupan mereka untuk melebur bersama.

Biasanya, justru saat inilah kita kemudian merasakan kekecewaan ketika pasangan tak bisa menjadi sepenuhnya seperti apa yang kita harapkan. Atau, ketika pasangan menolak menjadi seperti apa yang kita inginkan. Kita merasa sedih, ditolak, dan hampa. Kita merasa telah menjadi satu-satunya pihak yang 'telah berkorban' demi pasangan. Kita merasa tak dihargai. Merasa terluka. Merasa 'dimanfaatkan'.

Sesungguhnya, Ketenteraman Jiwa Ada dalam Genggaman Tangan Kita

Hanya kita yang bisa menjaga ketenteraman hati, membahagiakan, dan merawatnya baik-baik--bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri.

Upaya menumbuhkan kebahagiaan dalam sebuah hubungan bukan berarti harus ditempuh dengan mengubah diri kita untuk menjadi gambaran pasangan ideal seperti yang pasangan kita inginkan. Upaya menumbuhkan kebahagiaan dalam sebuah hubungan, sesungguhnya, bisa dilakukan dengan terus meningkatkan kualitas diri kita untuk menjadi lebih dekat pada gambaran diri ideal sebagaimana yang selalu KITA inginkan.

Perubahan baik pada diri adalah perubahan yang kita inginkan, demi kebahagiaan dan ketenteraman jiwa kita sendiri. Biarkan jiwa kita menemukan ritmenya sendiri, dan jiwa pasangan kita menemukan ritmenya sendiri, lalu kita amati bagaimana ritme kita dan pasangan dapat berjalan dengan selaras--berdua, maupun sendiri-sendiri.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ketenteraman Jiwa dalam Hubungan Berada dalam Genggaman Tangan Kita.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

bestari prameswari | @bestariprameswari

Wife and mom for her family Passion in writing and cooking

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar