2.8K
Karena simpul-simpul kebahagiaan ada di mana saja, mari berbahagia

Para perempuan, siapa yang setiap pagi memiliki sejibun kewajiban yang harus dilakukan?

Mencuci tumpukan piring, panci, dan wajan kotor. Menyiapkan sarapan, baju kerja suami, memandikan bayi dan anak, menyiapkan bekal anak. Belum lagi kalau yang masih tinggal dengan orang tua atau ketiban sampur untuk ngerawat lansia. Mulai dari memandikan, membersihkan kotorannya, menyuapi, yang kadang masih disertai dengan omelan-omelan yang menguji kesabaran.

Percayalah, kita adalah makhluk yang dipilih untuk menjalani peran ini.

Lelah dan penat itu pasti ada. Saya pribadi merasakan sebagian di antara tugas-tugas di atas. Di sela-sela pontang-panting di pagi hari, menyempatkan menanyakan kepada suami "Mas, mau dibuatkan teh?" atau menawarkan makanan yang kita buat untuk sarapan adalah kunci. Kunci dari keberlanjutan hari saya.

Mengapa saya sebut kunci?

Karena di sinilah letak kebahagiaan pagi yang bisa berlanjut sebagai dopping dalam melakukan tugas dan tanggung jawab pekerjaan seharian. Agak berlebihan mungkin bagi yang lain. Tapi, bagi saya, anggukan disertai senyuman dan ekspresi terima kasih itulah sejatinya kebahagiaan.

Bagi saya, pandangan seorang suami yang tak luput dari gadget, sibuk sendiri dengan dunianya dan jawaban: terserah; bisa terasa sangat menyakitkan.

Apakah saya pernah menemui jawaban dan sikap suami seperti ini? Jawabannya: PERNAH. Dan seperti yang saya bilang, itu menyakitkan. Saya kadang langsung nglokro sejenak. Merasa tidak dihargai, tak lebih berarti dari gadget.

Untuk mengembalikan kunci kebahagiaan sepanjang hari, saya berusaha mengingat lagi kepada peran saya. Peran yang saya pilih sebagai perempuan: sebagai seorang pribadi yang mandiri, sebagai cucu, anak, ibu, dan istri. Selesai urusan pagi di rumah, kita harus menyelesaikan urusan kantor (bagi kita yang bekerja) atau urusan rumah tangga selanjutnya. Tanggung jawab yang kita laksanakan itu, buat saya, indah.

Simpul kebahagiaan ada di mana-mana, maka saya berusaha mempersiapkan diri untuk berbahagia. Bahkan di tengah semua kesibukan dan peran-peran itu.

Saya mencoba mensyukuri setiap perbuatan saya di pagi hari: sarapan yang terhidang, rumah yang bersih, anak-anak yang siap, suami yang siap bekerja mencari nafkah untuk keluarga, nenek yang sudah rapi, bersih, dan kenyang. Saya niatkan untuk melakukan semua kepontang-pantingan itu dengan penuh cinta.

Tersenyumlah di pagi hari, dan bersiap untuk menjalani tugas dan tanggung jawab kita selanjutnya. Karena terkadang, tugas dan tanggung jawab itu menyimpan kebahagiaan untuk kita, ketika dijalani dengan penuh cinta.

Simpul-simpul kebahagiaan ada di mana saja. Selamat berbahagia!



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kesibukan di Pagi Hari dan Kebahagiaan Kita.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Yunita Fauziah | @yunitarahma

Mencintai tanpa lilin.. mencintai seperti lilin... Bukan untuk terbakar kemudian habis, mati... sendiri

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar