590
“Aku pernah ngelakuin kesalahan besar dan bikin orang sakit hati,” kataku pada seorang teman.

“Aku pernah ngelakuin kesalahan besar dan bikin orang sakit hati,” kataku pada seorang teman.

Setelah itu aku mulai menceritakan pengalaman itu padanya. Sebuah pengalaman yang bagiku termasuk dalam pelanggaran besar atas prinsip yang aku yakini sendiri, dua tahun lalu. Terlepas dari apa dan bagaimana sebabnya, tindakanku saat itu adalah sesuatu yang sulit untuk aku maafkan sendiri.

Kok bisa ya, kamu santai banget cerita ini," kata temanku setelah cukup lama kami berbincang.

Aku tertawa.

Lebih tepatnya menertawakan keterusteranganku pada teman yang sebenarnya tidak terlalu dekat denganku. Ia hanya teman sekelasku, bukan sahabat yang dapat dengan mudah aku bagi rahasia-rahasia kecilku.

Aku sendiri heran kenapa aku terdengar begitu mudah untuk bercerita. Seolah apa yang aku lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Seolah yang aku lakukan tidak pernah membuatku begitu merasa bersalah.

Nyatanya, aku ingat bagaimana kesalahanku ini benar-benar membuat beberapa bulan hidupku terasa tidak mudah untuk dilalui.

Pernyataan temanku itulah yang membuatku kembali merenung dan menuliskan cerita ini. Pada akhirnya, aku menyadari bahwa aku sudah menerima kesalahanku. Aku sudah mau mengakui bahwa apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Hal inilah yang membuatku menjadi lebih mudah saat aku dihadapkan lagi oleh ingatan atas kejadian dua tahun lalu.

Aku ingat bahwa di bulan-bulan pertama, aku menangis.

Bukan untuk mengakui kesalahan tapi justru menolak untuk disalahkan. Aku memilih untuk mengkambinghitamkan keadaaan dan menyalahkan orang lain.

Di awal tahun 2017 ini, aku mulai mengakui bahwa apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan. Aku mulai mengakui bahwa aku memang bisa menjadi orang yang jahat dan itu adalah sisi lain dari diriku. Aku mulai menerima bahwa apa yang sudah rusak tidak bisa dikembalikan menjadi bentuk semula.

Mengutip pernyataan dari seorang dosen di kelas:

“Kita perlu berprasangka baik terhadap semua pengalaman yang hadir beserta emosi yang singgah di dalamnya.”

Inilah yang sedang aku lakukan sekarang.

Menyadari pengalaman itu dan menerimanya baik-baik. Aku jadi sadar bahwa sebenarnya, aku selalu memiliki pilihan untuk tindakan dan keputusan yang akan diambil. Dan pilihanku saat itu adalah yang terbaik versi ‘aku di masa lalu’.

Terkadang ada perasaan malu dan kecewa yang muncul saat mengingat hal-hal yang terjadi di belakang. Tetapi aku sadar bahwa aku yang sekarang sudah berbeda dengan aku di masa lalu. Aku yang sekarang adalah aku yang belajar dari pengalaman.

Ya, pada akhirnya aku paham bahwa sebaik-baik pengalaman, adalah pengalaman yang mendewasakan.

Tidak ada kesalahan yang baik, tapi setidaknya dari kesalahanlah aku ditempa menjadi lebih dewasa.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kesalahan Terbesar yang Pernah Aku Lakukan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Nisrinays | @nisrinaputri

A mellow real life writer at putrinisrina.blogspot.com.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar