8.3K
Saya tahu, hidup tak sesederhana kelihatannya--walau kita butuh memaknai hal-hal sederhana untuk mampu melewatinya. Sebagai teman yang sama tak berpengalamannya, yang sama-sama masih meraba-raba tentang hidup, saya hanya ingin mengingatkanmu. Kawan, siapa yang tak pernah jatuh? Bukankah malaikat juga dikisahkan jatuh dari surga?

Pernah merasa dunia seperti bersekongkol dan memojokkanmu di sudut?

Menenggelamkanmu ke bawah hingga tak ada lagi dasar yang lebih rendah? Semua orang rasa-rasanya pasti pernah ada di fase ini. Diakui atau tidak.

Akhir-akhir ini, beberapa cerita sedih menemukan jalannya menuju telinga saya. Dari teman, saudara, sahabat... dari mana saja. Hampir semua berkisah tentang pilihan yang tak seindah bayangan, tentang impian yang tak sejalan dengan kenyataan, tentang kesempatan yang tak lagi miliknya, tentang waktu yang tak akan berputar kembali.

Tentang momok besar yang bernama: kesalahan.

Hai teman, manusia mana yang tak pernah jatuh?

Tentang kepelikan hidup, saya pun tak mengerti banyak. Saya tahu, hidup tak sesederhana kelihatannya--walau kita butuh memaknai hal-hal sederhana untuk mampu melewatinya. Sebagai teman yang sama tak berpengalamannya, yang sama-sama masih meraba-raba tentang hidup, saya hanya ingin mengingatkanmu.

“Pilihan atau kesalahan apapun yang telah kamu lakukan di masa lalu, tak akan mengurangi esensi dirimu."

Tak peduli apapun alasanmu untuk memilih jalan tersebut, tak ada seorangpun yang berhak menghakimimu. Ini jalanmu, ini pilihanmu, ini hidupmu. Hanya ingatlah, setiap tindakan punya konsekuensi yang disukai ataupun tidak.

Oh, saya pun masih butuh diingatkan untuk hal ini, lagi dan lagi. Untuk bisa rela dan menerima segala kesalahan yang telah terjadi sebagai bagian dari dirimu.

Kesalahan itu pelajaran bukan penyesalan, berdamai dengannya. Kamu orang pertama yang pantas memaafkan dirimu.

Karena seperti kata Soren Kierkegaard, “Life can only be understood backward, but it must be lived forward.”

Banyak hal yang hanya mampu kita mengerti setelah kita melangkah dan terjatuh ke dalamnya.

This has been three years. I’ve wasted three f*cking years...” demikian buncahan emosi salah satu teman ketika bercerita.

Tanpa banyak pikir saya bekarta, “Mana yang lebih baik: tiga tahun saja menjalani hidup yang tertekan; atau seumur hidupmu?”

Pertanyaan yang membuatnya menangis lebih kuat.

Saya tahu satu hal, pelajaran punya harga masing-masing yang harus dibayar. Satu atau lebih pelajaran paling berharga dalam hidup biasanya berbayar waktu: entah sepersekian menit, satu jam, setengah hari, 3 tahun, atau bahkan menuntut seumur hidupmu.

Saya bukan siapa-siapa dan tentunya tak pernah tahu hal paling benar apa yang sesuai untuk orang lain. Jujur saja, hingga saat inipun, saya belum tahu pasti apa yang sama mau. Hal yang saya lakukan adalah mengeliminasi setiap hal yang tidak saya inginkan terjadi di hidup saya.

Alih-alih menemukan hal yang saya inginkan, saya memilih menjauhkan diri dari hal-hal yang tak saya inginkan. Membuangnya jauh, meletakkannya di luar garis pilihan.

Harapan saya sederhana.

Ketika pilihan di depan semakin sedikit, semoga saya akan lebih mudah menyadari apa yang saya mau.

Dalam hidup ini kita semua sama-sama sedang berlayar di tengah lautan kehidupan. Kompas siapa yang paling benar? Jawabnya, tak ada. Jika arah yang kamu ambil salah, jangan malu dan takut untuk berbalik. Waktu hidup itu singkat, temukan arah lain.

Kamu tak pernah menjadi kurang dari dirimu hanya karena melakukan jalan memutar. Justru kamu punya pengalaman dan pemandangan yang mungkin tak pernah dilalui orang lain.

Tulisan ini didedikasikan untuk semua perempuan yang sedang menakar pilihannya. Kawan, sekali lagi saya katakan. Manusia mana yang tak pernah jatuh?




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kesalahan Masa Lalu Tak Mengurangi Esensi Dirimu Saat Ini, atau Nanti.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

imsolucky shop | @imsoluckyshop

nice nice nice nice

Annez Zeptin | @anaseptinr

Setiap orang pasti memiliki pikihannya masing2. Dan memang kita tdk berhak menghakimi orang lain krn kita sendiri blm tentu baik. Berusaha memandang dr bnyak sudut pandang orang lain akan menambah kekayaan hati kita