3.4K
Bisakah kita melihat sesuatu yang berbeda di tengah kesemrawutan jalanan yang tidak ada habisnya?

Sebagai pekerja di Ibu kota, saya--dan mungkin juga kamu; kita terbiasa sekali dengan kemacetan dan ketidakteraturan di jalan. Entah jalan raya atau gang sempit, dua-duanya bisa menjadi sumber kemacetan yang tidak selesai. Kadang-kadang, saat berada di tengah kemacetan, saya sempat berpikir: apa yang dirasakan orang-orang yang mengalami kemacetan setiap harinya, ya? Apakah waktu commuting mereka sebanding dengan apa yang mereka dapatkan?

Tidak hanya jam kerja, bahkan saat waktu tertentu, pada dini hari misalnya, ketika ada sesuatu yang tidak beres, macet beratus-ratus meter pun bisa terjadi. Peraturan tentang plat nomor ganjil-genap bahkan tidak bisa mengurai kemacetan ibukota yang semakin hari membuat kita semakin ingin mengelus dada.

Saat sedang macet, pengemudi kendaraan terkadang suka saling menyenggol satu sama lain. Bunyi klakson yang nyaring sering bersahutan, padahal sudah jelas-jelas kendaraan sama sekali tidak akan maju walaupun pengemudi terus menekan klakson.

Mengendarai motor sebenarnya bisa menjadi alternatif lain untuk menghindari macet, tapi bukan menjadi solusi jangka panjang yang solutif menurut saya. Jumlah kendaraan motor semakin banyak, tapi tidak diimbangi dengan mental pengemudi yang bijak. Hal ini malah menambah masalah baru. Dan yang pasti, semakin menambah kemacetan lainnya.

Saya bahkan sempat berpikir: bisa jadi emosi orang-orang yang menjadi pekerja di Jakarta jadi tidak stabil karena selalu berjibaku dengan kemacetan seperti ini. Kita terbiasa bergegas dengan waktu yang begitu cepat habis, tapi tidak bisa berkutik bila tahu-tahu kendaraan 'terparkir' di tengah jalan karena tidak bisa bergerak sama sekali.

Bukankah begitu yang sering kita rasakan?

***

Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur.

Saking terbiasanya dengan macet, kita sudah tidak terlalu memedulikannya lagi. Ya, mau bagaimana lagi, kan? Jakarta memang selalu macet hampir setiap waktu! Alasan datang terlambat karena macet pun sudah menjadi hal yang dimaklumi dan gampang ditoleransi karena jalanan memang bisa tertebak.

Ketika menghadapi kemacetan, apa yang biasanya kita lakukan? Sebagian dari kita mungkin akan mengambil telepon pintar, menuliskan status di media sosial, merutuki macet dengan memukul-mukul setir mobil, menyalakan radio, mendengarkan musik, membeli makanan atau minuman yang ditawarkan oleh pedagang asongan yang berjalan di sekitar kita, dan mungkin berbagai hal akan kita lakukan untuk mengabaikan kemacetan di depan mata.

Namun, sebenarnya ada banyak kejadian di sekeliling kita saat berada dalam kemacetan. Kita hanya perlu membuka mata lebar-lebar dan tidak usah banyak berpikir. Ya, rilekskan diri sejenak dan santai saja dulu.

Bisa jadi di samping kiri mobilmu, ada sepasang muda-mudi yang sedang berboncengan motor. Si perempuan memeluk laki-lakinya dari belakang dengan mesra. Mungkin itu pemandangan yang biasa, atau kemungkinan mereka berdua sedang berada dalam posisi yang sedang tidak baik-baik saja, tapi tetap saling menjaga.

Lalu di depan kendaraan lainnya, di antara banyaknya pedagang-pedagang asongan yang menawarkan dagangan mereka, mungkin ada seorang anak yang berpakaian lusuh dengan wajah sayu mendekati kaca mobil dan meminta dagangannya untuk dibeli. Ada juga pedagang koran yang sudah malam pun masih menjajakan oplah yang beritanya sudah kedaluwarsa dan bisa kita baca di portal media online.

Di sebelah kanan, kamu bisa melihat petugas polisi yang sedang mengatur jalan, dan sesekali menilang kendaraan yang melanggar peraturan. Kerumunan pengemudi transportasi online yang sedang duduk di kursi trotoar dengan kepala yang menunduk pada ponsel mereka menunggu menjemput penumpang. Wajah mereka pun tidak kalah lelah dengan kita yang sedang berada di dalam mobil.

Dari belakang kaca spion dalam, kamu dapat melihat plat nomor kendaraan di depan kita yang ternyata bisa membentuk sebuah kata tanpa kita sadar, atau plat nomor dari luar kota (bukan yang depannya dengan huruf B) lalu kita menebak-nebak dari mana asalnya.

Detil bangunan yang tahu-tahu terlihat jelas walaupun kita sudah sering melewatinya. Ternyata ada ukiran di sekitar jendela dan pintu, misalnya.

Ternyata banyak sekali yang bisa kita lihat saat macet datang? Banyak hal-hal yang biasanya tak terlihat kemudian malah jadi terlihat: hanya karena kita 'dipaksa' berhenti sejenak. Begitukah juga dalam hidup? Apakah kita semua memang perlu berhenti sejenak supaya hal-hal yang tadinya tidak terlihat tak lagi luput dari perhatian kita?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kemacetan Mengajari Kita Tentang Berhenti Sejenak. Untuk Mengamati yang Biasanya Tak Terlihat.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Bella Zoditama | @bellazoditama

Saya hidup dengan kata-kata yang tertuang lewat tulisan. Sesekali memotret, membaca, dan menonton untuk menyeimbangkan hidup.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar