2.3K
Bukankah hidup perkara perayaan rasa? Mengapa harus menutupi jika sedang sedih, bukankah sedih--seperti bahagia, adalah hak semua orang?

Ketika Kakek Tua, adik dari opung boru—nenek dalam Bahasa batak-- meninggal karena sakit yang dideritanya selama bertahun–tahun. Saya beserta keluarga mengatur kepulangan ke kampung halaman mama, untuk ikut mengantarnya hingga ke pemakaman. Namun, mendapatkan tiket saat hari raya di akhir tahun tidaklah mudah. Keluarga saya yang tergolong besar harus sedikit bersabar mencari tiket agar bisa berangkat dalam satu pesawat menuju Pemantang Siantar, Sumatera Utara.

Sambil menunggu papa mendapatkan tiket, mama sudah memberikan kabar ke opung tak perlu menunggu kami jika harus dimakamkan cepat silakan saja. Namun, opung saya berseru melalui speaker telepon mama ‘Tak perlu buru-buru kau datang, tulang kau tidak mungkin langsung dimakamkan.’

Seruan itu sedikit membuat raut sedih di wajah mama berkurang, ia menghapus air mata sambil menutup telepon. Saya mengernyitkan dahi melihat papa tak setuju dengan ide tersebut, kedua orang tua saya memiliki latar belakang budaya dan kepercayaan yang berbeda. Papa yang kental dengan adat Jawa Islam, mengutamakan pemakaman dilakukan secepatnya. Hal ini tampak saat kakek saya meninggal beberapa tahun sebelumnya, keluarga kami langsung mengatur pemakaman di hari yang sama. Sehingga seruan opung saat itu cukup membuat papa tersentak.

Keesokan harinya kami pun menginjakkan kaki ke kampung halaman mama. Dari jarak 1km saya sudah mendengar keriuhan suara manusia-manusia dan sautan suara sulim—seruling dalam Bahasa batak— mengiringi suara merdu seorang laki-laki yang bernyanyi sedu bersautan dengan suara babi-babi yang tengah berkeliaran. Kami pun menghampiri peti jenazah kakek tua yang sudah rapi mengenakan stelan jas lengkap yang tampak seperti orang tertidur, di sebelahnya harmonika dan buku-buku kesukaan kakek tua diletakkan dalam petinya. Mama memeluk opung yang kemudian mengajak kami berdoa di pinggir peti.

Saya meresapi rasa kehilangan akan kakek tua, terbayang tak ada lagi yang mengajak saya memancing ikan mas di sungai dekat desa kami atau mengejar babi-babi yang iseng mengganggu saya saat di rumah.

Sejak kecil, opung doli—kakek dalam Bahasa batak—sudah wafat lebih dulu, jadi saja kakek tua sebagai adik dari opung boru sudah saya anggap sebagai kakek saya sendiri. Ia mencintai lagu Butet setengah mati, setiap kali memegang gitar atau meniupkan harmoninya lagu itu menjadi lagu wajib yang kerap ia nyanyikan. Bahkan mama saya sebagai keponakan pertamanya kerap kali khusus dinyanyikan kakek tua tiap kami berkunjung ke rumahnya. Tak sedikit waktu kami habiskan bernyanyi berdua, meski saya lebih banyak tak tahu lagu yang kakek tua nyanyikan.

--

Selama tujuh hari tanpa berhenti, tamu terus berdatangan ke rumah opung, memberikan salam belasungkawa, berdoa, bernyanyi, menari, sambil diiringi sulim yang mengalun merdu. Selama tujuh hari itu pula keluarga kami menyiapkan makanan, memotong ternak berupa babi, ayam, dan beberapa kerbau yang sudah disiapkan untuk upacara pengantaran kakek tua. Hari ketujuh telah disepakati sebagai hari pemakaman kakek tua. Sebagai pengantar pemakamannya mama menyanyikan lagu kesukaan kakek tua untuk terakhir kalinya menuju liang lahat. Kurang lebih penggalan liriknya,

Butet, Sotung Ngolngolan ro Hamuna ale Butet
(Butet, Jangan sampai Sedih ketika Kalian Datang)
Paima Tona manang Surat ale Butet
(Menunggu Pesan atau Surat oo Butet)

Malam hari selesai pemakaman saya mendekati opung boru menawarinya makan dan berbincang tentang rencana esok hari.

‘Opung sedih?’ tanya saya.

‘Bohong kalau tak sedih.’ ujar Opung saya sambil melipat ulosnya.

‘Tuhan pasti senang punya penyanyi seperti kakek tua di surga sana, ya, Pung? Saya membalas sambil tersenyum membayangkan wajah kakek tua.

‘Tentu, ya, hidup mati sudah diatur sama Tuhan, toh! Senang, sedih, menangis, ketawa semua kau lakukan dengan betul-betul! Hidup itu tentang perayaan, apalagi orang Batak. Semua kita rayakan, sedih saja kita bernyanyi dan menari apalagi nanti kalau kau senang jangan kau lupa tertawa hingga puas!' ujar opung boru saya saat itu.

Saya terus terbayang akan kata-kata opung saat itu. Bagi opung, jika menangis, menangislah sungguh–sungguh. Jika bahagia dan ingin tersenyum, banyak–banyaklah tersenyum. Bukankah hidup perkara perayaan rasa? Mengapa harus menutupi jika sedang sedih, bukankah sedih--seperti bahagia, adalah hak semua orang?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kearifan Nusantara - Batak: Merayakan Hidup adalah Perihal Merayakan Rasa". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Cibo | @ckartika

a friend who will listen and hug you with a warm heart.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar