921
No matter what, always be yourself - Greyson Chance

Ada satu titik dalam hidup ketika saya menyadari satu hal: bahwa saya telah melakukan segala hal yang ingin saya lakukan.

Memang penuh risiko, dan keteguhan hati saya benar-benar ditempa dalam proses ini. Namun, begitu saya mencapai tingkatan bahagia-menjadi-diri-sendiri, kenikmatan luar biasalah yang saya dapatkan.

Saya seorang anak perempuan yang terlahir dalam keluarga Bali. Saya, tidak tahu-menahu mengapa saya terlahir dengan kasta. Saya selalu mendengar ucapan untuk berupaya menikah dengan laki-laki berkasta sama. Saya, pada usia 19 tahun memilih mengikuti petuah ini dan menikah dengan laki-laki berkasta sama yang belum saya kenal. Delapan bulan masa pacaran amatlah kurang, namun saya beranikan diri untuk menikah.

Dan kehidupan pernikahan ternyata tidak semenyenangkan yang saya kira.

Meski mencoba bahagia dengan kelahiran putra semata wayang, namun tetap saja hati saya menjerit. Ini bukan kehidupan yang saya mau. Ya, saya memang sudah menjalankan tradisi, menikah dengan orang yang berkasta sama. Lalu? Ada semacam kekosongan batin yang tidak dapat saya lukiskan dengan kata-kata saat itu.

Yang pasti, saya tidak bahagia seperti ini.

Dalam kekalutan, akhirnya tibalah saya pada suatu titik ketika saya tidak mau berkata "seandainya".

Seandainya saya tidak begini, seandainya saya tidak begitu. Tidak! Tidak boleh ada kata seandainya.

Karena penyesalan bagi saya lebih buruk daripada sekadar cemoohan orang akibat keputusan saya menuruti kata hati. Dan akhirnya, semua hal yang saya lakukan hingga membawa saya kepada hari ini, adalah murni dituntun oleh kata hati saya sendiri.

Murni--karena saya tidak mau suatu hari nanti, saat hidup saya menjelang akhir, saya menangis dan meratap perihal mengapa saya tidak melakukan hal-hal yang selalu ingin saya lakukan.

Apapun yang terjadi, betapa burukpun risiko yang harus saya terima, hidup terasa lebih luwes dan ringan ketimbang saat-saat ketika saya melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kata hati. Masalah benar atau salah, biarlah Sang Pencipta Kehidupan yang menentukan.

Orang lain boleh saja menghakimi, tapi tentu tidak akan memengaruhi kebahagiaan batin yang saya rasakan karena telah benar-benar jujur kepada kata hati. Telah benar-benar melakukan sesuai apa yang hati nurani saya inginkan. Dari sini,, kemudian saya mengerti benar bagaimana rasanya menjadi orang yang dianggap aneh atau membelot--hanya karena tidak melakukan apa yang orang-orang lain lakukan.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: tidak bolehkah kita menuruti kata hati? Padahal bukankah hati nurani merupakan penuntun laku manusia paling jernih?

Pada suatu waktu, saya bicara kepada diri saya sendiri, dan saya katakan dengan jelas: pendamping saya kelak, saya hanya akan melihat pribadinya dan membiarkan nurani saya menuntun pilihan yang terbaik bagi diri saya--terlepas dari segala pemikiran dan keharusan mengenai apa kastanya, berapa jumlah hartanya, bahkan apa keyakinan yang dianutnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Karena dalam Hidup, Saya Tak Mau Berkata: Seandainya.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar