15.9K
Sepertinya semua orang terus bertanya kapan, kapan, dan kapan saya akan memiliki buah hati. Dari pertanyaan ini biasanya muncul komentar yang mengindikasikan bahwa ada salah satu pihak yang salah: apakah yang perempuan terlalu sibuk, tak kunjung bisa memantaskan diri menjadi istri, atau bahkan: kurang berdoa.

Ada begitu banyak pasangan menikah yang menginginkan kehadiran seorang anak. Begitu juga dengan saya. Namun, hampir dua tahun menikah, buah hati yang dinanti tak kunjung hadir dalam kehidupan rumah-tangga kami.

Hampir setiap hari saya dan suami berdoa agar kami dikaruniai buah hati yang tentu akan menambah kebahagiaan kami. Seringkali, keluarga dan kerabat bertanya kepada saya dan suami: "Kapan punya anak? Ayo, lekas!" Komentar-komentar ini, dan pertanyaan sejenis yang terasa mendesak dan tak enak didengar, seringkali membuat saya gerah.

Saya dan suami sudah melakukan berbagai usaha yang memungkinkan dalam keterbatasan kami. Tapi, bukankah akhirnya ada Kuasa lain yang menentukan?

Di akhir tahun kedua pernikahan, saya akhirnya bisa bernapas lega: saya hamil!

Sayangnya, berita baik ini tak menghampiri salah seorang kawan saya, yang sudah menginjak tahun ketiga pernikahannya. Memiliki buah hati adalah impiannya setiap hari. Ia menantikan kehadiran si buah hati dengan sungguh-sungguh, namun apa daya, buah hati belum juga hadir mengisi hari-harinya.

Ia pun berkisah, bahwa ia tak lagi nyaman menghadiri pertemuan-pertemuan keluarga. Selesai pertemuan semacam itu, ia selalu menangis sendirian di dalam kamarnya. Ada kesedihan, kemarahan, dan rasa tertekan ketika ia terus dikejar dengan pertanyaan kapan memiliki anak, atau komentar lain yang terasa seperti menyalahkan dirinya ataupun suaminya. Ia pun merasa tak berdaya, dan seringkali terpikir, mungkin memang ini salahnya. Mungkin memang salahnya atau suami jika mereka masih belum dikaruniai anak.

Kawan saya yang lain pun seringkali mendung wajahnya ketika waktu tilik bayi tiba. Meski wajahnya menjanjikan senyum, komentar-komentar, "Kapan nyusul?" dari tetangga adalah pertanyaan yang sulit sekali dijawab dengan hati yang lapang. Belum lagi kata-kata seperti, "Ayolah..." seakan-akan ia sendiri yang sengaja memperlambat usaha untuk memiliki momongan.

Jika kedua teman saya tadi masih bersabar menunggu waktu, kisah teman saya yang lain berakhir tidak baik-baik saja. Ia sudah lima tahun menikah. Sejak saat itu, kunjungan ke dokter kandungan pun sudah sering dilakukan, secara rutin malah. Setiap kali mendengar ada 'dokter bagus', mereka sambangi.

Kawan saya, sang istri, bekerja. Begitu juga suaminya. Banyak komentar yang masuk ke telinga kawan saya, bahwa ia tak boleh terlalu sibuk bekerja jika ingin punya momongan. Maka ia memutuskan pindah bagian ke posisi yang tak sesibuk posisi sebelumnya. Tapi apa mau dikata, buah hati tak kunjung tiba.

Pertengkaran demi pertengkaran semakin sering terjadi antara kawan saya dan suami, karena keduanya sama-sama tertekan. Orang-orang yang tak tahu latar belakang mereka masih saja seringkali menyentil, bertanya tentang buah hati yang belum juga dimiliki. Akhirnya kawan saya dan suaminya memutuskan bercerai. Barangkali perceraian menjadi jalan mereka menemukan kebahagiaan dan ketenangan. Mereka sudah terlalu sering saling menyalahkan.

Kisah-kisah kawan-kawan baik saya ini mengingatkan saya pada perasaan tertekan saya dulu. Ketika sepertinya semua orang terus bertanya kapan, kapan, dan kapan saya akan memiliki buah hati. Dari pertanyaan ini biasanya muncul komentar yang mengindikasikan bahwa ada salah satu pihak yang salah: apakah yang perempuan terlalu sibuk, tak kunjung bisa memantaskan diri menjadi istri, atau bahkan: kurang berdoa.

Saya ingat betapa sedihnya hati saya saat itu, apalagi ketika saya dibandingkan dengan pasangan lain yang baru saja menikah namun sudah dihinggapi buah hati. Jadi saya mengerti benar betapa hancur dan tertekannya perasaan kawan-kawan saya yang masih saja terus dikejar dengan pertanyaan: kapan, kapan, dan kapan. Mereka sendiri sudah begitu sedih karena belum juga dikaruniai buah hati. Tapi ini di luar kuasa mereka. Usaha dan doa pasti juga sudah mereka lakukan.

Saya sering berpikir, apakah pertanyaan: "Kapan punya anak?" adalah pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan kepada seseorang; karena hanya Sang Maha Kuasa saja yang bisa menjawabnya. Pertanyaan ini, jika ditanyakan kepada seseorang tanpa kita mengetahui kondisi fisik dan batinnya, sesungguhnya juga cenderung bersifat mengganggu, bahkan melukai perasaan mereka.

Jadi, haruskah kita terus abai dan menggunakan pertanyaan: "Kapan, dong, punya anak?" seperti sekadar sapaan?

Yuk, mari berupaya untuk tak mempertanyakan hal ini lagi kepada kawan, kerabat, ataupun keluarga. Mari sama-sama mendoakan pasangan-pasangan kawan-kawan kita, supaya mereka--jika menginginkan, cepat mendapatkan momongan. Rasanya tak usah diucapkan, ya, pertanyaan 'kapan-punya-anak' itu, karena toh mereka juga tak punya kuasa untuk menjawabnya.

Boleh kita membahas hal ini jika kawan, kerabat atau anggota keluarga kitalah yang datang untuk bertanya dan meminta saran. Jika tidak? Tak perlulah rasanya kita melukai perasaan mereka, atau malah menjadi pemicu ia dan pasangannya saling menyalahkan, hanya karena kita tak bisa menahan diri untuk kepo bertanya.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kapan-Punya-Anak Bisa Jadi Pertanyaan Paling Menyakitkan Hati.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Seorang perempuan dalam perjalananya menjadi Bahagia dan berguna

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar