6.1K
Apa yang terlintas dalam pikiranmu ketika mendengar kata cantik?

Jadi cantik, atau setidaknya dipuji cantik, mungkin menjadi dambaan banyak perempuan.

Walaupun terkadang masih tak jelas juga, seperti apa kategori perempuan yang dianggap cantik itu. Apakah dia yang memiliki tubuh semapai, kaki jenjang, rambut panjang terawat, kulit putih, yang biasa ditampilkan di majalah atau televisi? Semisal kita perempuan, tapi tidak ada dalam kriteria tersebut, apakah lantas kita disebut tidak cantik?

Nampaknya untuk menjadi cantik saat ini tidak lagi terdengar sulit. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk terlihat lebih menarik, memesona, dan enak dipandang. Salah satu cara yang saya gunakan agar terlihat 'beda' adalah lewat aplikasi ‘kamera cantik’ atau bawaan kamera ponsel dengan fitur 'beautification'.

Keduanya memang dapat membuat efek flawless pada foto yang diambil. Saya jadi terlihat lebih manglingi. Kulit lebih mulus dan halus, semburat pipi terlihat cerah, mata jadi lebih besar, pipi lebih tirus, dan lain sebagainya.

Apakah cara instan seperti dapat jadi pilihan meningkatkan rasa percaya diri kita?

Bisa jadi, ya.

Entah disadari atau tidak, semakin sering rasanya kita diberondong dengan pernyataan bahwa perempuan cantik itu begini, harus begitu, pintar seperti ini, dilarang berbuat begini atau begitu, harus memakai ini atau memakai itu. Kondisi ini kadang membuat kita terus mengasosiasikan diri jauh dari sempurna. Begitu kita mengikuti kategori tertentu, beberapa bulan kemudian sudah ada lagi 'definisi cantik' baru yang keluar, persis seperti model ponsel yang terus berganti.

Lama-kelamaan, hal ini membuat saya frustrasi. Pikiran perihal kecantikan dan kesempurnaan terus menghantui saya, hingga membuat rasa rendah diri timbul. Untuk mengelabui atau menyenangkan diri sendiri, saya pun mengunggah foto diri yang sudah diedit sana-sini, kemudian menggunakan filter 'cantik': bekas jerawat dihilangkan, pipi ditiruskan, mata diperbesar, dan perubahan fisik lain yang bisa dilakukan dalam sekejap!

Namun, apakah lantas ini membuat saya bahagia, atau menemukan rasa percaya diri kembali?

Ya, secara instan, ada rasa senang dan kagum melihat versi diri sendiri yang 'lebih sempurna'.

Namun, lama-kelamaan, perasaan 'tak cukup cantik' atau 'tak cukup baik' muncul lagi ke permukaan. Karena pada dasarnya, ketika saya mengubah diri untuk terlihat 'lebih cantik' di kamera ponsel, saya sedang menolak mencintai dan menerima diri sendiri. Ada rasa yang meruap lantaran saya tidak menerima jika saya berbeda dengan kategori cantik menurut definisi mayoritas.

Lucu, karena di banyak negara dan budaya, definisi cantik punya karakter dan kategori yang berbeda-beda. Mungkin itu pula sebabnya Tuhan menciptakan kita berbeda-beda. Sempurna--tak ada yang kurang, tak ada yang sia-sia. Cukup. Termasuk soal fisik yang sering kita cerca sebagai 'kurang sempurna'.

Saya tahu, tak akan ada habisnya kalau saya terus membandingkan apa yang tidak saya miliki dengan apa yang dimiliki orang lain. Yang ada, saya hanya akan semakin minder, semakin menginginkan lebih, semakin merasa tidak cantik. Saya mulai belajar menerima diri apa adanya, percaya bahwa ada rahasia sempura ketika Tuhan menciptakan fisik saya seperti saya yang sekarang ini. Saya juga mulai belajar melihat kecantikan sesama perempuan: bahwa kita semua cantik, terlepas dari warna kulit, rambut, bentuk wajah, berat badan, dan lain sebagainya.

Yang bisa saya lakukan adalah merawat fisik saya sebaik yang saya bisa, agar semuanya bisa berfungsi baik, dan bermanfaat untuk hal yang baik pula.

Belakangan, saya ketahui bahwa kawan-kawan yang saya anggap cantik pun masih sering berpikir bahwa ada yang kurang dengan dirinya.

Jadi, mungkin di atas cantik masih ada cantik. Dan mengejar cantik terus-menerus, akan membuat kita berlari di tempat, tak pernah puas, tak pernah cukup.

Tentu, terkadang saya masih menggunakan filter kamera untuk menyuntikkan sedikit rasa senang ketika ingin melihat diri saya 'lebih cantik'. Pelan-pelan, saya mencoba mengurangi frekuensinya. Belajar untuk nyaman melihat diri sendiri apa adanya, baik di depan cermin, maupun dalam selembar foto. Saya mencoba lebih banyak menggunakan filter baru: senyum dan rasa syukur.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "'Kamera Cantik' dan Keinginan Mencintai Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Bella Zoditama | @bellazoditama

Saya hidup dengan kata-kata yang tertuang lewat tulisan. Sesekali memotret, membaca, dan menonton untuk menyeimbangkan hidup.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar