879
Saat-saat seperti itu, saya merasa Tuhan sedang menatap saya dengan tersenyum lewat mata-Nya yang teduh. Dia seakan mengingatkan saya siapa dan bagaimana Dia.

Kadang, Tuhan mengingatkan kita bahwa Dia mendengar dan menanggapi secara keberlimpahan dengan cara begini:

Sambil keluar dari sebuah kantor dan membayar parkir menggunakan lembaran 5.000 rupiah terakhir saya, saya berpikir nanti di tempat berikutnya saya tidak lagi punya lembaran 5.000 rupiah untuk membayar parkir.

Kebetulan di kedua tempat yang saya datangi pagi ini, sistem parkirnya belum secanggih secure parking yang [hampir] selalu siap uang kembalian.

Tapi, saya pikir, nanti toh di tempat berikut saya akan beli barang yang biasanya seharga 45.000 rupiah. Jadi saya akan punya uang 5.000 rupiah untuk bayar parkir.

Di tempat berikut, ternyata saya berubah pikiran. Alih-alih membeli barang seharga 45.000 rupiah, tetiba saya memilih untuk membeli barang seharga 55.000 rupiah. Saya bayar dengan lembaran 100.000 rupiah. Berarti akan ada kembalian 45.000 rupiah.

Petugas bertanya apakah saya memiliki lembaran 5.000 rupiah (mungkin agar dia bisa memberikan uang lembaran 50.000 rupiah sebagai kembalian). Saya jawab tidak. Mas-mas petugas pun memberikan saya kembalian 45.000 rupiah -- dalam bentuk lembaran 5.000 rupiah semua.

Sekarang, bukan hanya saya punya selembar 5.000 rupiah untuk membayar parkir, saya malah punya sembilan lembaran 5.000 rupiah--jumlah yang jauh lebih dari yang saya harapkan.

Saat-saat seperti itu, saya merasa Tuhan sedang menatap saya dengan tersenyum lewat mata-Nya yang teduh. Dia seakan mengingatkan saya siapa dan bagaimana Dia. Kali ini, Tuhan mengingatkan bahwa Dia memang Maha Mendengar. Maha Pemurah.

Seolah Dia berujar, "Tenang, sini biar Aku yang tangani -- Relax, I'll take care of this." Atau bahkan lebih tepatnya, Dia berujar "Relax, it is taken care of."

Sudah dibereskan kok. Tenang saja.

-----

Catatan: Tagar #kadangTuhan saya buat untuk mencatat beragam kejadian kecil dalam keseharian saya. Terutama kejadian yang mengingatkan saya akan kehadiran-Nya, kasih-sayang-Nya, atau mengingatkan saya bagaimana sikap yang lebih jernih. Kejadian yang mengingatkan saya bahwa beragama atau spiritualisme bukanlah semata konsep. Beragama atau spiritualisme adalah cara mengada dalam setiap detik hidup kita. Sebagaimana perbincangan antara kita dan Ilahi yang tak pernah terputus. Seperti yang dikatakan Rumi, untuk perbincangan seperti inilah kamu dan saya tercipta.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Kadang, Tuhan Mengingatkan Kita Akan Keberlimpahan dalam Keseharian". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Crystal Monica | @alibabaalibabi

Motivasi Kerja