2.8K
“Remember: Enjoy your life today, because yesterday has gone and tomorrow may never come.” (Alan Coren)

Saya menyadari ada yang berubah.

Banyak malah. Kebanyakan penampilan fisik. Uban yang kian banyak dan harus kian sering ditutupi. Guratan di dahi karena mata yang turun menyebabkan saya tidak bisa lagi melihat normal tanpa mengangkat dahi. Pipi yang mengendur kehilangan kekenyalan. Lemak-lemak di sekitar perut yang kian sulit diusir meskipun saya manusia aktif dan rajin olah raga.

Menatap bayangan saya di cermin, saya menyadari mengapa tiap jalan ke mal, kian banyak yang memanggil tante atau bunda, meskipun ketika saya menatapnya dengan judes, saya melihat usianya mungkin hanya beda beberapa belas tahun dari saya. Jelas saya belum pantas jadi bundanya. Dan yang paling terasa sekarang adalah kekuatan fisik yang mulai menurun. Mendengar kabar teman-teman mulai berpulang, saya juga mulai berpikir tentang kematian. Sudah dekatkah waktu saya?

Dalam enam bulan, usia saya lima puluh tahun.

Setengah abad. Saya resmi masuk golongan nenek-nenek. Selain dari semua yang saya tuliskan di atas, saya merasa yang paling terluka adalah ego saya. Ya, ego.

Saya ingat sebuah percakapan di suatu perjalanan mengelilingi keajaiban-keajaiban alam yang tersebar di Utah, Amerika Serikat. Ketika bis berhenti sebelum kami dipersilakan naik ke Delicate Arch, saya mendengar perbincangan dua perempuan bule setengah baya. Salah satunya baru saja pulang dari Alaska. Ia melakukan perjalanan solo. Ia terlihat sehat, dengan tulang-tulang ramping. Tubuhnya kencang meskipun tangan dan wajahnya sudah keriput. Ia mengenakan baju safari pemburu. Rambut pirangnya yang diikat tertutupi topi yang juga model topi pemburu.

Saya mengira-ngira usianya mungkin 65 tahun.

Everything is still the same in here.” Saya melihatnya menunjuk dada, menandakan yang ia maksud masih sama (still the same) adalah hatinya.

Ia mengatakan itu sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkan lawan bicaranya. Tentang mengapa ia pergi sendiri ke Alaska. Sementara suaminya tidak bisa menemaninya karena sudah sulit berjalan, dan ia tak bisa dilarang karena sedari muda ia berjiwa petualang.

Sekarang saya mengerti, karena saya juga sudah masuk golongan itu. Setengah baya. Dan di dalam hati, saya merasa sama, meskipun secara fisik sudah berubah.

Sekarang saya juga mengerti, mengapa Ayah saya kian kepala batu. Ia kian sering melakukan hal-hal yang kami khawatir melihatnya. Pergi naik motor ke luar kota bersama para karyawannya. Membongkar rumah dan dapur, memperbaiki ini itu. Ibu saya melarangnya karena khawatir, tapi ia malah marah-marah. Sekarang saya mengerti. Karena dalam hati, ia tetap sama. Ia ingin tetap dianggap sama. Bahwa ia manusia berguna. Ia marah karena egonya terluka. Ia dianggap tua dan tidak berdaya.

Pada perjalanan saya ke London baru-baru ini, dalam bis menuju Portobello Road kedua kali, seorang nenek naik di sebuah perhentian dan duduk di sebelah saya. Ia sangat elegan. Rambut peraknya disanggul kecil, wajahnya tersaput make-up tipis. Sepasang anting zamrud hijau menggantung di kedua telinganya.

Today is freezing, isn’t it?” ia membuka percakapan sambil marapatkan jaket

“Ya," jawab saya, “Dan Anda tidak memakai mantel."

“Ya, karena tadi pagi cerah.”

Lalu kami terlibat percakapan asyik. Ia ternyata hidup sendiri. Tak punya keturunan. Suaminya sudah meninggal tiga tahun lalu. Semasa suaminya masih hidup, ternyata ia juga pejalan. Lalu kami bercerita tentang tempat-tempat, negara-negara paling berkesan yang pernah kami kunjungi. Sampai akhirnya bis berhenti di halte Portobello.

Sebelum berpisah ia berkata, “Saya senang bertemu kamu. Saya harap kamu bisa tinggal lebih lama dan minum teh di rumah saya. Usia saya 91 tahun dan saya tinggal sendirian."

Saya mengulang usianya dengan kaget. "Anda tak terlihat seperti berusia 9 tahun! You are very healthy, and beautiful”.

“Ooow", ia mengibaskan tangan. “Ibu saya hidup sampai usia 98 tahun. Dan saya pernah bilang padanya, saya akan hidup sampai usia 115," ia terkekeh, lalu melambaikan tangan dan kami berpisah.

Saya tertegun. Ia berusia 91. Hidup sendiri. Dan masih mau hidup sampai usia 115. Hidupnya pasti penuh sekali, hingga ia mau menghabiskan waktu di dunia sepanjang itu.

Saya memikirkan hidup saya sendiri.

Menginjak setengah abad, rasanya kematian sudah begitu dekat. Malah sekarang kian banyak orang meninggal di usia muda.

Sepupu saya tiba-tiba meninggal di usia 40. Keponakan saya meninggal di usia 34. Sahabat saya tiba-tiba gamang mendapati hasil periksa payudaranya terkena pre-kanker, sehingga ia harus menjalani operasi pengangkatan sebelah payudaranya. Kami sahabat-sahabatnya menangis.

Tapi ia memilih bersikap positif. Melihat sisi baik karena dokter menemukan sebelum semuanya menjadi buruk.

Ia bahkan masih bisa tertawa-tawa ketika bercerita bahwa ia bisa operasi sedot lemak di perut untuk dipindahkan ke payudaranya. Dua keuntungan sekaligus. Sikap positif yang menyebar. Meskipun mungkin ada malam-malam dimana ia tak bisa tertidur dan hari-hari penuh kekhawatiran sebelum ia memutuskan untuk merelakan payudaranya diangkat, sekarang ia menjalani hari-harinya dengan penuh. Berkebun. Memasak. Mengajak ibunya melancong.

Tetapi memang hanya itulah yang bisa kita lakukan.

Kematian tidak bisa ditolak, tidak bisa ditawar.

Kapanpun datangnya. Kita juga tidak bisa menolak usia. Semua orang akan menjadi tua. Tanpa kecuali.

Yang bisa kita lakukan hanya mengisi hidup dengan penuh. Arti hidup yang penuh bagi setiap orang tentu berbeda. Ada yang merasa penuh dengan melihat anak-anaknya bertumbuh. Ada yang merasa penuh dengan mengumpulkan kekayaan. Ada yang merasa penuh dengan beramal.

Saya merasa penuh karena sudah mengunjungi tempat-tempat yang ketika kecil hanya ada dalam khayal. Saya berhasil mewujudkan mimpi-mimpi saya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Jelang Usia 50, Saya Mulai Berpikir Tentang Mengisi Hidup Dengan Penuh.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dela Tan | @delatan

A Traveler who writes. Coffee lover.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar