881
We receive exactly what we expect to receive. -- John Holland

Entah mengapa, sebagian besar teman saya mempercayakan unek-unek dan keluh-kesah mereka kepada saya.

Ya, saya. Seseorang yang lima tahun ke belakang merupakan sosok yang rapuh, goyah, labil, serta selalu didera ketakutan berlebih akan banyak hal.

Kadang saya berpikir, bagaimana bisa mereka mempercayakan cerita dan keluh-kesah kehidupan mereka kepada saya? Apa yang bisa mereka harapkan? Saya hanya mempunyai sedikit kemampuan merangkai kata. Namun, tentu tidak semua kata-kata yang bisa saya rangkai dapat dengan mudah saya terapkan ke dalam kehidupan saya sendiri.

Hingga hari itu.

Hari itu tidak biasa, karena untuk pertama kalinya, saya memutuskan bepergian seorang diri.

Biasanya, saya selalu mengandalkan teman atau siapa saja untuk menemani saya bepergian. Saya, seperti juga orang-orang kebanyakan, merasa ada yang kurang bila harus bepergian sendiri. Tapi, hari itu, semua terasa berbeda. Hari itu saya bertemu dengan seorang asing. Ia pergi menjelajah dunia seorang diri. Ya, seorang diri.

Saya bahkan tidak tahu namanya.

Kami hanya berbincang beberapa menit. Kala itu hujan turun, saya dan dia sama-sama berteduh. Dia adalah perempuan mandiri dan kuat dalam pandangan saya. Entah mengapa, ia kemudian berkata, "Mengapa orang Bali selalu hidup sebagai sebuah keluarga, atau setidaknya, sebagai pasangan suami-istri?"

Sungguh pertanyaan yang aneh. Saya hanya menjawab, mungkin ini dikarenakan adat dan budaya yang kami anut. Lalu pembicaraan itu pun 'mengambang'. Ia tak lagi melanjutkan pertanyaannya, saya pun membiarkan jawaban saya selesai sampai di situ saja. Lalu kami berpisah karena hujan sudah reda.

Malam tiba, dan saya kembali teringat pertanyaan wanita itu. Mengapa? Ya, mengapa kami di Bali hidup dalam keluarga atau berumpun? Pertanyaan itu terus berputar-putar dalam kepala saya hingga suatu hari teman saya memberikan sebuah buku kepada saya: The Secret, judulnya.

Iya, saya yakin banyak yang telah membaca buku tersebut. Di luar pro-kontra seputar buku ini, buat saya, buku ini luar biasa, karena mampu membalikkan cara pandang saya terhadap kehidupan. Buku ini menjawab banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum saya temukan jawabannya.

Yang paling saya ingat dalam buku tersebut adalah bahwa kita--manusia, adalah magnet dalam kehidupan ini. Apapun yang kita inginkan, bisa kita dapatkan selama kita "menyamakan kutub". Apabila kita menjadi kutub negatif, maka hanya hal-hal negatif yang akan kita dapatkan dalam hidup. Berlaku pula sebaliknya. Bila kutub kita positif, maka hal-hal positif akan berdatangan tanpa bisa kita hentikan.

Dan saya pun mencoba membuktikannya.

Pertama-tama, saya berhenti mengeluh tentang hidup saya. Saya pergi menjelajah lebih banyak daerah untuk memberi tahu diri saya bahwa hidup yang saya miliki adalah yang paling saya nikmati bagi diri saya sendiri. Saya berlatih yoga, melakukan meditasi, dan mencari cermin yang jernih agar saya dapat melihat dan mengenali betul-betul siapa diri saya sebenarnya. Saya pun mulai bertanya kepada diri saya sendiri, perlahan-lahan: apa yang sebenarnya ingin saya lakukan dalam hidup?

Dan kutub positif yang saya ciptakan rupaya mulai menarik hal-hal positif dalam kehidupan.

Saya begitu ingin membantu orang tua saya dalam hal materi. Meski saya tahu berapapun jumlah rupiah yang saya berikan tetap tidak akan bisa membalas jasa mereka, saya ingin sekali mewujudkan salah satu impian lama orang tua saya. Dan, entah bagaimana, akhirnya saya mampu membantu mewujudkan impian itu. Tak ada kesulitan, semua dilancarkan. Semesta seakan bekerja sama dengan saya.

Ada begitu banyak tawaran pekerjaan, dan semuanya memberikan hasil yang cukup bagi saya untuk menghidupi diri saya sendiri, membantu keluarga saya, membiayai anak saya selama dia tinggal bersama saya dalam kesempatan-kesempatan tertentu, juga untuk mendanai hobi traveling saya.

Sejak dulu, saya bermimpi ingin bermalam dengan anak saya setelah keluarga kami terpisah. Empat tahun sudah saya tidak pernah merasakan tidur dengan buah hati saya. Saat kutub positif itu tercipta, lagi-lagi Semesta membantu saya menciptakan keadaan yang memungkinkan anak saya menginap bersama saya. Dan hal itu masih terus berlanjut hingga sekarang! Sungguh, saya benar-benar bingung harus menggunakan kata-kata apa untuk menjelaskan.

Apakah sudah berhenti sampai di situ saja ? Belum. Tuhan Yang Maha Kuasa luar biasa baiknya.

Saya benar-benar mencintai dunia sastra dan seni. Saya suka menulis puisi, juga cerpen. Menulis artikel pun saya suka. Intinya, saya suka merangkai kata lalu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Saya juga suka seni peran. Sewaktu bersekolah dulu, saya aktif dalam kegiatan teater. Namunm saya hanya dapat memberikan sedikit waktu saja untuk kegiatan tersebut karena ada hal-hal lain dalam hidup yang kemudian jadi prioritas saya.

Ketika kutub positif saya terbuka, dan saya menyatakan keinginan menghabiskan lebih banyak waktu dalam sastra dan seni, lagi-lagi Semesta membukakan pintu keajaiban. Entah bagaimana, saya dipertemukan dengan orang-orang yang akhirnya membawa saya memasuki dunia yang telah lama saya rindukan. Saya pun hingga saat ini tercengang-cengang bila memikirkan perubahan hidup yang saya alami. Sungguh benar-benar tak terduga, dan juga sulit untuk saya percaya.

Tentu, hidup saya masih jauh dari sempurna. Sebagai manusia, saya pun masih punya banyak kekurangan. Tetapi, saya tidak bisa tidak menceritakan bagaimana saya mencoba menjadikan kehidupan saya lebih baik dengan menciptakan kutub-kutub positif: memikirkan yang baik, menyampaikan keinginan yang baik, berbicara baik, berperilaku baik... ah, mungkin inilah yang menyebabkan teman-teman saya belakangan ini sering mencurahkan keluh-kesahnya kepada saya!

Perihal pertanyaan perempuan asing yang berteduh bersama saya di kala hujan--tentang mengapa kebanyakan orang di daerah tempat tinggal saya hidup dalam rumpun keluarga atau minimal berpasangan, terjawab sudah. Karena inilah yang mereka inginkan dalam hidup: berpasangan dan berkeluarga. Tak ada salahnya, karena setiap orang punya keinginan yang berbeda-beda. Kata John Holland, kita menerima apa-apa yang kita harapkan.

Sampai hari ini, saya masih tak sabar menanti hal-hal baik apa lagi yang akan datang ke dalam kehidupan saya. Tak sabar membuka mata setiap pagi dan berterima kasih, karena saya yakin, selalu ada Kebaikan yang akan diantarkan Semesta kepada saya, jika saya tetap berpegang pada kutub positif di dalam diri saya.




Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Cara Saya Menciptakan Kutub Positif di Dalam Diri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar