51K
Kali ini saya menulis curahan hati sahabat saya Nilam Sari tentang apa yang terjadi dalam rumah tangganya dan apa yang ia pelajari dari kejadian ini. Semoga bermanfaat untuk semua perempuan yang sedang mengalami hal yang sama.

Saya menikah muda pada usia 19 tahun. Saat itu, saya sesungguhnya belum paham benar mengenai apa saja hak dan kewajiban suami-istri saat membina rumah tangga. Yang saya tahu dan pelajari dari orang lain, katanya sebagai istri saya harus mengabdi kepada suami dan melayani keluarga.

Saya dididik oleh orang tua saya untuk mandiri.

Saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri, tanpa minta bantuan, karena saya merasa bahwa saya harus melakukan apa yang bisa saya lakukan sendiri. Saya juga tak ingin menyusahkan suami.

Dalam pekerjaan pun, saat membangun bisnis Kebab Baba Rafi dengan suami, saya memilih untuk berada di belakang layar. Saya menjalankan semua printilan operasional kantor untuk mendukung apa yang dilakukan oleh suami saya di garda depan. Saya bertekad untuk menjadikan bisnis ini kerja tim yang baik antara saya dan suami.

Namun, terkadang, saya juga begitu fokus pada rutinitas dan disiplin dalam menjalankan kegiatan operasional perusahaan, sampai saya lupa untuk merayakan keberhasilan-keberhasilan kecil saya dalam karir. Ini membuat saya, secara pribadi, merasa tak pernah mempunyai keberhasilan apa-apa--meskipun bisnis sebenarnya berjalan dengan baik dan menjanjikan.

Belakangan baru saya sadari, bahwa kecenderungan saya untuk melakukan segalanya sendiri, untuk bersikap 'seolah-olah' saya baik-baik saja, untuk menampilkan diri sebagai sosok yang mandiri dan memegang kendali, justru membuat saya butuh waktu lama untuk mengakui kepada diri sendiri bahwa saya tidak baik-baik saja. Bahwa saya membutuhkan bantuan. Bahwa saya, meski tak ingin mengakuinya, ternyata tak punya kendali atas kehidupan saya sendiri.

Selama bertahun-tahun, saya menerima kekerasan emosional dari suami; dan tidak berani bercerita kepada siapa-siapa. Saya selalu yakin saya bisa mengatasinya sendiri. Di mata orang lain: saya pintar, saya sukses, saya mandiri; masalah ini pasti sesuatu yang bisa saya tangani, kan?

Saya salah.

Saya tidak bisa mengatasinya hingga dampak kekerasan emosional ini sudah sedemikian dalam.

Kekerasan fisik akan jelas terdeteksi. Asal kita tidak berusaha menjustifikasi kejadiannya, misalnya saat suami mendorong atau memukul kita, ini sudah bisa dikategorikan sebagai kekerasan fisik. Namun kekerasan emosional lebih sulit dideteksi dan dirasakan, karena dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang. Terkadang, kita (termasuk saya) pun tak sepenuhnya sadar jika perkataan atau perlakukan seseorang sesungguhnya sudah mengarah pada kekerasan emosional.

Misalnya, kata-kata seperti:

"Kamu harus bersyukur punya suami seperti aku."
"Karena aku, kamu bisa menjadi seperti ini."
"Kamu tak akan bisa sukses tanpa aku."

Di permukaan, sepertinya kata-kata ini baik-baik saja, ya. Apalagi jika tidak dikatakan sambil membentak-bentak. Tapi jika kita mundur sejenak perlahan dan melihat pesan apa yang terkandung di balik kata-kata itu; niscaya kita akan merasa diri mengerut. Selama jangka waktu bertahun-tahun, saya selalu diingatkan bahwa saya adalah pihak yang beruntung karena memiliki suami; karena semua keberhasilan dan kesuksesan hidup saya datang dari suami.

Apakah ini benar? Saya rasa tak ada pihak yang kurang atau lebih beruntung. Bukankah ketika memutuskan berumah tangga, sesungguhnya dua insan sama beruntungnya karena bisa menemukan satu sama lain? Atau, apakah keberhasilan dan kesuksesan saya hanya datang dari suami? Bukankah bekerja, menjalankan perusahaan, membantu memikirkan strategi bisnis... semuanya adalah hal-hal yang mampu saya lakukan karena saya punya kapasitas profesional?

"Tipe laki-laki cuma ada 2, kalo nggak brengsek, ya gay."
"Nggak ada laki-laki yang punya waktu untuk menemani kamu ke mana-mana. Kalau dia punya waktu, berarti dia nggak kerja. Pengangguran."
"Kalau semua perempuan bisa menerima perselingkuhan suaminya, kenapa kamu tidak?"

Sebagai istri, saya pun lantas merasa bersalah ketika hendak meminta sesuatu yang wajar menjadi hak saya sebagai istri. Saya merasa, permintaan saya untuk dapat disayang suami, dan memiliki suami yang setia, adalah permintaan yang berlebihan. Saya mulai berpikir, benar juga, ya. Apakah mungkin saya terlalu banyak menuntut? Apakah mungkin saya memang tak sesabar perempuan-perempuan lain yang bisa menerima perselingkuhan suaminya?

"Aku selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga kita."
"Kamu terlalu berlebihan. Terlalu emosi."
"Aku sakit, I feel lost and empty without you."
"Aku ingin kembali padamu, tapi kamu tidak menerimaku. Jika ada apa-apa pada anak-anak kita nanti, itu semua salahmu."

Berpisah adalah hal terakhir yang diinginkan sepasang suami-istri yang menikah. Siapa yang tak ingin punya pernikahan yang langgeng dan bahagia? Saya tak terkecuali. Tetapi saya tak bisa membohongi diri sendiri. Saya harus mengaku bahwa saya tidak baik-baik saja dalam pernikahan yang saja jalani. Untuk saya, mengakui hal ini saja (bahkan kepada diri sendiri) menjadi hal yang sangat berat.

Selama satu-dua tahun belakangan ini, setiap kali saya menguatkan diri untuk mengambil keputusan berpisah, saya tak bisa mendapatkan jawaban yang konkrit. Saya terus dibawa berputar-putar untuk membahas beragam masalah lain, atau didera rasa bersalah ketika pasangan memohon maaf, juga dicekam rasa takut ketika ada perkataan pasangan yang terdengar sedikit mengancam.

Pada titik ini, saya merasa pikiran saya lelah, dan saya nyaris percaya bahwa saya sudah gila. Belakangan, saya tahu istilah untuk fenomena ini: gas-lighting, namanya.

Jika saya bisa introspeksi diri, saya mengakui, saya juga punya andil untuk memuluskan kekerasan emosional yang terjadi pada diri saya.

Saya tidak pernah mengomunikasikan apa yang saya butuhkan. Seperti yang saya sampaikan di atas, saya dididik untuk menjadi mandiri oleh orang tua saya. Pada saat berkeluarga, saya jadi tidak pernah berusaha meminta. Saya berpikir, suami saya akan mengerti sendiri apa yang saya butuhkan sebagai istri tanpa perlu saya minta. Tentu ini salah. Suami saya tidak bisa telepati.

Saya malas keluar dari zona nyaman. Selama bertahun-tahun, saya tidak berusaha untuk keluar dari pernikahan kami yang sudah tidak sehat, hanya karena saya merasa ini kondisi yang paling nyaman, juga aman buat saya. Saya malas untuk ribut. Siapa sih, yang ingin memicu konflik? Bukankah lebih baik tenang saja dan diam-diam? Tapi akibatnya, kondisi ini jadi berlarut-larut, berputar tak terkendali, dan saya ikut kusut dan mengerut di dalamnya.

Saya tidak punya identitas diri. Selama 13 tahun berkarya, saya tidak pernah memperkenalkan diri saya sebagai Nilam. Saya memilih berlindung di balik status saya sebagai partner perusahaan, istri seseorang, dan ibu dari anak-anak saya. Memiliki identitas dan menunjukkan prestasi itu penting bagi self-esteem kita. Saya merasa menjadi 'seseorang' saat saya menjadi seorang Nilam Sari. Selama setahun belakangan, setelah meluncurkan buku Womenpreneur, saya banyak bicara di seminar-seminar kewirausahaan. Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan bisa saya lakukan sebelumnya. Selama ini, rasa percaya diri saya nyaris hilang ditelan tekanan psikis yang saya terima. Saya merasa saya hanyalah orang di belakang layar yang tidak begitu penting. Ternyata saya juga bisa berbagi kisah saya di depan umum; yang mudah-mudahan juga bisa menginspirasi orang banyak.

Dulu, saya sempat takut, jika saya keluar dari pernikahan saya, saya akan kehilangan semua: nama baik, kehidupan profesional, keluarga, juga gaya hidup dan fasilitas yang sudah didapatkan dengan kerja keras selama ini. Tapi, sekarang saya sadar, dengan izin-Nya, saya adalah modal hidup saya sendiri. Selama saya tidak kehilangan diri saya, saya akan bisa terus berkarya.

Dari bab hidup ini, pelajaran terbesar untuk saya adalah bahwa:

Kemewahan tidak membuat saya bahagia. Hubungan erat dengan orang-orang yang mencintai dan selalu ada untuk mendukung saya adalah yang paling utama.

Banyak kawan bertanya, mengapa saya memutuskan untuk berpisah. Juga mengapa saya memutuskan untuk menceritakan pergulatan batin atas apa yang saya alami. Apakah saya hanya ingin mencari sensasi, ingin mencari perhatian, ingin mencari keributan?

Jujur, saya sudah cukup lama menimbang masak-masak keputusan saya untuk mengungkapkan apa yang terjadi dalam hidup saya, dengan segala konsekuensinya; baik dan buruk. Saat itu, yang ada dalam benak saya hanya satu: saya lelah berpura-pura.

Saya lelah berpura-pura sempurna, berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja. Dan saya lelah merasa takut. Saya cuma ingin menjadi Nilam yang jujur. Saya ingin berkata bahwa saya tidak sempurna, saya tidak bahagia, saya tidak baik-baik saja.

Buat saya, ini langkah pertama untuk jujur pada diri sendiri, untuk mulai bicara. Untuk menjadi Nilam yang tidak takut untuk mengulurkan tangan dan berkata: "Saya juga butuh bantuan."

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jika kamu merasa mengalami kekerasan emosional dan sedang berusaha ingin keluar atau mencari pertolongan, you are not alone! Coba hubungi kawan-kawan yang akan membantumu di:

Unit Pengaduan Rujukan

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)

(Kasus Kekerasan Dalam Pacaran, memiliki jejaring di seluruh Indonesia. Dengan melakukan pengaduan, Komnas Perempuan dapat merujuk kasus ke lembaga layanan sesuai kebutuhan)

Alamat: JL. Latuharhary No.4B, Menteng, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10310

Telp. (021) 3903963

Yayasan PULIH

(Layanan Psikologis)

Telp. (021) 7823021/(021-78842580)

Email : pulih@pulih.or.id / pulihfoundation@gmail.com

Yayasan PULIH

(Layanan Konseling Online)

Email: pulihcounseling@gmail.com

Subject: pulihcounseling

Nama/inisial, usia, jenis kelamin, isi cerita, keluhan/curhatan yang hendak diceritakan

Pijar Psikologi

(Konseling online)

Web: pijarpsikologi.org/konsultasi-2

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum APIK Jakarta

(Layanan Bantuan Hukum)

Alamat : Jl. Raya Tengah No.31 Rt. 01/09, Kramat Jati, Jakarta Timur 13540

Telp. (021) 87797289


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Bukan Cinta: Belajar dari Pengusaha Nilam Sari tentang Tanda-Tanda Kekerasan Emosional dalam Pernikahan". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ollie | @salsabeela

I'm a writer & Chief Content Officer of Zetta Media Network

What do you think ?