9.9K
Untuk mengatasi rasa takut, kita perlu mencari tahu kapan dan dari siapa kita belajar menyimpan rasa takut yang kita miliki sekarang.

Si(Apa) yang Lebih Bermakna daripada Rasa Takut Kita?

Seorang teman yang selama ini takut air yang dalam dan tak bisa berenang, mendadak 'nekat' belajar berenang. Ia berupaya mengatasi rasa takutnya setelah menjadi seorang ibu. Bagaimana jika suatu hari anaknya bermain di dekat air, tercebur, dan butuh pertolongan--sementara ia tak berdaya untuk melakukan apa-apa?

Bayangan ini ternyata begitu kuat dan mendesak, membuat teman saya itu memutuskan untuk mengalahkan rasa takutnya dan belajar berenang. Setiap kali ketakutan dan kepanikan melanda selama belajar berenang, ia menarik napas dalam-dalam dan mengingat anak yang sangat dicintainya. Alasan satu-satunya bagi teman saya itu untuk mengatasi rasa takutnya.

Anak. Anak ternyata lebih bermakna dibandingkan rasa takutnya. Ada sesuatu yang lebih besar dari rasa takut di sana. Lebih berarti. Sangat berarti.

Kita Belajar dan Diajari untuk Menjadi Takut

Sebagai kanak-kanak, kita tak mengenal takut. Api kita sentuh, macan pun mungkin kita peluk dan belai-belai. Mengapa kita tidak takut?

Karena kita belum belajar tentang rasa takut.

Ketika menyentuh api dan rasanya panas dan sakit, kita belajar bahwa api tak boleh disentuh. Orang tua membacakan kita cerita tentang macan yang buas dan punya taring-taring yang bisa mencabik mangsanya. Kita pun belajar untuk takut akan macan karena kebuasannya.

Jadi, pada dasarnya, semua rasa takut yang ada dalam diri kita sekarang adalah sesuatu yang kita pelajari: baik dari pengalaman sendiri (sakitnya menyentuh api), maupun dari apa yang dikatakan/diceritakan orang lain (orangtua dan macan).

Tentu, tak semua rasa takut yang kita pelajari ini buruk. Pada dasarnya, rasa takut bisa menjadi rambu-rambu yang menjaga keberlangsungan hidup dan hubungan kita: kita berhati-hati ketika menyeberang jalan karena takut tertabrak, tak menyentuh kabel listrik yang terkelupas karena takut tersetrum, tidak mengumpat dan memaki-maki karena takut menyakiti orang lain, dan sebagainya.

Namun, rasa takut juga bisa menjadi penghalang bagi diri untuk berkembang; untuk merasakan berbagai pengalaman yang ditawarkan hidup untuk kita.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

Banyak Juga Rasa Takut yang Ditanamkan oleh Orang Lain Kepada Kita.

Salah satu cara melihat rasa takut kita secara berjarak, adalah dengan bertanya: di mana, atau dari siapa, saya belajar akan rasa takut ini?

Misalnya, jika kita takut badut, bisakah kita mengingat di mana atau dari siapa, untuk pertama kalinya, rasa takut kita itu terpatri? Sama halnya jika kita takut berbicara di depan umum, takut pergi ke mana-mana sendirian, takut menyampaikan pendapat, takut tenggelam, dan lain sebagainya.

Apakah rasa takut kita datang dari pengalaman pribadi?

Ataukah rasa takut kita 'diajarkan' oleh orang lain lewat cerita, tayangan televisi, atau buku-buku yang kita baca?

Pilah-pilah, Mana Rasa Takut yang Beralasan, dan Mana Rasa Takut yang Menghambat Kita Berkembang?

Dari ketakutan-ketakutan itu, ketakutan-ketakutan mana saja yang menghambat kita berkembang? Coba bayangkan, seperti apa hidup kita jika kita tak memiliki ketakutan-ketakutan tersebut? Jika hidup terasa lebih menyenangkan, ringan, berwarna, dan bermakna tanpa ketakutan-ketakutan itu, maka bisa jadi inilah ketakutan-ketakutan yang selama ini menghambat kita mewujudkan potensi diri.

Lalu, bagaimana mengatasinya?

Ini terdengar klise, namun rasa takut memang perlu dihadapi. Tak perlu sekaligus, tapi bisa sedikit-sedikit. Misalnya, jika kita takut air dalam atau berenang, kita bisa mulai dengan pergi saja ke kolam renang dan melihat orang-orang berenang. Lalu kita bisa mulai dengan mencelupkan ujung kaki ke dalam kolam. Lalu berjalan pelan di kolam dangkal, demikian seterusnya. Setahap demi setahap. Langkah kecil demi langkah kecil.

Langkah lainnya?

Coba temukan si(apa) yang lebih besar atau berarti dibandingkan rasa takut kita. Teman saya yang takut berenang di air dalam menghadapi rasa takut demi anaknya. Kita yang takut bepergian keluar rumah sendirian, mungkin nekat keluar rumah karena harus mencari bantuan untuk orang rumah yang sakit. Kita yang takut mengutarakan pendapat dan bicara di depan umum, mungkin nekat angkat suara ketika teman yang kita sayangi ditekan dan dirisak oleh sekelompok teman yang lain.

Jadi, coba tanyakan: demi siapa, atau untuk alasan apa, kita berani menghadapi rasa takut kita?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ingin Mengatasi Rasa Takut? Ingatkan Diri Bahwa Rasa Takut adalah Hal yang Kita Pelajari.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar