6.1K
“Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 96)

"Hidup berputar, segalanya hadir dan lenyap bergantian. Ada siang dan malam, ada manis dan pahit, ada sedih dan senang, ada bahagia dan kecewa," begitu nasihat yang sering aku dengar dari orang tua dan orang-orang terdekatku. Namun, kita cenderung lebih mudah merespon perasaan senang dibanding merespon berita yang tidak mengenakkan atau hal-hal yang akan membuat kita sedih setelahnya.

Saya, misalnya, pernah mengalami kejadian ketika saya dipermalukan oleh seorang teman di sosial media.

Memang hubungan kami kala itu sudah tidak harmonis karena ada sesuatu hal yang pernah saya lakukan dan teman saya itu tak bisa menerimanya. Tapi saya yakin benar, perilaku saya terhadapnya saya lakukan semata karena ingin menyeleksi dengan siapa saja saya berteman, Mungkin ini membuat teman saya ini tersinggung dan marah.

Saya sudah mencoba meminta maaf beberapa kali, tapi keadaan masih sama. Saat itu saya memutuskan, ya, sudah. Saya terima jika ia masih belum dapat memaafkan saya.

Perasaan kesal, marah, dan sedih berkecamuk di dalam hati ketika saya mendapati foto dan nama profil saya dengan caption yang kurang enak terpampang nyata di akun sosial media-nya. Rasanya saya langsung ingin membalas saat itu juga dengan mengata-ngatai balik tentang dia.

Namun, saya menarik napas sejenak dan berpikir ulang. Pantaskah saya bereaksi seperti itu? Beruntungnya, saya memiliki Aryudhi, kekasih yang super sabar dan jarang memakai emosi jika menghadapi persoalan apapun. Pelan-pelan, ada pertukaran energi dari dia kepada saya.

Saya yang tadinya geregetan menjadi lebih tenang dan dapat berpikir jernih kembali.

Proses penerimaan saya untuk tidak bereaksi terhadap peristiwa ini tidak berlangsung sebentar. Mungkin kira-kira butuh 6 bulan. Cukup lama ya, sampai akhirnya peristiwa ini hening dan sudah tidak berkecamuk lagi dalam benak saya.

Lagi-lagi, saya percaya, Tuhan pasti punya rencana indah untuk umat-Nya, dengan setiap pelajaran yang tersirat di dalamnya. Karena saya lantas dipertemukan dengan dia di salah satu kelas menulis di Jakarta.

Anxiety Disorder saya kambuh tiba-tiba, tapi saya bisa menaklukkannya. Ternyata proses tarik nafas panjang dan dalam lalu menghembuskannya kembali menjadi media pertolongan pertama yang paling ampuh bagi siapa saja yang mengalami gangguan kecemasan. Beberapa waktu kemudian, kita akan merasa baik-baik kembali.

Hati dan sikap saya seperti diuji hari itu: apakah saya akan melampiaskan amarah kepadanya atau tidak.

Ternyata ada 1 peristiwa yang membuat saya iba kepadanya. Cerita yang ia tulis dan ia bacakan saat itu memang membuat saya terharu, sampai-sampai saya meneteskan air mata. Saya spontan menawarkan air minum yang saya miliki kepadanya, meskipun tidak diminum olehnya.

Terkadang kita perlu berbicara dan memberi selamat pada diri sendiri atas perilaku baik yang kita lakukan, meskipun tidak mendapat balasan yang baik dari orang lain.

Ketahuilah bahwa setiap orang berjuang dengan dirinya sendiri-sendiri. Memaafkan sama tak mudahnya dengan meminta maaf. Jadi, saya mengerti jika mungkin memang belum waktunya bagi kawan saya itu untuk memaafkan.

Saya, tentunya, punya andil salah juga dalam peristiwa tersebut.

Namun, memberi jeda kepada diri sendiri untuk memaafkan orang lain itu perlu. Tak perlu memberikan "deadline" tapi nikmati saja naik-turunnya. Dan saya bersyukur sekali karena saat itu saya tidak membalas perilaku kawan saya, tidak ikut perang di sosial media, tidak mengatakan lebih banyak hal yang mungkin akan menyakiti dia.

Semata-mata, semua untuk diri saya: saya ingin sehat jiwa dan raga.

Menghadapi emosi, saya pun masih perlu belajar banyak, dan kita akan belajar terus selama hidup. Tapi ada beberapa guidelines yang bisa kita gunakan ke depan :

1. Cek ke dalam diri kita, kenapa orang lain bisa seperti itu kepada kita? Jika memang kita salah, maafkan diri kita dan minta maaf jugalah kepada orang yang bersangkutan. Jika memang kita sudah meminta maaf namun orang tersebut belum memaafkan, kita kembalikan saja semuanya kepada Yang Maha Kuasa.

2. Jangan membalas dengan hal yang yang buruk pula. Pikirkan setiap kata yang akan kita keluarkan: apakah bermanfaat? Akan menyakiti hati kita dan orang lain atau tidak? Akan membuat masalah semakin buruk dan berlarut-larut atau tidak?

3. Tetap baik kepada siapa saja, tularkan kasih sayang. Maka energi itu niscaya juga akan terasa di dalam diri kita.

4. Menulis. Ada satu hal yang pernah diajarkan kepada saya oleh Mbak Ollie. Kita bisa menulis surat kepada orang yang dituju dan isinya kita meminta maaf atas apa yang pernah kita perbuat; dan kita juga sudah memaafkan kesalahannya. Cara ini ampuh, ternyata, untuk saya. Saya merasa plong dan lega.

Sekarang, ketika saya teringat peristiwa itu lagi, sudah bukan kemarahan lagi yang mengisi relung hati saya. Semua sudah tergantikan dengan senyuman. Saya tersenyum kepada diri, mengingat bahwa saya pernah berada di titik itu; dan bertekad untuk bereaksi lebih baik lagi terhadap emosi-emosi saya kini, dan nanti.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ingin Membalas Perilaku Buruk Orang Lain Terhadap Kita? Tunda Reaksimu. Selama yang Kamu Mampu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Diah Rahmawati | @Diahrahmawati88

Hidup. Nikmat dari Sang Maha yang paling berharga. Lalu, untuk apa kita hidup kalau tidak mau berbagi untuk sesama? Menulis bukan hanya baik untuk raga, sekaligus terapi untuk jiwa.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar