5.8K
Iman kepada Dia yang sejatinya telah menggariskan bahwa Dialah yang mengurus segala bagi para hamba-Nya. Dan, karenanya, tidak ada alasan untuk merasa khawatir.

Kejadian ini masih teramat segar dalam ingatan. Seperti baru terjadi kemarin.

Ketika itu, saya menawarkan diri untuk mengambilkan teh untuk seorang teman. Kebetulan, teko teh ada di meja di dekat saya. Saya membawa satu cangkir kosong, mendekati teko itu. Ah, ternyata ada orang lain yang sudah lebih dulu memegang teko. Saya pun berdiri di sampingnya, menunggu giliran saya.

Air teko mengalir ke cangkir teh orang tersebut. Saya bisa melihat airnya kian lama kian mengental – tanda isi teko sudah semakin sedikit.

Tanpa saya sadari, bahasa tubuh saya menunjukkan betapa cemasnya saya; khawatir apabila nanti tak tersisa air teh dalam teko untuk saya.

Tanpa menengok ke arah saya, orang yang sedang menuang teh dari teko itu bertanya lembut, "Kamu mau teh?"

Iya, jawab saya jujur seraya terus menatap cemas.

Selesai memenuhi cangkirnya, ia berpindah ke cangkir saya. Air terus mengalir dari teko. Mengalir sampai cangkir saya terpenuhi.

Ia berujar ringan sambil tersenyum, "Have faith. I do."

Orang itu memang merupakan sosok yang teramat saya hargai. Sikap, tutur kata dan gerak geriknya demikian memancarkan kebijaksanaan. Ternyata bahkan saat menuang teh pun saya bisa menikmati sekelumit kebijaksanaan yang memang terus terpancar darinya. Interaksi kami memang seperti itu: singkat, namun selalu berlimpah dan menyentuh hati.

Tersadar saya betapa iman yang sering saya ucapkan atau bahkan yang saya pikir saya miliki masih perlu terus diasah. Bahwa iman selalu hadir bersamaan dengan rasa aman, nyaman dan tenteram. Bahwa ketiadaan rasa aman, nyaman, dan tenteram itu menandakan masih ada sesuatu yang perlu saya cermati dari iman saya.

Iman kepada Dia yang sejatinya telah menggariskan bahwa Dialah yang mengurus segala bagi para hamba-Nya. Dan, karenanya, tidak ada alasan untuk merasa khawatir.

Sapaan itu merupakan sebuah undangan untuk kembali bersujud dalam keheningan menghadap-Nya. Sebuah ajakan untuk menghayati kehadiran rasa tenteram dalam relung jiwa. Bukan karena terpaksa, namun semata karena Cinta.

Selamat diperjalankan dalam Ramadan, sahabat. Semoga iman dan ketenteraman karena kehadiran-Nya semakin mewujud dalam keseharian kita.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Iman Hadir Bersama Ketenteraman Jiwa.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar