3.6K
Setelah sekian kali hubungan asmara yang kita bina mengalami kegagalan, cobalah beranikan diri untuk bertanya: apakah kita sudah cukup mencintai diri kita sendiri, sebelum memberanikan diri untuk berbagi rasa?

Saat hubungan yang kita jalin berujung pada perpisahan, kita cenderung menyalahkan orang lain. Tak jarang juga kita menelangsakan diri kita sendiri.

"Kenapa, ya, aku selalu dapat laki-laki tukang selingkuh?

"Kenapa, ya, aku selalu ketemu cewek matre?"

Amat jarang jika ada seseorang yang berbalik arah, menyepi, dan berkaca, sebenarnya mengapa setiap hubungan yang saya jalin selalu gagal? Mengapa saya kerap disakiti (dan juga menyakiti) pasangan saya? Apa yang sebenarnya saya harapkan dari sebuah hubungan? Sudahkah saya memperlakukan pasangan dengan sebaik-baiknya?

Menjalin hubungan adalah hal yang rumit. Diperlukan toleransi dan tenggang-rasa yang begitu luar biasa untuk menjalankan hubungan yang harmonis. Selama ini, banyak di antara kita yang tak menganggap serius tentang apa yang harus kita pelajari saat sedang menjalin hubungan.

Mungkin, bagi beberapa di antara kita, yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Saat hubungan gagal, maka kebanyakan orang akan segera mencari pengganti. Mengganti kekosongan jiwa. Tak terlalu penting siapa atau apa yang mengisinya, asalkan rasanya tidak 'kosong'.

Padahal masalah hati dan cinta itu bukan perkara mudah. Bila memang belum siap, maka sebaiknya jangan menjalin hubungan terlebih dahulu. Bukankah kita juga tak ingin jika dijadikan pengisi kekosongan belaka?

Banyak orang menganggap apabila setelah putus cinta seseorang masih terlihat sendiri, ini karena orang tersebut masih trauma, kapok, belum move on, atau yang lebih keji: tidak laku. Padahal bisa saja orang tersebut memang benar-benar sedang merenungi dirinya, me-review segala kesalahan yang pernah dilakukannya selama berada dalam hubungan, bertanya-tanya mengapa ia menemukan pola hubungan yang sama berulang-ulang di setiap kesempatan.

Tidak semua orang berani mengambil keputusan untuk mengevaluasi diri selama beberapa waktu, melepaskan segala rasa yang terpendam dalam dada. Merelakan sekaligus menerima semua yang terjadi dalam kehidupannya sebagai sebuah pembelajaran berharga.

Tidak semua orang juga berani berjalan sendiri selama beberapa waktu (bulan atau tahun), tetap bergeming sekalipun banyak orang bertanya mengapa ia masih sendiri. Bagi orang tersebut, menjalin hubungan baik dengan diri sendiri terlebih dahulu, adalah sesuatu yang lebih penting.

Rasa kesepian tidak serta-merta membunuh karena ada banyak orang di sekelilingnya yang bisa ia cintai dan syukuri keberadaannya. Tuhan menciptakan cinta bukan untuk dihayati dengan pikiran sempit. Dan bila kita mau bersabar, perlahan-lahan, dalam mengambil keputusan berdasarkan pengalaman kita di masa lampau, bukan tidak mungkin langkah kita selanjutnya akan diringankan karena tak ada lagi beban masa lalu yang masih kita tanggung.

Dan di akhir cerita, orang-orang yang bangkit dan memutuskan untuk berjalan sendiri, menemani dirinya sendiri, menyayangi dirinya sendiri lebih dan lebih lagi setiap harinya, bersyukur atas dirinya, merayakan hidupnya, lebih mendekatkan diri pada Pencipta-Nya, meluangkan banyak waktu bagi keluarganya, adalah mereka yang siap menuangkan bejana hati mereka yang sudah penuh untuk dibagikan dalam sebuah hubungan.

Karena cinta yang diberikan datang dari hati yang penuh dan berlimpah, bukan dari hati yang kering dan kekurangan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hubungan yang Kandas dan Menjalin Hubungan dengan Diri Sendiri". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar