3K
Lakukan sesuatu sesuai panggilan jiwa. Tak perlu memaksa menjadi hebat dengan menganiaya diri sendiri. Setiap insan punya jalan hidupnya masing-masing. Itu fitrah. Dan adalah suatu kehancuran apabila kita hidup menyalahi fitrah.

Di pojok kamar yang berukuran sedang itu, saya sering menghabiskan waktu luang. Duduk di atas matras hijau yang berukuran 100 x 50 cm membuat waktu berlalu tak terasa. Biasanya berjam-jam. Meja mungil dan laptop berwarna hitam masih saja setia merekam jejak pikiran dan realitas yang ada. Tumpukan buku dan kertas berserakan tak teratur. Tak terabaikan dan kubiarkan begitu saja. Berantakan!

Ruang itu, bukan kantor. Bukan pula tempat untuk menata sesuatu tampak rapi dan teratur. Tapi, tempat itu adalah tempat favorit saya untuk membaca, menulis, dan berselancar di dunia maya. Di tempat itu pula saya menghitung anggaran rumah tangga, merancang menu makanan untuk keluarga. Bahkan tak jarang tempat itu menjadi saksi atas derai air mata dan keluh kesah. Tak terkecuali surprise-surprise kecil yang romatis buat suami lahir dari tempat tersebut.

Malam itu, sekitar pukul 8, saya kembali menghabiskan waktu malam di pojok kamar itu. Tanpa sengaja saya menoleh ke kiri. Mata tertuju pada deretan kertas yang berbaris rapi membentuk frame yang indah bagi foto keluarga kecilku. Tertmpel kertas yang bertuliskan visi misi keluarga, rules, mimpi-mimpi, cheklist profesional, serta rancangan keuangan untuk tahun ini. Mata saya terus menyusuri satu persatu kertas yang tertempel rapi, hingga pandangan saya terhenti pada sebuah tulisan yang berukuran lebih besar dari tulisan yang lain.

“Jika itu membuat matamu berbinar-binar, bibirmu tersenyum dan hatimu bahagia, maka lakukanlah dan terus lakukan! Kelak hasilnya akan menampakkan diri dengan cara yang membuatmu bahagia.”

Pada kertas yang lain tertulis, "Berhenti membeo! Karena itu akan membuatmu frustasi.”

Tulisan itu mencuri perhatian saya. Saya baca sekali lagi. Sambil menarik nafas panjang, berguman dalam hati, betapa meruginya membeo dengan mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain.

Kita terkadang membeo karena melihat enaknya saja. Kita lupa dan menutup mata dari proses yang ada di baliknya. Padahal, tiada kesuksesan tanpa proses dan perjuangan yang besar. Kesukesesan hari tak lain adalah akumulasi kegagalan para pejuang yang tak kenal lelah dan putus asa.

Maka sangat disayangkan jika kita hanya terbawa oleh pola kehidupan orang lain.

Memilih kuliah di kedokteran karena si-A kuliah kedokteran. Bekerja di kantor AZ, karena si-B kerja di sana. Memilih menjadi pengusaha kuliner, karena sahabatnya sukses dengan usaha kuliner. Beli baju berwarna pink karena tetangganya terlihat cantik dengan baju itu. Pakai lipstik dengan brand tertentu karena artis idola nampak manis dengan lipstik ini. Melanjutkan studi ke jenjang S2 karena pacarnya sudah menyelesaikan studi S2 (biar sepadan katanya).

Ingin ini, ingin itu karena lagi tren.

Sadar atau tidak, saat ini kita melakukan banyak hal bukan karena kita menyukai dan merasa perlu untuk melakukannya, namun lebih karena tren. Pada akhirnya kita menjadi lupa. Lupa bahwa setiap kita terlahir unik dan memiliki tujuan penciptaan masing-masing.

Respek terhadap diri pun terkikis sedikit demi sedikit. Yang ada hanyalah rasa gelisah, was-was, khawatir dan takut tidak bahagia. Apalagi jika sesuatu yang diupayakan belum menampakkan hasil yang diinginkan. Pada akhirnya, kita memberanikan diri melirik, menduplikat dan tentunya membeo mengikuti orang lain. Hati pun semakin miris karena ingin segera seperti dia. Ketidakwarasan mulai menghinggapi. Akhirnya cara instan menjadi pilihan utama.

Kita melukai diri sendiri. Melukai alam. Melupakan Sang Pencipta. Meninggalkan kesabaran, mengkhianati fitrah dan kata hati.

Kita rela menjadi mayat hidup. Demi menjadi seperti orang lain.

Saya pun kerap mengalaminya. Saya sering merasa menjadi kurang waras karena menetapkan standar orang lain terhadap diri saya sendiri. Memaksa diri melakukan pekerjaan yang tidak sesuai kata hati. Mengabaikan proses. Lupa belajar dari kesalahan. Dan pada akhirnya chaos dan menyerah dengan keadaan.

“Apa yang salah dengan proses yang saya jalani ini?” protes saya terhadap keadaan yang terkadang tak menentu dan tak berdaya.

Kurang sabar, begitu kata seorang lelaki berperawakan sedang yang sangat mengagumi BJ.Habibie dan juga sangat menjunjung tinggi arti penting sebuah proses.

Benar!

Kurang sabar adalah awal ketidakwarasan yang sering dialami oleh seseorang.

Terkadang ketidaksaraban justru menghancurkan segalanya. Ingin segera melihat hasil kerja dan tergesa-gesa. Nilai dan norma kehidupan dilabrak.

Padahal, indahnya proses itu telah diajarkan oleh kupu-kupu. Metamorfosis yang terjadi pada kupu-kupu mengajari manusia arti penting sebuah proses. Hanya yang sabar mengikuti proses, menikmati tempaan dan cobaan yang bisa keluar menjadi kupu-kupu yang cantik. Begitupun tentang penciptaan alam semesta, yang sempurna karena bertahap.

Saat ini, saya terus berupaya untuk tetap waras. Menikmati setiap proses yang saya alami dan terus bergerak. Membuang jauh-jauh sikap membeo apalagi keinginanan untuk sukses dengan cara instan. Karena saya meyakini, orang sukses itu bukan yang lahir baru kemarin sore.

Bersabar bukan berarti berdiam diri.

Namun, bersabar berarti terus melakoni peran yang membuat bahagia tanpa perlu khawatir akan tertinggal atau ditinggalkan oleh zaman. Bersabar itu terus menempa diri, mengembangkan potensi, dan menikmatinya. Melakukan hal kecil yang mampu kita lakukan dengan rutin dan konsisten. Kelak akan tiba waktunya, kesabaran itu membuahkan hasil.

Mari memilih menjadi waras dengan melakukan sesuatu sesuai panggilan jiwa. Berusaha untuk tidak memaksa diri menjadi hebat dengan cara menganiaya diri sendiri. Karena setiap insan punya jalan hidupnya masing-masing. Itu fitrah. Dan adalah suatu kehancuran apabila kita hidup menyalahi fitrah.

Namun, bila hingga saat ini kita merasa belum sukses, apa yang kita rencanakan belum berhasil, apa yang diimpikan belum terwujud, itu bukan alasan untuk segera berbelok arah mengikuti jalan yang ditempuh orang lain.

Mengapa?

Karena kita bukan dia.

Kemampuan kita berbeda, cara pandang kita berbeda, intinya kita berbeda.

Di saat belum berhasil, mungkin kita perlu bersabar. Bersabar untuk terus belajar, bersabar untuk terus berinovasi, dan tentunya bersabar untuk meraih sukses.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hidup Lebih Waras Tanpa Membeo dan Menganiaya Diri Sendiri.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Jusmiati usman | @Jusmiati

Istri, manager keluarga, pengajar serta individu yg terus bertumbuh dan mengembangkan diri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar