5.3K
Sulit bagi seorang Ibu ketika harus melihat anaknya menanggung kekalahan. Menanggung rasa sedih dan kecewa. Aku berusaha mengajari anakku mengenai bagaimana menerima kekahalan. Dari anakku, aku juga belajar mengenai bagaimana kita bisa menerima kekalahan dalam hidup dengan hati lapang.

Beberapa minggu ini, anakku sibuk dengan kegiatan ACEX (Art, Culture, Education and Sport Exhibition) di sekolahnya SMP Labschool Kebayoran. Selain jadi panitia, anakku masuk dalam tim basket putri. Setiap pertandingan, dia selalu mengundang aku untuk datang dan memberi dukungan. Sebagai Ibu bekerja, kadang aku bisa datang kadang tidak. Dan anakku paham itu. Dia selalu bertanya dulu jadwalku memungkinkan atau tidak untuk hadir.

Minggu lalu, kebetulan jadwal agak lowong maka aku pun datang ke sekolah anakku menyaksikan dia bertanding basket. Ada rasa berat setiap duduk di bangku penonton menyaksikan anakku bertanding. Kenapa?

Sejujurnya aku tidak siap melihat anakku kalah dalam bertanding.

Tetapi sebagai ibu yang baik, aku harus selalu semangat dan memberikan dukungan penuh apapun yang terjadi. Mules, ya mules deh!

Ketika dikabari lawan tandingnya salah satu sekolah yang jago banget tim basketnya, perutku langsung melilit mules. Duh, kalah nih kayaknya. Tetapi gak boleh pesimis dong! Harus tetap optimis. Semangat! Kemudian pertandingan pun dimulai.

Harus diakui, lawannya sangat tangguh dan keren mainnya. Beberapa kali, tim anakku kedodoran menghadapinya. Ketika score demi score terus menanjak di angka lawan, aku pun menyiapkan diri untuk menghadapi anakku. Bagaimana pun juga, mentalku yang harus disiapkan dulu, sebelum menenangkan mental anakku.

Kebanyakan ibu-ibu seperti aku juga, ingin anaknya selalu menang.

Bayi yang dikandung kemudian dirawat sepenuh hati, jiwa dan raga hingga tumbuh besar, inginnya selalu bahagia dan jauh-jauh dari segala kekecewaan dan mara bahaya. Di satu sisi, aku juga sadar, sebagai ibu harus menyiapkan anaknya untuk hidup di dunia yang tidak hanya indah tetapi juga banyak hal buruk dan kekecewaan yang bakal dialami. Tetapi kadang pengin melarikan diri dari bagian “melatih anak menghadapi pahitnya hidup.”

Nggak tega melihat hati anak luluh-lantak.

Oke, pertandingan pun usai. Tim anakku kalah telak.

Aku pun mempersiapkan diri untuk menghadapi muka sedih anakku dan menyusun kalimat penghiburan supaya dia nggak kecewa-kecewa amat. Turun dari tempat duduk penonton, aku menuju ruang ganti pemain perempuan. Dari kejauhan aku sudah melihat anakku dan bisa merasakan kesedihannya. Namanya juga ibu, gelombang rasa anaknya sudah pasti sampai duluan sebelum bertemu tubuhnya.

Sebelum aku membuka mulut, anakku sudah bicara duluan. “Ibu nggak usah menghiburku. Ibu nggak usah bilang mainnya aku bagus. Mainku jelek.”

Oh. Aku pun terdiam beberapa detik.

Sambil menarik napas, aku bicara pelan-pelan, “Iya, Nak. Kamu mainnya nggak bagus. Tandanya kamu harus lebih banyak latihan dan lebih berani lagi di lapangan.”

Berat rasanya menyampaikan itu. Nggak sanggup melihat gelayut kecewa di wajahnya.

Kami berdua terdiam beberapa saat, sampai kemudian kuraih kepala anakku dan aku pun memeluknya erat dalam diam. Anakku pun membalas pelukan dengan erat. Diam, tanpa ada pembicaraan apapun. Kami hanya berpelukan.

Hari itu aku belajar bersama anakku tentang menghadapi kekalahan.

Menerima kekalahan tanpa menyalahkan pihak mana pun atau menghibur diri dengan kalimat-kalimat kosong. Kami belajar menerima rasa sedih dan kecewa. Memang begitu adanya. Kami menikmati kesedihan ini berdua. Tidak ada kata-kata menghibur, hanya berpelukan.

Dalam hidup, kesedihan demi kesedihan akan datang dalam berbagai bentuk. Berdamai dan menerima adalah pelajaran tersendiri.

Hidup tidak selalu tentang menang. Banyak kekalahan yang harus dijalani untuk bisa meraih kemenangan dengan benar. Seringkali kita diajarkan untuk selalu menang, bahkan dengan cara-cara yang tidak benar, yang penting dapat penghargaan. Padahal mengajarkan kekalahan sama pentingnya dengan mempelajari kemenangan itu sendiri.

Menerima kekalahan adalah belajar menerima apa yang kurang; untuk kemudian memperbaiki diri tanpa perlu menyalahkan pihak lain.

Kekalahan adalah pembelajaran juga.

Cuma, seringkali kita menghindarinya. Kita enggan kalah karena takut merasa malu, sakit hati atau kecewa. Padahal, kekalahan seringkali menyimpan banyak resep untuk memenangkan berbagai pertandingan hidup.

Sebagai ibu, walau pahit, aku akan terus mengajari anakku untuk menerima kekalahan; dan berdamai dengan kekecewaan dalam hidup: untuk kemudian bangkit, dan melompat lebih tinggi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Hari Itu, Aku Belajar Bersama Anakku tentang Menghadapi Kekalahan.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ainun Niswa | @ainuniswa

Seorang Ibu, Social Media Strategist, Community Manager & Content Development. Suka mengajar dan menulis buku & kolom Harian Kompas dan media lainnya. Pendiri Akademi Berbagi.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar