4.4K
Saya wanita Jawa, yang dibesarkan dengan nilai-nilai penuh tata krama dan tekanan budaya dalam keluarga.

Meski ditempa dengan berbagai aturan kedisiplinan, saya tumbuh seperti gadis-gadis lainnya, yang dilingkupi kasih sayang orangtua dan dititipi segudang doa. Masa kecil saya lewatkan begitu sempurna. Maksudnya, saya masih bebas bermain-main dengan teman sebaya dan bermimpi seabsurd-absurdnya meski kedua orangtua saya selalu bertengkar setiap harinya.

Ya. Pertengkaran yang itu-itu saja, tidak ada ujung dan solusi yang adil bagi mereka. Saya melewatkan masa kecil dengan menjadi dewasa sebelum waktunya. Usia 5 tahun saya sudah paham bagaimana melindungi Mama, memeluknya erat-erat saat Bapak menghujani tubuh kecilnya dengan pukulan dan tendangan.

Usia 5 tahun pula saya sudah paham falsafah Jawa mikul nduwur mendem njero, yang artinya teguh menjaga rahasia demi harga diri orangtua. Kepada siapapun saya tidak melaporkan apa yang dialami mama di dalam rumah, hingga semua itu terjadi selama 22 tahun lamanya, dan menjelma menjadi ‘penyakit’ yang kemudian saya derita.

Saya tidak dendam kepada bapak. Bagaimanapun, bapak telah mengasihi saya sebaik-baiknya meski memiliki banyak kekurangan selayaknya manusia biasa.

Waktu berlalu. Hidup menempa saya dengan berbagai skenario bak panggung sandiwara. Saya kira, masa remaja hingga dewasa bisa saya lewati lebih ‘normal’ dibanding masa kanak-kanak saya. Ternyata sama saja. Saya kerap menghadapi berbagai drama yang kadang susah saya pahami maksudnya.

Saya bertanya dalam gelap, meraba jalan keluar sendirian. Saya jatuh berkali-kali saat menabrak batu karang, namun Tuhan adalah sebaik-baiknya perlindungan hingga saya bisa bangkit melebihi kegagalan saya.

Kegagalan Pertama: Saya Mencintai Lelaki yang Tidak Direstui Orangtua

Usia saya kini telah menginjak angka 27, namun potongan kisah ini akan saya kenang selalu. Barangkali akan saya bawa mati, hingga lebur bersama jasad saya yang kembali ke bumi. 10 tahun lalu, tepatnya di tanggal 13 Mei 2006, saya mengenal seorang pemain band asal Surabaya yang akhirnya menjadi cinta pertama saya.

Saat itu, saya baru berusia 16 tahun dan ia sudah 25 tahun. Angka yang jauh ditambah perbedaan latar belakang membuat orangtua marah besar. Setiap kali datang ke rumah, rasanya Bapak saya ingin sekali meludahi wajahnya. Ia dianggap tidak pantas untuk saya, tidak sepadan dengan derajat keluarga saya. Namun, dasar gejolak muda, kami tidak sedikitpun gentar.

Kesabaran dan kelembutannya membuat saya menutup mata atas segala kekurangan. Apalagi, kondisi orangtua yang setiap hari bertengkar membuat saya sangat butuh pelukan. Saya tidak hanya butuh uang, saya juga butuh tenang. Dalam dirinya, saya menemukan sosok Bapak penyayang, bukan Bapak yang setiap hari sibuk dan jarang memberi perhatian. Suatu ketika, kami memutuskan akan menikah di tahun 2009.

Orangtua saya semakin gusar dan tidak segan-segan mengintimidasi dengan cara-cara yang tak masuk akal.

Sebagai anak, mustahil saya tidak merasa sedih dan tertekan karena gagal membahagiakan kedua orangtua. Saya menyesal tidak seperti anak gadis tetangga yang jatuh cinta pada lelaki sepadan. Saya mengutuki diri sendiri karena membikin malu Bapak dan Mama, namun salahkah Tuhan yang telah menjatuhkan cinta?

Kegagalan Kedua: Saya Menderita Tumor Payudara di Usia Remaja

Usia 17 tahun, saat gadis lain sedang lincah-lincahnya mengikuti banyak kegiatan dan kumpul bareng kawan se-gank di akhir pekan, saya harus merelakan masa muda untuk berkawan dengan pisau operasi dan bermacam obat yang dijejalkan paksa ke tubuh saya. Tumor payudara adalah penyakit yang saya derita secara tiba-tiba, dan terus tumbuh meski sudah menjalani pembedahan. Dalam kondisi demikian, hanya Mama yang tidak sedetikpun meninggalkan.

Ia rela begadang menjaga saya yang hanya mampu beraktivitas di atas pembaringan. Sementara itu, kekasih saya juga tetap ngeyel datang ke rumah sakit meski kehadirannya sudah dilarang. Kami tidak boleh saling bersua hingga dokter berkata, apa yang saya ingini tolong dituruti segera.

Usai menjalani operasi, dengan perban masih melekat di badan, saya berusaha kembali beraktivitas seperti biasa; mengikuti berbagai ajang perlombaan, menghadiri festival, hingga saya keluar sebagai pemenang. Saya berhasil membuktikan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meredupkan semangat juang. Meski setelahnya luka bekas operasi kembali berdarah-darah, saya tetap tegar. Tidak ada kesempatan untuk meratapi kesedihan, saya harus kuat menghadapi keadaan.

Kepada Mama, saya haturkan maaf sedalam-dalamnya karena telah gagal menjaga kesehatan dan selalu merepotkan. 3 kali operasi payudara sudah saya jalani di usia belasan dan membutuhkan 7 tahun untuk pemulihan. Betapa waktu yang panjang! Sesungguhnya saya tidak ingin menjadi beban pun tidak menyalahkan takdir Tuhan. Dari penyakit ini, saya belajar artinya bersabar, belajar neriman, dan belajar memupuk iman bahwa Tuhan tidak mungkin menjatuhkan ujian melampaui batas kemampuan.

Kegagalan Ketiga: Saya Gagal Masuk ke Universitas Negeri

Sejak kecil saya memang selalu lincah dan aktif di berbagai kegiatan hingga tak salah bila kedua orangtua punya harapan besar agar saya bisa menjadi hakim atau jaksa. Namun, lagi-lagi Tuhan berkehendak lain. Saya gagal saat mengikuti SNMPTN dan memutuskan banting setir menjalani akademi profesi kesekretariatan.

Kegagalan Keempat: Saya Batal Menikah

Telah 5 tahun sudah saya menjalani hubungan dengan pemain band yang saya ceritakan di poin pertama. Selama 5 tahun pula saya selalu memupuk harapan agar segala yang kami upayakan dapat berakhir bahagia. Melihat kondisi rumah tangga orangtua yang di ujung perceraian, saya hanya ingin segera pergi dari rumah dan membuka lembaran hidup baru bersama pasangan. Saya lelah mendengar teriakan, tangisan, bentakan, makian.

Namun, lagi-lagi Tuhan adalah pemilik segala ketetapan. Pernikahan yang kami rencanakan batal menjelang hari H karena ulah pihak ketiga. Saya tidak menyangka bahwa calon suami saya tega berbohong dan mencampakkan. Dalam sedih dan malu yang luar biasa, saya tidak berani bercerita pada keluarga bahwa pernikahan saya telah batal. Mama sedang depresi total karena Bapak punya wanita simpanan, sedangkan kedua saudara saya masih terlalu lugu untuk memahami kenyataan.

Saya telan semuanya sendiri, hingga saya terlibat pergaulan yang salah dengan teman-teman di perantauan. Setiap malam, mereka terus membujuk saya untuk mengenal rokok, alkohol, inex, free sex, dan dunia gemerlap. Bukan saya sok bersih dengan menolak semua tawaran, namun di hati kecil saya, wajah Mama selalu tergambar. Apa jadinya Mama bila saya merusak kepercayaan? Apa jadinya Mama bila saya ikut hancur bersama kawan-kawan?

Meski saya telah mengecewakan Mama karena akan menikah dengan lelaki yang tidak direstuinya, pantang bagi saya mengingkari janji yang pernah saya ucapkan, yakni no free sex, no alcohol di perantauan. Sungguh, hal yang bisa menyelamatkan saya dari dunia gelap itu hanyalah cinta saya kepada Mama.

Kegagalan Kelima: Hidup Saya Hancur di Tahun 2011

Setelah menghadapi kegagalan pernikahan, saya harus terima takdir bahwa calon suami saya menikahi wanita selingkuhan secara diam-diam. Tak hanya itu, seolah hidup sedang menghukum saya, pendidikan pun ikut gagal, saya dipecat dari pekerjaan (saya kuliah sambil bekerja sebagai copywriter), dan rumah tangga orangtua benar-benar dalam kehancuran.

Tak cukup hanya itu, sakit di payudara membuat kondisi saya kembali mengalami penurunan.

Setiap malam saya menangis di pojokan kamar, meratapi kenyataan yang sulit sekali rasakan. Meski sedihnya bukan kepalang, saya harus mantap melanjutkan perjalanan dengan terpincang-pincang. Demi Mama, demi kakak adik dan masa depan kami semua.

Kegagalan Keenam: Kembali Bangkrut di Tahun 2014

Jika saya pernah merasakan kepedihan yang teramat sangat, saya merasakan itu di tahun 2014 hingga kering air mata untuk kembali meratap. Karir yang kembali saya bangun di tahun 2012 harus saya relakan karena tikungan tajam di lingkungan pekerjaan. Saya terbuang dan tersingkir hingga mengalami kebangkrutan. Lagi-lagi, di kondisi seperti ini yang saya miliki hanyalah Mama. Ia yang selalu meyakinkan bahwa saya pasti mampu melewati semuanya.

“Kita sudah menjalani semua pahit dan luka berdua, jika Allah kembali menguji kita, apa yang perlu ditakutkan? Semua akan baik-baik saja.”

Kalimat itu menjadi kekuatan bagi saya untuk bertahan. Dalam hati, saya tak henti bertanya, ”Tuhan, anugerah sebesar apa yang hendak Kau berikan bila sesulit ini ujian yang harus hamba rasakan?”

Bangkit, Sebuah Titik Balik...

Saya kembali mengulang pertanyaan, ”Tuhan, anugerah sebesar apa yang hendak Kau berikan bila sesulit ini ujian yang harus hamba rasakan?”

Di tahun 2015 saya mendapatkan jawaban. Tuhan mengambil banyak hal dalam hidup saya agar tangan saya terbuka dan siap menerima anugerah yang lebih besar. Tuhan menguji untuk memantaskan. Kegagalan, penyakit, patah hati, konflik orangtua, semua hanyalah jalan agar saya menjadi kuat dan dekat dengan keluarga, agar impian masa kecil yang sempat terlupa bisa jadi nyata.

Ya, Tuhan tahu saya pernah bermimpi mengenyam pendidikan di luar negeri seperti Ibu Kartini dan sempat terhalang karena jalan terjal selama ini. Tapi, janji Tuhan memang nyata. Selalu ada pelangi setelah hujan. Maka, melalui cara tak terduga, Tuhan mengirim saya ke negeri impian. Memang di usia yang tak lagi muda, namun apalah artinya usia yang hanya berupa angka-angka?

Tak hanya itu saja, Tuhan semakin memantapkan saya dalam mencintai apa yang saya yakini. Bagi saya, setiap hari adalah belajar, dan yang paling utama adalah terus mempelajari dan mendalami keyakinan saya. Cintai Tuhan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda jika pikiran dan hati kita masih tetap bekerja. Setelah lembaran hidup yang menyakitkan itu, keluarga saya pun kian harmonis saja. Bapak dan Mama berdamai, kesehatan saya membaik, dan impian saya satu per satu tergapai, dengan cara-cara lain yang ditunjukkan oleh-Nya.

Memperingati Hari Kartini yang jatuh bulan ini, saya hanya ingin menyumbang pemikiran bahwa teladan Kartini tidak hanya pada kepintaran dan keberaniannya saja, namun juga tekad juang yang tak kenal jera. Jatuh berkali-kali dalam hidup adalah hal biasa, namun seorang Kartini di masa kini harus mampu bangkit lebih banyak dari kegagalannya.

Barangkali kita harus memutar haluan untuk mencapai tujuan. Dan tujuan hanya bisa dicapai dengan ketabahan serta kekuatan. Terima kasih telah menjadi kekuatan, Tuhan!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Gagal 6 Kali, Bangkit 7 Kali. Inikah yang Menjadi Semangat Kartini?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Karn Patchara | @karnpatchara

Gadis Jawa yang hidup damai di tepi Chao Phraya. Senang merangkai bunga dan kata-kata.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar