2.8K
Seperti apakah kita ingin diingat? Bagaimana rasanya melihat kilasan hidup berupa postingan lama di media sosial, lewat fitur memori? Apakah kita akan memilih untuk membagikannya lagi? Atau malah menghapusnya sekalian? Apakah postingan tersebut bahkan cukup pantas untuk dibagikan ulang, sama halnya dengan kisah masa lalu kita?

Meskipun sudah lama tersadar dengan adanya fitur memori di media sosial, baru kali ini saya menyadari fungsi lain dari fitur tersebut.

Tahu, kan, fungsi utama fitur memori di media sosial? Kadang saat kita membuka laman akun kita, ada notifikasi mengenai posting lama yang pernah kita publikasikan pada hari yang sama; beberapa tahun silam. Setahun yang lalu, tiga tahun yang lalu... sebut saja.

Momen-momen itu dimunculkan kembali ke hadapan kita. Membawa masa lalu menyapa kita di masa kini. Pertanyaannya: seperti apa perasaan kita saat melihat momen-momen itu muncul kembali?

Posting Positif vs. Negatif di Media Sosial

Seperti apa, sih, rata-rata postingan kita di media sosial? Yang bagus-bagus, seperti foto-foto bersama orang-orang tercinta? Tulisan inspiratif di note dan status buat lucu-lucuan? Meme kocak dan tautan ke artikel-artikel seru?

Atau malah yang negatif? Seperti meme sarkastik dan foto-foto kejadian tragis masa lalu? Status curhatan tentang orang-orang yang menyebalkan dalam hidup kita; dan tentang pemerintah, mungkin? Tentang berita atau artikel yang belakangan kita ketahui ternyata hoax?

Bagaimana rasanya saat melihat postingan lama menyapa kita lagi? Bagaimana juga rasanya ketika melihat postingan lama orang lain di laman mereka, berkat fitur memori yang sama?

Tentu, enaknya sih, kita cuma mengingat yang baik-baik dan melupakan yang buruk. Apalagi saat kita sedang dalam kondisi nggak enak dan butuh penyemangat. Cukup melihat postingan lama yang bagus-bagus dan perasaan kita akan bahagia kembali. Postingan tersebut bisa jadi pengingat dan sugesti ampuh: Kalau waktu itu bisa bahagia, kita masih bisa kok, bahagia lagi.

Lantas, bagaimana dengan postingan yang negatif? Selalu ada pilihan. Sama seperti orang yang sadar akan kesehatannya dan memilih makanan dengan hati-hati. Kita bisa memilih untuk curhat ke semua orang atau memutuskan untuk menyimpannya sendiri--atau membagikannya hanya kepada orang-orang terdekat saja.

Karena, setelah dipikir-pikir lagi, apa iya seluruh dunia wajib tahu semuanya?

Misalnya: kita bertengkar dengan seorang teman. Sesudahnya, si teman langsung menulis status menyindir kita, meski dengan #nomention segala. Karena malas, akhirnya kita memutuskan untuk diam-diaman dengan teman. Nggak lama, kita dan teman itu baikan. Semua kembali normal, namun entah kenapa si teman nggak menghapus status sindiran itu. Garar-gara si fitur memori, kalian berdua, suatu saat melihatnya lagi...

Saat itu, bagaimana rasanya?

Mungkin ada sebagian kita yang cukup berbesar hati dan menertawakannya sebagai 'kekonyolan' masa lalu. Namun, apa iya semua orang begitu? Apalagi bila kata-kata yang dipakai, meski sudah lama berlalu, masih terasa menyakitkan atau menyentil perasaan kita hingga sekarang?

Saya sering berpikir, bahwa mungkin hanya orang-orang super sabar saja yang bisa tahan berteman dengan mereka yang terlalu banyak mengumbar status negatif di media sosial.

Ingat yang Baik, Lupakan yang Buruk:

Seorang sahabat lama memutuskan untuk nggak lagi menulis di blog mengenai kehidupan pribadinya untuk konsumsi publik. Alasannya?

"Lama-lama males juga, kayak cari tontonan. Emang mereka perlu tahu apa gue lagi sedih atau berantem ama pacar? Emang ada gunanya gitu?"

Seperti biasa, ini masalah pilihan. Sama seperti seorang anak laki-laki yang diceritakan Sean Covey dalam bukunya "The 7 Habits for Highly-Effective Teens". Berbeda dengan kebanyakan pemilik jurnal atau buku harian, anak ini memilih untuk mendokumentasikan hal yang bagus-bagus saja di buku hariannya. Mau itu tawa mama atau pelukan kakak, atau bahkan lagu favorit hingga hal-hal seru yang suka dilakukannya.

Sama seperti mereka yang memilih untuk sharing yang bagus-bagus saja di media sosial, anak ini juga memilih demikian saat menulis. Jadi, pas dia lagi sedih atau bete, tinggal baca lagi deh, buku hariannya untuk pengingat agar dia senantiasa bersyukur.

Ini bukan berarti kita hanya boleh menuliskan hal yang baik-baik saja dan tidak boleh menuliskan hal yang kurang baik. Sebagai manusia, mungkin ada kalanya kita ingin membagikan unek-unek atau rasa di hati yang tak seberapa mengenakkan.

Saya kira, kuncinya adalah: sadar.

Sedianya, ketika kita menuliskan hal yang kurang baik, kita menuliskannya dengan sadar, bukan atas dasar emosi yang meluap-luap. Kita sadar akan apa yang sedang atau akan kita bagikan. Kita sadar akan seperti apa reaksi yang bisa kita terima; dan sadar bahwa apa yang telah kita bagikan mungkin tak bisa 'ditarik' kembali. Juga sadar, bahwa apa yang kita bagikan saat ini, bisa kembali lagi pada kita suatu hari nanti.

Jadi, hendak diingat seperti apakah kita?

Momen-momen apakah yang akan membuat kita merasa bahagia ketika suatu hari momen-momen itu kembali menyapa kita?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Fitur Memori di Media Sosial Berikan Kilasan Hidup yang Sudah Kita Jalani. Suka atau Tidak Melihatnya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ruby Astari | @rubyastari

Penulis "Reva's Tale" terbitan Ice Cube Publisher, pengajar Bahasa Inggris, penerjemah lepas, dan penulis lepas di beberapa media lain. Blog pribadinya: ruangbenakruby.com

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar