2.3K
The famous Agatha Christie says: regret is when one doesn't recognise the really important moments in one's life until it's too late.

“Di mana kamu? Cepat pulang!” ujarnya tegas melalui telepon.

Belum selesai Abah menutup pembicaraannya di seberang sana, jari saya sudah memutuskan sambungan di layar ponsel. Tidak seperti kebanyakan hubungan ayah dan puterinya yang hangat dan harmonis, saya dan Abah sangatlah sering beradu argumentasi. Tidak jarang kami berselisih paham dan saling membentak. Hubungan kami sebagai ayah dan anak sangatlah dingin.

Namun, tidak sedingin suhu malam itu.

Malam di Tahun Baru Cina, hujan dengan derasnya mengguyur bumi. Saya sendirian di tengah lorong rumah sakit. Ada ketakutan besar yang saya hadapi. Bukan takut akan bayangan cerita-cerita hantu yang sering saya dengar kala itu. Tetapi ketakutan akan apa yang tengah terjadi di ujung lorong tempat saya menahan rasa dingin sendirian. Di sebuah ruangan di mana Abah sedang terbius tak sadarkan diri di tangan dingin dokter bedah.

Saya menunggu dengan penuh asa bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar. Saya percaya, saya masih bisa memelototi kedua matanya lagi esok hari sembari mulai memancing perdebatan.

Keheningan malam kala itu lantas berubah menjadi pemandangan sibuk hilir-mudik para perawat yang berlarian dengan tergesa-gesa memasuki ruangan di mana Abah sedang ditindak. Seketika itu hati saya mulai gusar mengira-ngira apa yang sedang terjadi. Apakah itu tanda kegawatan yang terjadi pada Abah, ataukah mungkin ada pasien lainnya? Tapi tidak ada keluarga pasien lain yang menunggu selain saya sendiri di ujung lorong itu.

Rasa panik mendorong saya menghentikan salah seorang perawat yang berlari masuk menuju ruang tindakan seraya bertanya apa yang terjadi. Dengan nada tenang dia menjawab, “Berdoa ya, Mbak,” sembari menyentuh pundak saya dengan lembut.

Detik itu juga, saya mulai menyadari bahwa apa yang saya takutkan kemungkinan terjadi. Betul saja, tak lama berselang seorang perawat keluar dan memanggil saya untuk menemui dokter di dalam ruang operasi. Saya memanggil Ummi yang sedang beristirahat di ruang tunggu pasien, lalu kami masuk berdua menemui sang dokter. Sembari saling menggenggam tangan, kami dengan cemas mendengarkan penjelasan dokter.

“Kami ingin keluarga tahu bahwa kami sudah melakukan yang terbaik untuk Bapak. Tapi bagaimanapun Tuhan punya kehendak-Nya. Saya ingin keluarga berdoa untuk yang terbaik.”

Saat itu pandangan saya mengarah pada sesosok bayangan tubuh Abah yang tak berdaya dengan banyak sambungan selang di balik tirai kamar operasi.

Antara menerima dan menyangkal kenyataan, saya mencoba untuk memohon yang terbaik pada Tuhan. Namun, rasa takut itu semakin berkecamuk di dada. Ketakutan akan tidak bisa melihat Abah membuka matanya kembali. Ketakutan akan waktu yang sudah saya sia-siakan. Ketakutan akan tidak ada kesempatan meminta maaf kepada beliau. Ketakutan tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi puteri yang selalu beliau harapkan. Ketakutan atas semua hal yang telah saya perbuat pada beliau.

Malam itu, saya menyadari betapa angkuh dan naifnya diri saya. Saya terlalu gengsi untuk menyatakan betapa saya sayang Abah. Terlalu merasa nyaman dengan bayangan bahwa beliau akan hidup lama di dunia. Saya marah pada diri sendiri yang tidak pernah mengindahkan kebersamaan bersama Abah.

Kurang dari dua puluh empat jam setelah Abah keluar dari ruang operasi, dokter menyatakan beliau telah berpulang ke pangkuan Tuhan. Dada saya semakin sesak menyadari tidak ada lagi kesempatan untuk menatap matanya, seraya bisa berkata “Abah, Nadia sayang Abah. Maafin Nadia, ya?”

Semuanya terasa terhenti, hening.

Sejak detik itu, saya hidup dalam penyesalan terbesar saya.

Jika hari esok tak pernah ada, belajarlah untuk menghargai setiap momen-momen sederhana yang Tuhan berikan. Seringkali kita menyadari betapa berharganya sesuatu jika Tuhan telah mengambilnya dari hidup kita. Jangan pernah gengsi untuk menunjukkan perhatian dan rasa sayang kita kepada orang-orang yang kita kasihi.

Because, we will never know if tomorrow never comes. Dan saya belajar hal ini di malam ketika saya harus melepaskan Abah, dan hari esok bersama beliau.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Esok Ternyata Tidak Pernah Singgah Pada Hari Saya Kehilangan Abah.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ainin Nadia | @anadia

A knowledge seeker. A wordsmith to be. Dream to be happy in simplicity.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar