5.9K
“Pokoknya, saya bersumpah nggak akan pernah menjadi seperti kalian!”

Ini, adalah mantra saya, suatu waktu dulu.

Mantra yang saya ulangi ketika sedang tantrum, marah, dan biasanya diucapkan sambil memekik dan menjerit. Setiap kali saya bertengkar dengan Ibu, atau tidak tahan terus berselisih paham dengan Ayah, mantra ini akan menunaikan tugasnya: memberikan saya perasaan ‘menang’ atas perang yang sedang terjadi.

Saya akan meneriakkan mantra ini keras-keras, atau membisikkannya berulang-ulang, dalam hati. Saya tak pernah suka ‘sikap orang dewasa’ yang ditunjukkan Ibu dan Ayah kepada saya. Semua aturan, semua nasihat, semua kritik yang buat saya terasa jahat.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Saya di usia belasan tahun adalah pecinta buku yang ‘aneh’, dikombinasikan dengan pekerjaan trendi sebagai penyiar muda di salah satu jaringan stasiun radio swasta terbesar di kota tempat tinggal saya. Saya anak sok-pintar yang santai, yang percaya bahwa saya tahu segala yang perlu saya ketahui. Tentu saja, saya tak akan mendengarkan orang tua saya. Saya tak akan mendengarkan siapapun.

Bukan hanya itu, saya rasa saya juga bahkan tidak mau mendengarkan diri saya sendiri.

Jadi inilah awal dari perjalanan panjang saya untuk Tidak-Menjadi-Seperti-Orang-Tua-Saya.

Rencana A: Jangan ikuti jalan hidup mereka.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Ibu dan Ayah saya, keduanya adalah orang-orang pandai. Bukan hanya pandai, mereka juga murid yang baik—artinya, mereka tak melanggar aturan dan mereka suka belajar. Jadi saya memutuskan mendapatkan nilai baik untuk memuaskan ego saya; sekaligus bolos sekolah secara teratur: hanya agar orang tua saya tahu bahwa saya berbeda dengan mereka.

Saya menang satu poin.

Ibu dan Ayah saya lulus menyandang gelar Sarjana Ekonomi, dan sepanjang hidup, mereka bekerja secara profesional di sebuah korporasi. Saya berkeputusan untuk tidak akan pernah lagi berjibaku dengan Matematika di Universitas, jadi saya mengambil jurusan Ilmu Komunikasi—dan sepanjang karir, saya tak pernah bekerja sebagai pegawai di perusahaan manapun.

Dua poin untuk saya. Hore!

Saya pun melanjutkan komitmen saya dengan Rencana A versi Extended: saya akan melakukan hal-hal yang tidak pernah orang tua saya lakukan.

Kedua orang tua saya tidak merokok, jadi saya mencoba merokok. Yay! Mereka tidak mengecat rambut mereka. Saya mem-bleach rambut saya menjadi putih, pirang, dan ungu pastel. Yay! Mereka tidak punya tato. Saya membuat tato pertama saya di pergelangan tangan tiga tahun lalu. Ibu saya panik. Yay! Saya berbohong ketika mereka tidak memperbolehkan saya pergi ke konser musik dengan kawan-kawan saya. Saya melompat keluar pagar dan nongkrong sampai subuh setiap malam.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Saya tak pernah mendaftar ke universitas yang mereka rekomendasikan. Saya memilih fakultas yang berbeda dari yang mereka sarankan. Saya menyewa tempat tinggal sendiri setelah lulus. Saya memang tak sampai sangat gila-gilaan (dalam artian berbuat kriminal), tapi saya memastikan saya melakukan hal-hal yang orang tua saya anggap ‘penting’, yang saya anggap akan membuat saya TIDAK sama seperti mereka.

Hingga suatu hari, seorang anak lelaki membuat saya patah hati.

Saya duduk di sofa ruang tamu keluarga, anjing kami berbaring melingkar di samping saya. Saya bertanya kepada Ibu apakah ia pikir saya akan menemukan teman hidup suatu hari nanti. Ia bilang, tentu saja.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Ibu tak pernah ragu bahwa saya akan menemukan teman hidup yang cocok bagi saya. Saya tanya lagi kepada Ibu, mengapa ia begitu yakin.

“Karena meskipun kamu selalu mengambil jalan yang berbeda dari Ibu—dan Ayah, kami tahu ada satu kesamaan yang kita miliki: kemampuan untuk berteguh dalam apa yang kita yakini. Dan satu hal ini saja, selalu cukup untuk membawa segala hal baik yang kita butuhkan dalam hidup.”

Saya tersenyum, dan kami berpelukan. Ibu bilang, saya akan baik-baik saja.

“Ibu tahu, kamu akan memaafkan. Lalu, kamu akan mencintai, lagi.”

Ibu tak bermaksud memberi saya nasihat. Ini hanyalah hal yang natural buatnya. Ia percaya pada ketulusan memaafkan, dan bahwa hal baik akan datang pada mereka yang mencoba melakukan hal baik.

Perkataan Ibu menjadi semacam titik balik tentang bagaimana saya memandang keluarga saya. Tentang bagaimana saya memandang orang tua saya.

Selagi ego saya bertumbuh, saya sering mengambil kredit atas segala hal yang saya lakukan: saya melakukan ini, itu berkat tindakan saya, karena saya yang memutuskan melakukan hal ini, dan seterusnya. Saya pikir, dengan mengambil keputusan pasti seperti ini, saya telah berhasil membuktikan bahwa saya adalah pribadi yang mandiri, yang utuh, yang merasa ‘lengkap’ tanpa mengikuti langkah orang lain.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Tapi seiring berlalunya waktu, saya merasa kurang tertarik pada teori ke-AKU-an itu.

Saya mulai menyadari betapa orang-orang di sekitar saya, termasuk orang tua saya, punya hak untuk mengatakan bahwa mereka juga punya peran signifikan sebagai salah satu bintang yang membentuk seluruh konstelasi saya.

Tak saya ketahui waktu itu, bahwa semua tekad saya menjadi mungkin karena kepercayaan yang luar biasa dari orang tua saya, terhadap saya. Karena keduanya mendukung saya, baik secara lisan maupun secara diam-diam. Karena mereka memberikan berkatnya kepada saya. Skenario yang saya buat untuk menyeret diri saya menjauh dari gaya hidup kedua orang tua saya adalah kebingungan saya untuk menenangkan ego raksasa saya.

Saya akui, saya juga pernah takut jika selama ini, orang tua saya benar. Bahwa karenanya, saya yang keras kepala ini akan harus menerima bahwa ia tidak mampu menghindari kesalahan, atau kegagalan. Juga, karena, di suatu tempat di antara semua itu, terkubur jauh di bawah kesadaran saya: saya takut bahwa saya tak bisa berhasil menjadi seperti mereka—jadi, tanpa sadar, saya berusaha untuk sama sekali menolak gagasan untuk menjadi seperti mereka.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Karena saya takut. Dan karena semua momen bodoh selama remaja itu—meskipun akhirnya momen-momen itu menjadikan saya baik-baik saja pada akhirnya.

Ada banyak alasan: hal-hal yang sudah saya ketahui, dan hal-hal yang belum saya ketahui. Tapi saya tahu bahwa saya sudah melampaui ketakutan saya akan menjadi seseorang yang tak bisa membuat orang tua saya bangga.

Seseorang, yang saya tahu, akan dicintai kedua orang tua saya, bagaimanapun juga, tanpa syarat.

Dering Facetime saya memecah keheningan. Ibu menelepon. Kami tinggal di kota yang berbeda sekarang, dan Ibu sedang menelepon saya dengan video. Dering itu terdengar lagi, dan saya menjawabnya.

“Epooooy, lagi apa?” Ibu menyapa.

Wajahnya muncul di layar, cuma separuh. Ayah duduk di sampingnya. Mereka di tempat tidur, menonton TV bersama. Kebiasaan mereka yang lain yang dulu saya benci. Ibu bercerita tentang buku resep barunya, penuh dengan resep kue klasik untuk dicoba. Ayah memberi tahu bahwa ada toko donat mini baru di mall terdekat. Tentang bagaimana tanaman di rumah tumbuh subur dan betapa indah anggrek-anggrek yang mekar.

Lalu ada suara berisik dari televisi di dalam kamar, dan mereka bilang ini episode terakhir dari drama seri India yang sedang mereka tonton. Ih, drama India?!! Sepertinya ekspresi horor di wajah saya terlihat jelas, membuat Ayah meledak tertawa dan berkata, “Kamu harus nonton kapan-kapan. Nggak seburuk itu, kok.”

Saya baru hendak menjawab ketika Ibu memotong dan memutar bola matanya kepada Ayah. “Dia bahkan tak akan ingat apa judul drama seri ini.”

Mereka mengenal saya. Mereka tahu saya tak menyukai banyak hal yang mereka sukai. Tapi lantas saya melayangkan pandangan ke arah meja kecil di samping tempat tidur saya. Ada setumpuk buku resep baru di sana, menunggu dibuka sampulnya. Di sampingnya ada tanaman fig saya yang masih bayi, dipecah ke dalam tiga pot kecil. Saya menyimpan satu pak benih bunga matahari di dalam kotak perhiasan, menunggu waktu yang pas untuk menanamnya.

Foto dari Instagram @lucedaleco

Dan masih pukul 8 malam saat itu, tapi saya sudah memakai celana tidur dan kaus kaki, berbaring menghadap televisi dengan wajah mengantuk. Saya yakin dalam dua jam ke depan saya sudah tertidur pulas. Bercocok-tanam. Memasak. Tidur cepat. Apa yang terjadi?

Ibu memandang saya di telepon dan berkata: “Lucu ya, ketertarikan kita berbeda banget.”

“Iya. Saya nggak akan pernah nonton drama seri India. Nggak ngerti kenapa kalian suka banget.”

Tapi, barangkali, saya akan menontonnya.

Karena yang pasti, belakangan ini, saya justru semakin menjadi seperti Ibu dan Ayah. Orang dewasa yang mungkin dianggap membosankan dan tak berbahaya; sesuatu yang dulu tak saya suka. Menikmati hidup yang sederhana dan mudah, yang dulu saya benci. Menjadi orang yang penyayang dan penuh perhatian, yang dulu membuat saya merasa tercekik.

Saya menjadi semakin seperti Ibu. Semakin seperti Ayah.

Dan anehnya, saya sama sekali tidak keberatan.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dulu, Saya Bertekad untuk Tidak Tumbuh Dewasa Menjadi Seperti Ibu dan Ayah.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Clara Devi | @claradevi

I write to catch the pauses. Time tends to flash fast and gone within a blink, but through every written word I find the force that can hold it to last forever. www.lucedale.co

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar