1.1K

“Paling enak menyusui itu posisi tiduran, jadi kamu bisa sambil ikut tidur sembari si bayi makan tiap jam.”

Tutur seorang anggota keluarga ketika saya mengabari berita kehamilan saya awal tahun lalu. Nggak mau ah, pikir saya. Kalau saya tidur seranjang dengan bayi, lalu bagaimana kebiasaan saya tidur bersama dua buah guling, bantal kepala, dan sebuah bantal kecil untuk saya peluk di dada. Bagaimana saya bisa tidur pulas tanpa khawatir menindih si bayi mungil? Belum lagi suami saya, meski tidak banyak bergerak dan tidak makan tempat, namun cepat sekali pulas dan tidak sadar dengan keadaan sekitar.

Saya mau modern seperti di majalah dan televisi, dong! Bayi saya harus mandiri, bisa tidur sendiri. Keren!

Dua bulan sebelum kelahiran bayi Art, saya mulai sedikit panik. Kamar bayi sudah siap dengan begitu cantiknya, dengan perabotan-perabotan bayi bernuansa putih dan hijau muda. Namun ketika saya merasakan tendangan bayi yang begitu keras, hati saya lumer. Bagaimana mungkin saya tega meninggalkan makhluk mungil tak berdaya ini sendirian, di kamar yang berada di sudut lain rumah pula! Bagaimana mungkin bayi yang baru saja ‘menoel’ perut saya ini bisa mandiri? Saya saja nggak tahu apakah saya sudah mandiri.

Buru-buru saya mencari ranjang kecil khusus yang bisa diletakkan diatas kasur biasa, dengan sudut pengaman di bagian kepala dan sisi-sisi bayi agar ia tetap aman di tempatnya namun tetap berada di samping kita. Tiga bulan pertama setelah kelahiran Art, saya selalu bangun di gerakan ataupun suara pertama yang saya sadari. Setelah mengecek apakah Art lapar, dan tentunya si bayi buntal ini selalu lapar, saya akan duduk di kepala ranjang dan memposisikan dia diatas bantal khusus menyusui, dan lalu menunggu dia selesai menyusu, tertidur pulas, mengembalikan Art ke kasur kecilnya, lalu saya berusaha kembali masuk ke dunia mimpi, yang sangat jarang sekali saya kunjungi ketika itu. Tetapi saya tersenyum, karena tangan saya selalu menyentuh jari jemari mungil malaikat kecil saya.

“Sudah bisa tidur berapa lama si Arthur? Masih bangun berapa kali dalam semalam?”

Demikian pertanyaan beberapa orang terdekat. Saya capek sekali mendengar pertanyaan ini di bulan pertama, karena sudah dasarnya bayi baru lahir untuk makan sedikit demi sedikit berhubung ukuran lambungnya yang masih kecil. Ada lagi yang menyarankan saya memberi tambahan susu formula sebelum tidur, karena dipikirnya bayi saya kekurangan asi. “Bayi kamu ini high-maintenance. Normal, kok,” kata dokter anak saya. Normal bagi bayi di bawah usia enam bulan untuk bangun beberapa kali di tengah malam untuk menyusu.

Ketika usianya sekitar tiga setengah bulan dan kasur kecilnya sudah tidak muat lagi, saya meminta suami untuk memindahkan ranjang bayi yang besar agar menempel ke ranjang sebelah saya, sehingga saya masih bisa menyusui tanpa beranjak dari tempat tidur dan Art masih bisa merasakan kehadiran saya. Setelah beberapa hari mencoba, Art selalu menangis setiap kali saya letakkan di kasur tempat tidurnya. Saya coba letakkan di kasur saya, menangis juga. Akhirnya saya coba letakkan dia di kasur saya sambil saya juga ikut tiduran dan menyusui dia dengan posisi menyamping. Tak terasa mata saya pun ikut redup. Kehangatan tangannya di dada saya begitu menenangkan, dan saya bisa merasakan gerakan napasnya. Sejak hari sampai hari ini, saya dan Art tidur bersebelahan. Jika ia terbangun karena sekadar terbangun atau lapar, ia akan menepuk-nepuk saya agar dikasih menetek.

“Itu artinya ia tidak bisa tidur sendiri. Kamu tuh yang mengkondisikan dia hanya bisa tidur kalau netek. Latih dia tidur sendiri, kalau dia nangis biarkan saja kamu jangan masuk kamar, kecuali dia muntah.”

Wah. Saya gak kebayang ada seorang ibu yang tega membiarkan anaknya menangis, menjerit, lalu menolak untuk memberinya kasih sayang dan kehangatan si ibu. Coba kasih dot saja, kata orang yang sama. Memang terkadang di tengah malam ia mencari saya hanya untuk sebagai dot saja, lalu dilepaskan setelah beberapa menit. Ada orang tua yang mengajak anaknya tidur dengan dinyanyikan lagu sambil di tepuk pantatnya. Ada pula yang selalu digendong sambil diayun, atau diatas rocker khusus bayi yang bisa mengayun sendiri. Bayi saya, seperti kebanyakan bayi ekslusif asi lainnya, hampir selalu tertidur ketika sedang menetek. Kenapa? Karena saya sudah terprogram kalau dia bangun merengek tengah malam biasanya dia haus atau lapar. Bayi baru lahir memang demikian. Namun saya keterusan. Hingga sekarang ini kalau mau tidur atau terbangun di tengah malam, Art pasti mencari puting saya. Tahukah kamu bahwa puting adalah penenang bayi yang paling ampuh?

“Dia terbangun terus karena ada bau susu kamu, jadi kamu harus taruh dia di kamar terpisah jadi dia ga terganggu tidurnya. Lagipula bahaya sekali tidur seranjang dengan bayi. Resiko SIDS, loh!”

Ini dia sumber modernisasi pola tidur bayi yang dimulai pada masa post-modern ketika angka SIDS atau tragedi kematian bayi tanpa penjelasan meningkat sehingga bayi diharuskan tidur di tempat tidurnya sendiri di atas kasur yang keras, dengan menghadap keatas. Lebih baik lagi di kamar sendiri sehingga ayah dan ibu tetap memiliki ruang gerak sendiri. Dari kasus-kasus kematian bayi yang bedshare dengan orang tua, sebagian besar penyebabnya bukan karena SIDS, namun karena ayah atau ibu yang tidur bersama bayi tidak cukup hati-hati; seperti misalnya sehabis minum alkohol atau obat tidur dan tidak sengaja menindih si bayi.

Sudah lebih dari lima bulan ini tidak bisa tidur sepulas biasanya, karena saya selalu sadar akan gerak-gerik Art. Apalagi ia biasanya minta menetek setiap dua atau tiga jam sekali bahkan hingga sekarang. Saya pun harus berkompromi dengan diri muda saya yang ingin selalu tidur memeluk guling dan berselimut sampai leher dengan hanya mengunakan sebuah bantal kecil dan selimut kecil yang kerap kali hanya menutupi sampai pinggang saja. Apakah saya ingin tidur nyaman seperti dulu? Tentu saja!

Namun bayi saya hanya sekecil ini sekali saja, dan saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan saya untuk memeluknya, menciumnya, dan memastikan ia tahu kebutuhannya akan selalu terpenuhi; dengan penuh kasih sayang.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dilema Seorang Ibu Baru: Memilih Antara Naluri, Angan-Angan, Atau Tekanan Luar". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Agnes Adam | @AgnesAdam

Digital media enthusiast • Blogger at agnesanctuary.com • First Time Mom • Traveler and foodie

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar