4.7K
Saya bukan ahli terkait isu depresi. Saya justru termasuk orang yang pernah mengalaminya. Jadi, sebagai terapis kesehatan holistik, saya akan berbagi pengalaman yang saya dapatkan selama mendampingi klien-klien yang tengah berupaya menghadapi depresi.

Depresi bisa dialami siapa pun.

Ya, tak peduli gender, usia, maupun profesi. Depresi bisa dipicu oleh masalah besar; sampai hal-hal yang umum sehari-hari. Tetapi, pada saat mengalami depresi, dapat dipastikan bahwa individu yang mengalami akan melihat masalahnya sebagai masalah yang besar. Karenanya, apapun penyebabnya, ia akan mengalami situasi yang menekan dan tidak nyaman.

Sebetulnya, depresi bisa dideteksi sedini mungkin. Hanya saja, karena kegiatan kita yang begitu sibuk dan padat sehari-hari, gejala-gejala awal tersebut terabaikan. Terkadang, kita justru sengaja mengabaikan karena beranggapan ada banyak tuntutan hidup dan tanggung-jawab penting lain yang mesti diselesaikan. Pada akhirnya, gejala-gejala awal tersebut bukan lagi menjadi prioritas utama yang kita perhatikan; karena hal lain kita anggap memiliki prioritas yang lebih tinggi.

Kita kerap mengalihkan gejala awal. Menyembuhkan akibat, namun membiarkan sebab.

Ambil saja gejala awal susah tidur. Seringkali, solusi kita adalah mengobatinya dengan minum obat tidur, atau minum alkohol. Mungkin juga, kita pergi ke gym dan berolah raga hingga sangat lelah, sehingga tubuh 'dipaksa' tertidur. Beberapa dari kita mungkin akan mengonsumsi makanan atau suplemen tertentu yang dipercaya bsia membuat kita tertidur. Atau, kita lantas pergi ke spa dan tempat relaksasi lainnya untuk mendapatkan efek rileks; sehingga diharapkan, setelahnya kita bisa tidur nyenyak.

Sesungguhnya, apa yang kita lakukan ini merupakan pengalihan. Dan pengalihan ini bisa berupa kegiatan-kegiatan positif, namun juga bisa berupa kegiatan-kegiatan negatif, bahkan menjurus bahaya. Pengalihan di atas bisa saja dilakukan sebagai solusi, namun efeknya biasanya bersifat sementara saja.

Semua kegiatan itu menghilangkan akibat, namun sebab depresinya tidak atau belum dipulihkan.

Seringkali, gejala-gejala awal terjadinya kekurangnyamanan ini tidak kita sadari. Sampai suatu ketika kita sudah merasa terpuruk, barulah kita 'terbangun' dan menyadarinya. Sebetulnya, mungkin keluarga atau orang-orang terdekat sudah menyadari hal tersebut. Tetapi biasanya peringatan dari orang terdekat kerap kita salah artikan. Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa mereka terlalu protektif, terlalu mengekang, bawel, atau... ah, dia terlalu sensitif!

Dalam pengalaman saya berpraktek, orang-orang yang datang ke tempat saya karena disuruh oleh teman atau keluarga, biasanya akan lebih sulit berproses. Ini karena mereka tidak merasa dirinya cocok dengan gambaran orang-orang yang merujuknya datang ke tempat saya.

Akan sangat jauh berbeda kalau mereka datang ke tempat saya karena atas kemauan sendiri. Biasanya, dalam berproses, akan lebih mudah.

Proses transformasi manusia dalam menghadapi masalah batin.

Depresi, stres, ketidaknyamanan dalam batin, atau apapun namanya, semua berawal dari adanya suatu masalah. Dan yang namanya masalah, ada yang disadari, dan ada yang tidak disadari. Ini semua tergantung dari banyak faktor; namun jika saya jelaskan rasanya artikel ini akan jadi teramat panjang.

Tapi yang perlu diketahui adalah apa yang saya ingat dari salah satu guru saya. Beliau pernah berbagi perihal proses transformasi manusia pada saat mengalami masalah dalam batinnya.

Pertama, orang terdekat melihat dia bermasalah, tetapi dia sendiri tidak merasa bermasalah.

Di tahap ini, tak peduli apa yang kita katakan dan bagaimana kita menjelaskannya, individu yang bersangkutan akan menolak dan menyangkal apapun yang disarankan atau diberitahukan kepadanya. Dalam kondisi ini, jika orang terdekat hendak memberikan pertolongan, yang bisa dilakukan adalah mendoakannya. Jika orang terdekat justru menjadi stres dan tertekan karena menghadapi individu tersebut, akan baik kiranya bagi orang terdekat tersebut yang justru datang mengunjungi terapis maupun tenaga ahli lainnya.

Kedua, dia menyadari ada masalah.

Pada tahapan ini, individu yang bersangkutan (ingat, ya) baru menyadari saja. Orang terdekat jangan buru-buru menyarankan apapun. Karena di tahapan ini, yang dia perlu lakukan hanyalah menyampaikan apa masalahnya. Dia hanya mau didengar. Sebaik apapun saran yang kita berikan, belum tentu dia bisa menerimanya. Karena sekali lagi, dia hanya memerlukan seseorang yang mau mendengarkannya dengan baik.

Ketiga, menyadari belum tentu menerima.

Perlu proses bagi individu bersangkutan untuk bisa menerima masalahnya. Nanti, ketika saatnya tiba – yang tidak bisa kita perkirakan kapan – maka dia akan menerima kenyataan bahwa dia tengah bermasalah.

Disinilah tanggapan-tanggapan bisa disampaikan. Tapi, jangan buru-buru menyarankan untuk pergi ke tenaga ahli, terapis, psikolog, atau psikiater. Belum tentu dia menerima saran tersebut. Kenapa? Sayangnya, masyarakat kita masih cemas bahwa ketika masalah batin terjadi dan mereka perlu mengunjungi tenaga ahli, mereka akan dianggap sakit jiwa.

Jadi apa yang bisa disarankan? Kembali, sebagai orang terdekat, kita hanya perlu mendengarkan dan memberikan tanggapan yang menenangkan secukupnya.

Keempat, apabila tahapan penerimaan sudah dilalui, di sinilah yang bersangkutan biasanya meminta/mencari jalan untuk memperbaiki masalahnya.

Pada tahap inilah orang-orang terdekat bisa memberikan saran masukan yang mungkin dapat menolong. Akan lebih baik lagi jika menyarankan individu bersangkutan untuk pergi mengunjungi tenaga ahli yang memang mengerti dan berpengalaman dalam mengatasi masalah yang ia hadapi. Pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki akan membantu proses pemulihan yang bersangkutan.

Penting untuk diperhatikan, tahapan-tahapan tersebut di atas tidak bisa diperkirakan waktunya. Masing-masing individu akan menempuh rentang waktu berbeda dalam melalui tahapan transformasi tersebut. Ini sangat berkaitan erat dengan pengalaman-pengalaman hidup yang telah dilalui individu bersangkutan, sejak dari dalam kandungan sampai di titik dia berada sekarang.

Ada kalanya, tahapan tersebut bisa turun/naik atau maju/mundur, tergantung dari bagaimana mereka menjalani proses pemulihannya.

Namun yang terpenting, dukungan keluarga, orang terdekat dan lingkungan, akan sangat menentukan proses individu bersangkutan dalam melalui tahapan-tahapan tersebut.

Penting bagi keluarga dan orang terdekat untuk memberikan cinta, perhatian, dan kasih-sayang pada individu bersangkutan. Ketika berinteraksi, berinteraksilah tanpa menghakimi atau terkesan menasihati. Jadilah teman dan pendengar yang baik, yang hadir saat ia membutuhkan.

Pastikan juga bahwa kondisi batin kita tetap tenang saat menghadapi individu yang bersangkutan. Hanya dengan begitulah, kita bisa memberikan dukungan yang tulus dan jernih baginya selama proses pemulihan.

Semoga kita semua sehat dan berbahagia.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bagaimana Mendukung Orang Terdekat yang Mengalami Depresi?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Diwien Hartono | @diwienhartono

Diwien Hartono adalah praktisi kesehatan holistik dan pemandu sesi Tapas Accupressure Technique (TAT) dan Jin Shin Jyutsu. Ia dapat dijumpai (dengan perjanjian) di True Nature Holistic Healing, Dharmawangsa - Jakarta.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar