9.5K
Setiap orang punya cara berbeda untuk mencintai dan kebutuhan berbeda untuk bisa merasa dicintai. Mempelajari ‘bahasa cinta’ pasangan bisa menghindarkan kita dari salah paham yang kerap terjadi.

Mungkin kita sudah kerap mendengar nasihat yang mengatakan ‘cintailah orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri’. Meski nasihat ini pada dasarnya baik, namun mencintai orang lain sebagaimana kita ingin dicintai justru kerap berujung salah paham.

Mengapa demikian?

Karena setiap orang ternyata punya ‘bahasa cinta’ atau love language yang berbeda! Sama seperti berbicara dengan seseorang yang berbahasa asing, jika kita tak saling mengerti bahasa masing-masing, maka kita akan kesulitan dalam berkomunikasi—atau mungkin upaya kita bercakap-cakap malah akan berujung salah pengertian.

YANG MANAKAH ‘BAHASA CINTA’ KITA?

Dr. Gary Chapman, seorang ahli antropologi dan konsultan pernikahan, menjelaskan betapa pentingnya memahami ‘bahasa cinta’ kita dan pasangan untuk menjalin hubungan yang lebih harmonis.

Dengan memahami ‘bahasa cinta’ pasangan, kita bisa mencintainya sebagaimana ia ingin dicintai—bukan sebagaimana kita ingin dicintai!

Dari 5 ‘bahasa cinta’ di bawah ini, jika kita harus mengurutkannya dari yang paling penting hingga yang paling tidak penting, kita sebenarnya sudah bisa menebak-nebak ‘bahasa cinta’ dominan kita sendiri:

1. Kata-kata Peneguhan (Words of Affirmation)

Jika ini adalah ‘bahasa cinta’ kita, kita baru akan sungguh-sungguh merasa dicintai ketika kita mendengar langsung pasangan mengatakan bahwa mereka mencintai kita. Kata-kata yang meneguhkan keyakinan kita seperti ‘aku cinta kamu’, atau ‘kamu adalah yang terbaik untukku’, atau ‘aku sangat beruntung bisa menghabiskan waktu bersamamu’ membuat kita merasa benar-benar dicintai dan dihargai.

2. Melayani (Acts of Service)

Jika ini adalah ‘bahasa cinta’ kita, kita baru akan sungguh-sungguh merasa dicintai ketika pasangan melakukan hal-hal tertentu untuk membantu meringankan beban kita. Ketika pasangan membantu kita memasang rak buku, menyiapkan secangkir teh, melakukan tugas-tugas rumah tangga, memijat bahu ketika kita pulang dalam keadaan lelah, momen-momen inilah yang membuat kita merasa sangat dicintai.

3. Menerima hadiah (Receiving Gifts)

Jika ini adalah ‘bahasa cinta’ kita, kita baru akan sungguh-sungguh merasa dicintai ketika pasangan memberikan ‘hadiah’ untuk kita. Tunggu, ini bukan berarti kita adalah orang yang materialistis! Orang-orang yang merasa dicintai ketika menerima hadiah tak peduli apakah hadiah yang diberikan merupakan hadiah yang murah atau mahal. Yang lebih penting bagi kita adalah bagaimana ‘hadiah’ ini melambangkan perhatian pasangan terhadap kita. Kita bisa sudah sangat senang dengan ‘hadiah’ berupa selembar puisi yang diletakkan di atas meja makan, cangkir kopi baru yang dibawakan pasangan karena cangkir kopi lama kita pecah, atau oleh-oleh berupa sebungkus makanan ketika pasangan pulang dari tugas di luar kota.

4. Waktu Berkualitas (Quality Time)

Jika ini adalah ‘bahasa cinta’ kita, kita baru akan sungguh-sungguh merasa dicintai ketika pasangan meluangkan waktunya untuk kita. Saat pasangan menemani kita ke acara-acara kantor, memblok akhir pekan khusus untuk kencan, atau menghabiskan waktu untuk mendengarkan kita bercerita tentang hari yang baru saja dilalui, kita merasa sungguh-sungguh dicintai. Adalah penting bagi kita bahwa pasangan menyediakan waktu yang cukup banyak untuk melakukan berbagai kegiatan berkualitas bersama-sama, bahkan di tengah segala kesibukan yang melanda.

5. Sentuhan Fisik (Physical Touch)

Jika ini adalah ‘bahasa cinta’ kita, kita baru akan sungguh-sungguh merasa dicintai ketika kita kerap merasakan sentuhan fisik dari pasangan. Ketika pasangan mengelus rambut, menggenggam tangan, merangkul, memeluk, menautkan jemari, atau mencium kita, misalnya, saat itulah kita merasa sangat dicintai.

Jika kita dapat memahami ‘bahasa cinta’ dominan kita dan ‘bahasa cinta’ dominan pasangan kita, kita akan dapat mengungkapkan rasa cinta kepada pasangan dengan lebih baik; dan membuatnya mengerti akan perasaan kita yang sesungguhnya. Yang perlu kita lakukan adalah mengungkapkan cinta kepada pasangan dengan menggunakan ‘bahasa cinta’ dominannya: bahasa cinta yang paling ia mengerti.

Coba saja kita ambil contoh pasangan A dan B yang ternyata memiliki ‘bahasa cinta’ yang berbeda.

A kerap merasa gundah karena B tidak pernah ‘menyatakan cinta’. A tak pernah mendengar kata-kata seperti ‘aku sayang kamu’ atau ‘aku sangat bahagia hidup bersamamu’ dari B. Setelah bertahun-tahun, kegundahannya bertumpuk menjadi kesal yang menggumpal.

Akhirnya, suatu hari A pun meluapkan amarahnya pada B. “Kamu tidak mencintaiku! Selama bertahun-tahun kita bersama, kamu bahkan tidak pernah mengatakan bahwa kamu mencintaiku!”

B terkejut dengan luapan amarah ini. “Tentu saja aku mencintaimu!” kata B. “Aku selalu ingat hari-hari penting kita dan selalu merayakannya bersamamu. Aku membantumu melakukan berbagai tugas-tugas di rumah, aku tidak pernah melarangmu ketika kamu ingin terus berkarir atau menghabiskan waktu dengan kawan-kawanmu... bagaimana mungkin kamu berpikir bahwa aku tidak mencintaimu?”

“Karena kamu tidak pernah mengatakannya!” ujar A

“Untuk apa aku mengatakannya? Kamu kan bisa melihat sendiri bagaimana aku selalu mencintaimu selama ini?” sahut B.

MENGGUNAKAN BAHASA CINTA UNTUK MEMAHAMI PASANGAN

Kesalahpahaman semacam ini mungkin bukan hal asing dalam kehidupan kita. Dalam kasus di atas, bahasa cinta A yang dominan adalah Kata-kata Peneguhan, sementara ‘bahasa cinta’ B adalah Melayani dan Waktu Berkualitas. Karena masing-masing berbicara dengan ‘bahasa cinta’ sendiri-sendiri, keduanya tak bisa memahami kebutuhan yang lain dengan baik.

Jika B mengerti bahwa ‘bahasa cinta’ A adalah Kata-kata Peneguhan, maka ia tahu bahwa ia perlu mengatakan ‘aku cinta kamu’ dari waktu ke waktu agar A dapat memahami ungkapan cintanya. Sebaliknya, jika A mengerti bahwa ‘bahasa cinta’ B adalah Melayani dan Waktu Berkualitas, ia tidak akan terlalu keras menuntut B untuk menyatakan cinta lewat kata-kata yang ekspresif.

Seseorang dengan Sentuhan Fisik sebagai ‘bahasa cinta’ dominan kemungkinan akan kesulitan untuk menjalin hubungan jarak jauh. Seseorang dengan Waktu Berkualitas sebagai ‘bahasa cinta’ dominan kemungkinan besar akan sering bertengkar jika memiliki pasangan sibuk yang sering bepergian dan bekerja hingga larut-malam, bahkan di akhir pekan.

Memahami ‘bahasa cinta’ dominan kita dan pasangan bisa jadi menjadi awal baik di tahun baru ini untuk menjalin hubungan yang lebih baik pula! Ada 30 pernyataan yang bisa kita isi dalam waktu 10 – 15 menit di website The 5 Love Languages dari Dr. Gary Chapman ini, untuk lebih jelas lagi menentukan ‘bahasa cinta’ dominan kita. Yuk, kita isi bersama-sama dan diskusikan hasilnya dengan pasangan—agar di kemudian hari tak lagi terjadi salah-paham dalam berkomunikasi dengan ‘bahasa cinta’ masing-masing!


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dari 5 Bahasa Cinta Ini, yang Manakah Bahasa Cintamu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hanny Kusumawati | @hannykusumawati

Managing Editor of Kamantara.ID. A published writer and blogger at www.beradadisini.com. Organises workshops & weekend getaways in creative/travel/mindful writing & creative living.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar