5.9K
Ada satu saat ketika saya merasakan satu kali lagi kehilangan, hati kecil saya bertanya, apakah setiap saat saya harus berjuang? Apakah memang hidup harus dijalani dengan penuh perjuangan, berat dan melelahkan? Mungkinkah hidup damai dengan cara seperti ini?

Karena kita percaya hidup itu keras dan dunia ini penuh persaingan, maka kita menganggap satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan ngotot berjuang. Memang benar ada banyak hal yang baru bisa kita nikmati setelah mengeluarkan sejumlah usaha. Namun kengototan terhadap pencapaian tak jarang membawa kita ke jurang keputusasaan yang dalam, sampai-sampai kita kehilangan hasrat hidup karena letih berjuang. Satu pencapaian tak pernah cukup, susul menyusul dengan keinginan mencapai lainnya. Sampai kapan?

Kegagalan yang saya alami saya terjemahkan sebagai kekalahan hidup. Waktu itu, satu-satunya cara yang saya tahu adalah dengan bangkit berdiri dan menantang hidup sekali lagi. Alih-alih merengkuh pelajaran yang ditawarkan hidup, saya malah menjadikannya musuh yang perlu untuk ditaklukkan terus-menerus. Penyebabnya tak lain adalah karena saya percaya bahwa pada akhirnya saya akan menang jika saya terus mencoba.

Padahal, hidup menawarkan kegagalan dan kehilangan bukan untuk mengalahkan kita melainkan untuk memberi kesempatan kita belajar lalu membelokkan arah ke tujuan lain yang lebih baik. Ada satu saat ketika saya merasakan satu kali lagi kehilangan, hati kecil saya bertanya, apakah setiap saat saya harus berjuang? Apakah memang hidup harus dijalani dengan penuh perjuangan, berat dan melelahkan?

Mungkinkah hidup damai dengan cara seperti ini?

Pertanyaan tersebut menjadi titik balik dalam cara saya memandang hidup. Untuk pertama kalinya, diantara suara-suara ribut anak-anak yang sedang saling menggoda, sambil memandangi dinding rumah kecil saya yang mulai retak dan mengelupas disana-sini, saya merasa amat berkecukupan. Tiba-tiba segala ambisi tidak lagi terasa begitu penting. Target, keinginan untuk merasakan kekuasaan, kekayaan dan ketenaran tak begitu menarik lagi. Apa yang kumiliki disini, saat ini sudah cukup dan amat sangat berharga.

Perasaan cukup ini begitu aneh dan asing. Jangan-jangan ini sebenarnya perasaan putus asa dan tak berdaya yang berkamuflase dalam perasaan cukup memiliki. Maka, saya meneliti hidup saya sekali lagi. Jelas saya bukan orang yang gampang menyerah, dan setiap tahapan hidup saya dipenuhi dengan pahatan akan kerja keras dan pengorbanan yang tidak sedikit. Jika saya memililih berjuang sekali lagi untuk tujuan tertentu, sama sekali tidaklah sulit. Tapi, di saat ini, justru sebaliknya. Saya tidak ingin apa-apa lagi.

Apakah salah merasa cukup?

Apakah aneh ketika atasan menawari melanjutkan ke jenjang S3 saya tak super antusias seperti dulu dan meminta waktu untuk memikirkannya terlebih dulu? Saya tak ingin bersekolah hanya demi sebuah keharusan, saya justru ingin bertanya pada hati yang terdalam apakah saya sungguh membutuhkannya? Menginginkannya?

Apakah dapat membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik? Sebab meneruskan pendidikan adalah perjuangan yang tidak mudah. Saya tak ingin membuat diri ini ngotot kelelahan. Saya ingin hidup dengan damai. Damai bagi saya adalah menerima dengan penuh syukur segala sesuatunya, termasuk segala ketidak sempurnaan yang mengiringi kehidupan.

Perjalanan untuk memahami rasa cukup ini juga mendorong saya untuk lebih fleksibel melihat hidup. Bahwa hidup tak harus selalu disikapi dengan berat. Bahwa kecukupan ini membawa rasa ringan. Bahwa hidup tak selalu soal menaklukan, tapi bagaimana berteman dengan kesulitan dan kegagalan. Menang kalah, terkenal atau biasa-biasa saja, tidak ada bedanya. Semua bagian dari hidup.

Bagi saya, ini momen pencerahan, yang datang tidak tiba-tiba, melainkan melalui pergulatan panjang disertai rasa lelah, putus asa, dan rasa sakit karena kehilangan. Ya, sebab ketika saya berjuang mati-matian dan gagal, sakitnya luar biasa. Saya ingat di usia yang 29 tahun, saya pernah bertanya pada Tuhan mengapa saya kerap mengalami pengalaman kehilangan.

Bahkan di usia tiga puluh lima tahun, saya merasakan kehilangan yang dalam setelah perjuangan panjang yang mengguncang fisik dan mental. Karena dalamnya kehilangan yang dirasakan, saya sempat berpikir, rasa berkecukupan yang tengah saya rasakan adalah kamuflase dari ketidakberdayaan. Saya hanya malas saja berjuang lagi. Tapi, justru hati saya makin keras bertanya, apakah hidup memang harus selalu berjuang? Jangan-jangan bukan perjuangan lagi yang semestinya menjadi fokus dalam hidup, namun merangkul semua yang ditawarkan hidup dengan ringan.

Saya tahu ini hanya awalan saja. PR di depan masih panjang. Semoga rasa cukup ini menuntun saya pada pembelajaran untuk menerima segala kontradiktif dalam hidup, meresponnya dengan wajar dan mengalir bersama waktu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Damai Bersama Rasa Cukup.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

PR Ujianti | @puturahayuujianti

A mother, a father, a teacher, a writer, and a seeker

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar