10.9K
Jarak adalah cambuk bagi orang-orang yang tak betah lama-lama berjauhan.

Keinginan untuk selalu dekat dengan orang terkasih adalah hal yang wajar. Entah keluarga atau kekasih, mereka menjadi sumber semangat dan tempat "pulang". Bahkan, sekadar berbincang bersama mereka dengan ditemani segelas kopi pun sudah cukup. Sebab entah apa namanya, molekul dan partikel dalam diri mereka adalah candu. Kita selalu ingin dekat sehingga bertemu menjadi obat.

Oleh sebab itu, hubungan jarak jauh yang menyebabkan jarangnya perjumpaan, kerap menjadi permasalahan bagi sebagian orang.

Apa yang paling dikeluhkan dalam hubungan jarak jauh?
Adalah jarak: yang menjelma ratusan bahkan ribuan menit waktu untuk bertemu.

Saya pernah bertanya kepada seorang kenalan mengenai hubungan jarak jauh. Kebetulan, seorang kenalan itu memiliki kekasih yang berada di lain pulau. Kekasihnya itu tengah mengejar mimpi, pun begitu dengan kenalan saya ini. Sayangnya, mimpi mereka berada di tanah yang berbeda: Kalimantan dan Jawa.

"Berat tidak menjalaninya?" tanya saya.

"Tergantung kitanya, sih," jawabnya disusul senyum tipis.

"Seberapa sering bertemu?"

"Tiga bulan sekali. Akhir bulan biasanya."

Perbincangan kami sampai pada topik jarak.

Saya yang memang ingin sok nyeni ini kemudian bertanya dengan rima akhir yang sama. "Dalam hubungan jarak jauh, apakah jarak menjadi keluh?" tanya saya. Apa yang keluar dari mulut kenalan saya ini begitu memikat. Rupa-rupanya ia punya bakat nyeni juga.

Pikiran saya kemudian melayang.

Saya memikirkan mereka, entah pasangan kekasih, pasangan suami-istri, atau orang tua dan anak yang menjalani hubungan jarak jauh. Mereka sungguhlah kuat. Sebab, saya pikir, jarak adalah cambuk bagi orang-orang yang tak betah lama-lama berjauhan.

Bila ditelaah, tantangan terbesar bagi orang-orang, keluarga, sahabat, maupun pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh adalah komunikasi dan kepercayaan. Tidak peduli apa kata orang, asal kepercayaan masih dipegang maka curiga tidak akan berkembang. Tidak perlu iri dengan yang setiap hari bertemu. Asal komunikasi, entah pesan teks, telepon, atau video call dijaga, maka rindu tidak akan membunuhmu.

Sehingga, bila orang bertanya, "Dalam hubungan jarak jauh, apakah jarak menjadi keluh?"

Jawab saja, "Jarak adalah nikmat. Ia mengikat rindu untuk sebuah jumpa hangat di penghujung bulan," seperti jawaban kenalan saya tadi.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Dalam Hubungan Jarak Jauh, Apakah Jarak Menjadi Keluh?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Dwi Lestari | @dwilestari7897

Bukan siapa-siapa, cuma pencerita.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar