61.5K
Setiap kali saya cerita soal ini kepada orang lain, nasihat yang saya terima selalu seputar, istirahat, jalan-jalan, dan bersyukur. Rasanya saya ingin teriak: Lo nggak merasakan apa yang gue rasakan!!!

Sepertinya ada begitu banyak cerita tentang perjalanan kehamilan, proses melahirkan, dan pengalaman pertama menjadi Ibu. Namun, saya sendiri jarang menemukan cerita tentang perjalanan menuju depresi. Apalagi, perjalanan menuju depresi setelah kelahiran anak pertama.

Bukankah, itu semacam tabu—makanya nggak pernah diceritakan?

***

Kehamilan pertama menjadi memori yang membahagiakan buat saya. Ia mampu memacu irama jantung saya lebih cepat, dan membuat wajah saya merona merah. Kalau kamu tanya tentang memori semasa saya hamil, 99%-nya saya bahagia. Sisanya, saya mengalami resistensi insulin—dikenal juga sebagai gestasional diabetic—dan itu juga nggak mengurangi kebahagiaan saya.

Hal yang sama juga saya rasakan pada saat melahirkan. Percaya atau nggak, buat saya melahirkan itu nggak sakit. Well, sakit, sih. Tetapi, nggak sesakit yang orang-orang ceritakan, kok! Saking seringnya membaca blog para perempuan tentang proses melahirkan, saya menaruh ekspektasi bahwa melahirkan itu SAKITNYA LUAR BIASA. Ternyata? Sakit, sedikit.

Saya heran. Bidan dan perawat ikut heran. Kami heran karena saya benar-benar mampu menahan sakit dengan baik, dan masih bisa bersenda-gurau pada pembukaan tujuh. Sejujurnya, semua rasa sakit itu bak dihipnotis oleh kedekatan saya kepada Sang Pencipta, baik selama kehamilan maupun proses melahirkan.

Saya bahagia karena saya merasa begitu dekat dengan Tuhan. Kehamilan seperti sebuah perjalanan batin dalam memahami pekerjaan Tuhan, menciptakan kehidupan. Dan proses melahirkan, menambah rasa cinta dan kagum saya kepadaNya.

Sayangnya, begitu mengejan dan si bayi keluar dari rahim, semua terasa berbeda. Saya tahu Tuhan masih ada di samping saya, tetapi saya yang nggak bisa merasakan kehadiranNya. Dan, hidup saya mulai suram. Saya menyebut masa-masa itu sebagai dark era di dalam kehidupan saya.

Semuanya Suram

Selama tiga hari dua malam di rumah sakit, saya hanya mendengar dua orang bayi yang menangis. Seorang bayi di kamar ujung, dan bayi saya. Mereka seperti berlomba-lomba menangis. Atau mungkin, saling mengadu bahwa dunia barunya yang gegap-gempita ini, nggak senyaman rahim ibu?

Hampir setiap siang dan malam saya membunyikan bel, memanggil bidan atau perawat. Bukan untuk mengganti popok si bayi—saya sudah jago kalau soal ini—melainkan untuk menenangkan si bayi yang menangis dengan kencang. Saya panik dan terlalu lelah untuk mampu menenangkannya.

Begitu tiba saatnya untuk pulang, saya merasa gundah-gulana. Membayangkan nggak ada bidan dan perawat yang akan membantu saya, nyali saya pun ciut. Kemudian, muncul lah semua ‘andai kata’. Andai kata ASI saya nggak cukup, bagaimana? Andai kata bayi saya nggak berhenti menangis, bagaimana? Dan lain sebagainya.

Ketakutan saya pun menjadi kenyataan. Bayi saya menangis tanpa henti, sepanjang hari. Dia nggak hanya menagis di malam hari, seperti cerita para ibu, tante, nenek, dan oma. Ia menangis SEPANJANG HARI.

Ia hanya ingin didekap sambil digendong, kemudian tertidur. Jika diletakkan di kasur, ia menangis. Jika berhenti digendong, ia menangis. Dan sering kali, ia menangis dan sulit ditenangkan.

Stres melanda saya. Apalagi, saya nggak pakai pengasuh. Pagi hingga sore hari, saya berdua bersama si bayi. Menimangnya tanpa henti. Menyusuinya terus, dengan jeda beberapa menit. Belum lagi urusan gumoh dalam kuantitas sering dan kualitas yang banyak.

Sore hari, Ibu saya pulang kerja. Ia akan membantu saya menimang si bayi. Begitu si bayi tidur, ia akan meletakan si bayi di atas kasur dan tidur bersamanya. Sayangnya, itu hanya bertahan paling lama 45 menit. Kemudian, si bayi akan terbangun karena ingin menetek langsung kepada saya.

Malam hari, suami saya pulang. Itulah saat-saat yang membahagiakan untuk saya. Ada kelegaan di hati saya saat melihat wajahnya. Saya lega, akhirnya bisa menyerahkan urusan menimang bayi kepada suami. Setidaknya, saya bisa mandi dengan tenang, kemudian melihat-lihat media sosial.

Sayangnya, semua pertolongan itu nggak membuat suram dalam diri saya sirna. Saya tetap merasa suram setiap hari. Nggak merasakan kebahagiaan atas kehadiran si bayi. Nggak merasa nyaman saat menyusui bayi—bahkan ada rasa enggan menyusui.

Pernah suatu kali, Ibu dan suami saya memohon dengan marah kepada saya untuk menyusui si bayi. Saya menolak dengan ketus. Mungkin, kamu nggak mengerti perasaan ini, pun saya. Yang saya paham adalah saya terlalu lelah untuk menyusui setiap saat. Saya merasa dirantai dan nggak bisa pergi ke mana-mana.

Di akhir pekan, saya nggak bisa lagi jalan-jalan ke mall. Saya nggak bisa lagi menonton bioskop, atau sekadar ngopi bersama teman. Bayi saya menolak berkendara lebih dari lima menit. Dia akan menangis dengan sangat kencang, hingga kami menurutinya untuk keluar dari mobil.

Saat masuk ke dalam mall pun, dia akan terus menangis dengan kencang. Minta digendong dan ditimang. Atau menetek Ibu. Jadi, buat apa saya pergi berjalan-jalan, ngemall, atau ngopi, jika hanya menambah stres di kepala, kan? Jadi, saya memilih di rumah 24/7.

Saya merasa kehidupan saya nggak lagi berwarna. Hidup saya harus didedikasikan untuk si bayi.

Betul. Memang seharusnya begitu. Tetapi, saya nggak bisa menikmati setiap momen keibuan itu. Rasanya, saya ingin melarikan diri dari tugas keibuan. Sebentar saja....

Namanya Postpartum Depression

Stres melanda saya. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan… hingga usia si bayi satu tahun.

Setiap kali saya cerita soal ini kepada orang lain, nasihat yang saya terima selalu seputar, istirahat, jalan-jalan, dan bersyukur. Rasanya saya ingin teriak marah: Lo nggak merasakan apa yang gue rasakan!!!

Bahkan, Ibu saya bilang bahwa saya membesar-besarkan atau mendramatisir apa yang sedang saya alami. Dia selalu bilang, “Jadi Ibu itu emang gitu rasanya.” Dan nasihatnya semakin membuat saya menyesali peran menjadi ibu. Semua ‘andai kata’ pun keluar lagi.

Ada pula nasihat soal di bulan ketiga semuanya akan berbeda. Kata orang, begitu bayi berusia tiga bulan, ia akan lebih mudah ditangani. Tetapi, lagi-lagi, saya ingin teriak keras-keras! Semua itu nggak terjadi di saya. Semakin si bayi bertambah bulan, semakin berat rasanya hidup saya. Si bayi mulai GER (Gastroesophageal Refluks). Atau, bahasa awamnya gumoh.

Ini bukan gumoh biasa, teman. Sungguh! Saya bisa menggantikan baju si bayi dua kali dalam semenit, hanya karena dia gumoh dalam jumlah yang banyak. Bisa pula, ia gumoh hingga berceceran ke lantai saat saya menggendongnya. Well, GER bukan masalah serius, tapi menjadi serius jika si bayi mulai kolik—menangis berjam-jam—karena GER-nya.

Teman, sungguh gampang untuk menasihati ibu seperti ini, dengan berbagai macam kata mutiara. Atau, bilang saja bahwa dia kurang bersyukur. Tetapi, tahukah kalian bahwa semua nasihat itu nggak akan memperbaiki hidup si ibu?

Terlalu sering mendengar nasihat serupa dari teman dan keluarga, saya muak! Saya pun mulai mencari tahu tentang kondisi yang saya alami. Ternyata, namanya adalah post partum depression (PPD) atau depresi pasca melahirkan. Ini bukan baby blues, ya, teman. Kondisinya lebih gawat dari baby blues karena sudah masuk tahap depresi.

Dari semua artikel soal PPD yang pernah saya baca—umumnya artikel medis—banyak sekali faktor penyebab PPD. Selain, kelelahan, kurangnya dukungan untuk ibu menyusui, faktor hormonal juga menjadi salah satu penyebab PPD.

PPD yang nggak ditangani dengan baik, akan menjadikan si Ibu depresi berkelanjutan, bahkan hingga si anak berusia enam tahun. Atau, bisa jadi membahayakan si anak karena ibu rentan melakukan kekerasan verbal atau fisik kepada anaknya.

Di luar negeri, awareness tentang PPD sudah mulai banyak. Sayangnya, di sini ibu yang mengalami baby blues atau PPD hanya akan diberikan kata mutiara atau dicemooh karena dianggap nggak bersyukur dan ANEH--setidaknya, itu yang saya rasakan dan alami. Padahal, kondisi PPD ini termasuk kondisi gawat darurat karena dapat mebahayakan ibu dan bayi.

Cemoohan nggak hanya datang dari tetangga atau teman, lho. Cemoohan juga bisa datang dari keluarga dekat si ibu. Namun, bentuknya bukan ejekan, melainkan menolak untuk meyakini bahwa si ibu menderita baby blues atau PPD.

Pada kasus yang berbeda, post partum psychosis, si Ibu bahkan mengalami halusinasi. Keadaan-keadaan semacam itu, menunjukan bahwa tubuh si ibu nggak lagi sanggup untuk menahan semua hal yang dia alami, baik fisik dan mental. Sehingga, ada semacam korsleting yang terjadi pada dirinya.

Tanda-tanda PPD

Lantas, bagaimana kita sebagai ibu atau orang yang dekat dengan si ibu, mendeteksi soal PPD? Well, tanda-tanda yang dirasakan atau tampak, bisa berbeda antara satu ibu dengan ibu lainnya. Tetapi, saya akan bagikan tanda-tanda yang pernah saya alami:

  • Hilang napsu makan - Sebagai penggemar makanan, nggak mungkin saya menolak untuk makan. Sayangnya, saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama gadget dibandingkan makan. Jarang sekali saya merasakan lapar. Ibu dan Ibu mertua saya kerap menawari saya makanan agar ASI-nya banyak. Duh! ASI itu diproduksi dari hormon, Ma. Bukan makanan.
  • Nggak bisa tidur - Ini yang paling sering terjadi pada saya. Selelah apapun, saya nggak bisa tertidur. Saya hanya ingin melakukan hal-hal yang menghibur diri pada saat si bayi tidur. Bahkan, di malam hari pun rasanya saya nggak mengantuk. Belakangan, saya baru tahu bahwa seseorang yang mengalami depresi akan sulit untuk tidur.
  • Fatigue - Lelah yang luar biasa. Saya merasa napas yang keluar dari tubuh saya terasa panas. Daerah kerongkongan pun terasa panas. Ini juga yang menyebabkan saya nggak nafsu makan. Rasanya, tubuh saya kehabisan energi, tetapi harus tetap bertahan untuk si bayi. Kadang, saya ingin menyerah saja.
  • Kehilangan motivasi - Nah! Ini yang membuat saya selalu murung. Rasanya, saya nggak punya motivasi lagi untuk bangun di pagi hari dan menikmati hidup. Ia terlalu suram, sehingga saya nggak mengerti cara menikmatinya lagi. Saya merasa rutin saya begitu-begitu saja dan nggak ada variasi.
  • Menangis tanpa sebab - Saya rasa, para ibu baru seringkali mengalami ini. Emosi naik-turun dan menangis tanpa sebab. Saya sering sekali menangis di kamar mandi. Pokoknya menagis saja, tanpa tahu sebabnya. Setelah menangis, ada sedikit perasaan lega.
  • Nggak bisa berkonsentrasi dan pelupa - Ah! Saya gregetan sekali saat nggak mampu menjawab pertanyaan dengan cepat. Saat, nggak mampu mengingat sesuatu. Saya merasa bodoh. Seringkali saat mengobrol dengan suami, saya sulit menangkap kalimat atau pertanyaan yang ia ucapkan. Buat saya, itu mengganggu sekali.
  • Keinginan bunuh diri - Teman, semua hal yang saya sebut di atas pada akhirnya memupuk perasaan ingin mengakhiri hidup. Setiap hari, saya selalu ingin mengakhiri hidup saya sebentaaaaarrrrr saja. Sebentar saja! Saya selalu berandai-andai bahwa diri saya adalah laptop, bisa di-restart dan shut down kapan saja,
Saya menemukan semua ciri-ciri itu pada artikel-artikel yang membahas soal PPD. Kok, banyak sekali ciri-ciri yang cocok? Begitu kesimpulan saya pada saat membaca ciri-ciri PPD. Dari situ, saya memutuskan untuk meminta bantuan psikolog.

Well, psikolog memang nggak murah, teman. Tetapi itu semua harus saya lakukan demi diri saya, dan DEMI SI BAYI. Saya hanya ingin bahagia. Saya hanya ingin bayi saya tumbuh menjadi pribadi yang senantiasa berbahagia.

***

Pengalaman pertama menjadi Ibu itu bisa menyebabkan kita gagal atau sukses. Tergantung, jalan mana yang kita pilih. Saya memilih untuk berhasil melewati ini semua. Dan, keberhasilan saya untuk keluar dari dark era ini, memberikan pengetahuan baru untuk saya soal kesehatan jiwa dan pentingnya kebahagiaan. Terlebih lagi, ini semua mengajarkan saya tentang mencintai dengan tulus.

Oh, ya, teman-teman, tahukah kamu bahwa orang yang mampu mencintaimu tanpa syarat adalah ibumu dan bayimu?


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ya. Saya Mengalami Depresi Setelah Melahirkan, dan Inilah Tanda-tandanya. ". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

amelia virginia | @amelia

perempuan dan ibu

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar