22K
.
“Apa kata orang nanti kalau kita ...”

Kata-kata ini kerap terlontar spontan dari mulut kita. Demikian penting pandangan orang lain di mata kita. Kita terkadang lupa, seperti apa pandangan kita terhadap diri kita sendiri? Bisakah kita kembali mendengar dan mengikuti nurani kita?

Setiap manusia memiliki hati nurani yang bisa menuntun kita dalam hidup sehari-hari. Hati nurani demikian mengakar dalam diri kita sehingga kita tak memerlukan definisi apapun untuk memahaminya. Hanya dengan mendengar kata ‘hati nurani’, kita sudah paham bagaimana sejatinya hati kita: penuntun yang lemah lembut, jernih, dan senantiasa menuju kebaikan dan kedamaian.

Namun, kepekaan kita dalam mendengar apa yang dibisikkan hati kerap tertumpulkan oleh gerak hidup yang serba cepat. Hari-hari seakan merupa rentetan kegiatan yang melompat dari satu keharusan ke keharusan yang lain.

“Mana bisa berhenti sejenak untuk merenung? Tidak ada waktu.” Ini adalah tanggapan yang tak jarang kita utarakan, kepada orang lain, maupun diri sendiri.

Tanpa terasa, kita mulai menjalani hidup sehari-hari berdasarkan hal-hal yang familier. Kita melakukan sesuatu karena kita telah terbiasa melakukannya sejak lama. Kita bertindak sesuai dengan pakem normatif yang tertanam sejak kecil. Perilaku dan keputusan kita terpahat oleh arus pendapat orang lain yang terasa demikian kencang.

SEBERAPA LAMA KITA BISA MENGABAIKAN DIRI KITA?

Jawaban tepatnya tentu berbeda bagi masing-masing kita. Namun, secara umum, hati – yang mencerminkan kesejatian kita – tidak bisa terabaikan terlalu lama. Cepat atau lambat, hati pasti terusik bila kita tak menggubrisnya.

Apabila ini terjadi, maka muncullah kegundahan, keresahan, atau rasa tak sabar.

Bisa pula kita mulai merasakan ketidaknyamanan fisik, seperti ketegangan pada leher, sakit kepala yang sering mengganggu, atau maag yang sering kambuh.

Atau bisikan hati yang terus mengatakan, “Pasti ada sesuatu yang lebih baik dari ini.”

Pada suatu titik, ketidaknyamanan ini demikian meresahkan, sehingga mau tak mau kita terhenti dan mulai menilik apa yang sebenarnya terjadi. Alih-alih merasa terganggu, kita bisa melihat ini sebagai sapaan dari diri. Sapaan untuk kembali mendengarkan hati dan memahami apa yang sebenarnya kita inginkan. Sapaan untuk kembali jujur dengan diri sendiri.

MENDENGAR HATI ADALAH HAL SEDERHANA

Mendengarkan kata hati secara jujur terasa mewah bagi kebanyakan kita. Banyak orang yang merasa berkecil hati bahkan sebelum mulai mencoba, karena pikiran kita yang cerdik dan lincah biasanya langsung berkembang dan memberikan 1001 alasan kenapa hal ini terlalu rumit untuk kita lakukan sekarang. “Mungkin nanti, kalau sudah lebih tenang, kalau sudah lebih mapan, kalau sudah mulai tua,” demikian kita berujar.

Padahal, mendengarkan hati dapat mulai diasah melalui hal-hal kecil sehari-hari. Yang terpenting adalah kita mulai kembali bersentuhan dan akrab dengan suara dari dalam diri kita, seberapa pun terasa singkat atau remeh sentuhan itu. Ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan:

1. Mulai dari hal-hal yang dirasa mudah

Mungkin pada awalnya, sulit untuk langsung mendengarkan dan mempercayai kata hati dalam mengambil keputusan besar dalam hidup. Mulailah dengan yang kecil-kecil dulu. Saat mau makan, misalnya, berhenti sejenak, tenangkan diri, tanya pada diri, “Kita perlu makan apa sekarang? Seberapa banyak?”

Atau saat baru terjaga pada pagi hari, minta petunjuk pada hati, “Apa saya perlu tiduran sejenak lagi, atau bisa langsung bangkit?” Atau ketika memilih posisi duduk di suatu ruangan, tanyakan pada hati, “Di mana saya perlu duduk?” Dengarkan tanggapannya, dan ikuti.

2. Pilih waktu-waktu pribadi

Pilih momen-momen yang tidak terlalu menyertakan orang lain atau yang tidak menyangkut kewajiban kita. Mungkin ketika kita baru terjaga dari tidur, ketika duduk di kendaraan, atau ketika berjalan sendirian. Dengan demikian, kita tidak terbebani oleh tekanan ekstra untuk memenuhi kewajiban atau menjaga perasaan orang lain.

3. Lakukan retrospeksi pada saat-saat tertentu

Pikiran serta emosi yang menyertainya muncul demikian cepat. Pada saat pikiran dan emosi itu muncul, lebih-lebih dalam keadaan gusar, belum tentu kita bisa mengendalikan atau menghentikannya. Reaksi pun muncul spontan. Ucapan dan sikap yang kurang mengenakkan bisa terlontar. Bahkan kadang setelah kita melakukannya pun, saat emosi masih tinggi, kita masih tidak menyadari perbuatan kita.

Saat-saat hening sejenak di antara kegiatan, atau pada penghujung hari, adalah waktu yang tepat untuk menoleh ke belakang.

Kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas, dan merasakan apakah ucapan dan sikap kita itu sudah sesuai dengan hati kita. Sebagai pembanding, tanyakan dalam hati apakah, dalam keadaan hati yang lebih tenang dan bening, kita akan melakukan apa yang tadi kita lakukan, atau kita akan bersikap lebih baik, lebih lembut, dan lebih bijak?

4. Tekunkan diri dalam mengasah kesadaran

Kepekaan mendengarkan hati dapat pula diasah melalui berbagai kegiatan seperti sembahyang, berdoa, bermeditasi, atau olah tubuh berkesadaran seperti yoga, tai chi, chi qong, dan bahkan olahraga seperti berenang atau berjalan/lari pagi; atau kegiatan hobi seperti berkebun dan memasak.

Dalam kegiatan-kegiatan ini, kita cenderung memusatkan perhatian kita pada apa yang sedang kita kerjakan, menyadari setiap ucapan dan gerakan yang kita lakukan, dan menikmati setiap saat. Kesadaran yang terjaga selama menjalani kegiatan ini secara tidak langsung juga sekaligus mengasah kepekaan kita dalam mendengarkan hati.

5. Bila sudah memungkinkan, luangkan waktu lebih lama untuk berlatih mendengarkan dan mengikuti kata hati kita.

Apabila sudah terasa memungkinkan, kita bisa meluangkan rentang waktu yang lebih lama, misalnya beberapa jam, seharian, tiga hari atau bahkan lebih lama lagi, untuk berlatih mendengarkan dan mengikuti kata hati kita.

Selama rentang waktu tersebut, kosongkanlah jadwal. Jalani hari itu dari saat ke saat. Jaga sikap terbuka terhadap apa yang terjadi.

Setiap kita merasa perlu menentukan langkah selanjutnya, tanyakan ke diri kita: apa yang kita rasakan, apa yang ingin kita lakukan saat ini. Dengarkan jawabannya. Dan (kalau terasa memungkinkan dan menyenangkan) ikuti jawaban tersebut.

Misalkan kita saat kita terjaga dari tidur pada pagi hari. Tanya pada diri, apa kita siap untuk bangkit atau perlu berbaring sedikit lebih lama. Setelah berdoa atau melakukan ritual pagi, tanya kembali kepada diri, apa yang ingin kita lakukan. Bila terasa lapar, ikuti, tanya kembali, sarapan apa? Bila ingin jalan pagi, berjalan pagilah. Bila tubuh terasa lelah dan membutuhkan istirahat, beristirahatlah. Demikian seterusnya selama yang kita inginkan.

Kebiasaan-kebiasaan kecil di atas, apabila terus kita lakukan, lama-kelamaan akan membentuk perilaku kita sehari-hari. Secara otomatis, kita kemudian akan cenderung berpikir, berucap, bertindak, dan berlaku sesuai dengan kata hati kita. Kita pun akan semakin matang sebagai seorang manusia yang secara hakiki penuh kasih sayang dan cenderung memilih kebaikan.

Semoga.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Cara Sederhana Mengasah Rasa untuk Mendengarkan Kata Hati". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Eva Muchtar | @evamuchtar

Menggemari tema kebaikan, kesederhanaan, dan hidup yang benar-benar hidup. Eva adalah murid Beshara, penggiat meditasi Bali Usada, dan praktisi terapi kraniosakral. Ia percaya bahwa kita akan menjadi versi terbaik kita bila kita menjadi diri sendiri.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Frans Indroyono | @fransindroyono

Halo Bu Eva, bagaimana jika suara hati itu kosong? Saya berusaha mendengarkan suara batin saya, kadang ada suara, tapi juga kadang tidak ada suara. Seperti mendengarkan ruangan kosong. Apa artinya itu? Terima kasih.