1K
Terkadang, kita membiarkan orang-orang melabeli kita sesuka hati mereka. Tidak ada yang salah dengan itu, karena orang berhak menilai apapun sesuai dengan apa yang nampak pada penglihatan mereka. Namun, kebenaran hakiki hanya terentang antara kita dan Sang Pencipta.

Perceraian kadang membuat saya dilabeli sebagai seseorang yang tidak sayang anak.

Bagaimana tidak, tanpa memikirkan masa depan anak, saya 'melenggang santai' mengakhiri pernikahan; dan memilih bersahabat saja dengan ayah dari anak saya. Saya pun hanya mengasuh anak pada akhir pekan. Sisanya, saya menjalani hidup sesuai peranan yang disuguhkan Semesta.

Sungguh, keterlaluan, tidak patut ditiru, gagal dalam hidup, dan beragam label lainnya biasa dilekatkan kepada saya.

Sakit memang pada awalnya, saat saya benar-benar awam tentang esensi kehidupan.

Pun ketika saya memilih untuk menjalani kehidupan seorang diri.

Saya memang belum menemukan urgensi perihal perlunya saya menikah lagi. Saat ini saya sudah cukup berbahagia dengan kehidupan yang saya miliki. Keluarga, Anak, Pekerjaan, Teman-teman, dan beragam hal yang saya suka. Namun label terus mengikuti saya kemanapun saya pergi. Trauma, Tak Tentu Arah, Suka Kebebasan, Kebarat-baratan, begitulah mereka mengecap saya.

Namun, apakah saya serta-merta terpengaruh label-label semu itu? Dulu mungkin iya, tapi kini, tidak lagi.

Saya menyadari bahwa kunci terpenting untuk hidup bahagia secara hakiki adalah dengan satu cara: bersyukur.

Saya bersyukur betapa status saya jelas sekarang. Cerai Hidup. Saya pun dengan mudah dapat mengurus berbagai dokumen untuk keperluan apapun, termasuk asuransi untuk masa tua saya, juga untuk masa depan anak saya.

Saya juga bersyukur karena Tuhan mempercayakan saya untuk menjadi seorang ibu. Lepas dari apapun keadaan saya dan anak saya saat ini, saya tetaplah ibunya. Dan kalaupun saya tidak bisa setiap hari mendampinginya, merawatnya, memeluk dan menciuminya setiap detik, namun saya selalu ada dalam setiap momen penting kehidupannya dan selalu tahu tentang tumbuh-kembangnya.

Beribu syukur juga saya panjatkan karena hubungan saya dengan keluarga mantan suami sangat baik. Dengan mudah saya dapat mengikuti perkembangan anak, termasuk saat saya ingin mengambil jatah waktu pengasuhan. Semua berlaku secara adil dan baik-baik saja. Penuh dukungan, cinta juga kehangatan.

Saya bersyukur, karena setidaknya, meskipun menjalani kehidupan sendiri dan belum ada rencana untuk menikah lagi, saya selalu dipertemukan dengan orang-orang yang kepada mereka saya bisa belajar tentang arti cinta, kasih sayang, juga seni menjalin hubungan. Sebuah pembelajaran yang sangat berharga bagi saya ketika siap untuk berkomitmen lagi, suatu hari nanti.

Jadi, jika ada yang bertanya, apakah saya merasa gagal dalam menjalani hidup karena begitu banyak label yang secara sembarangan diberikan kepada saya, maka jawaban saya adalah: Tidak.

Justru saya merasa berhasil dalam menimba ilmu yang diberikan sekolah kehidupan, membuat saya begitu menikmati juga mensyukuri babak demi babak kehidupan saya saat ini. Karena pada akhirnya, vonis benar atau salah bukan ditentukan oleh kita sebagai pelaku kehidupan--apalagi oleh manusia lain. Namun oleh-Nya, Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan, yang Maha Mengetahui segala yang nampak maupun tidak.

Setiap kali mengingat hal ini, label-label yang diberikan manusia tak lagi membuat saya risau.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bukan Gagal. Terkadang, Kita Hanya Kurang Bersyukur.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Reader, A Writer, A Bum

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar