2.1K
Merengkuh diri secara utuh dan mencintainya secara penuh meskipun ia berbeda, adalah sebuah perjalanan yang masih terus saya tempuh.
"Kok tangannya gitu?!!"

Celutukan polos yang sering dilontarkan oleh anak-anak ini terkadang masih sulit saya jawab. Entah reaksi semacam apa yang 'pas' untuk memuaskan rasa penasaran di wajah-wajah kecil mereka. Belakangan, saya mencoba tersenyum dan bilang, "Ini? Ini bonus dari Tuhan."

Biasanya, mereka akan terus memandangi jari keenam saya dengan segala cara. Memata-matainya seakan-akan jari ini alien yang menginvasi bumi. Sebagian anak yang cukup berani akan mendekati saya perlahan-lahan, memandangi jari keenam saya sembari menunjuk takut-takut dan mencoba menyentuhnya. "Ini asli?"

Pertanyaan sejenis ini sudah biasa saya terima.

Terlahir dengan jari keenam tentu bukan keinginan saya.

Tetapi, kenyataannya, saya memang terlahir dengan jari keenam yang tumbuh mencuat dari salah satu ruas ibu jari saya. Tak mudah tumbuh besar dengan perbedaan fisik yang cukup menyolok seperti ini. Saya masih ingat sebuah peristiwa ketika saya masih duduk di Taman Kanak-kanak. Seorang kawan memelintir jari keenam saya ketika berdoa. Katanya, aneh, mengapa jemari tangan saya tidak bisa mengatup sempurna. Saya menangis sejadi-jadinya. Rasanya sakit ketika jari keenam itu ditekuk, dipaksa mengatup.

Belakangan, saya tahu. Di hari itu, bukan hanya rasa sakit di jari keenam saya yang membuat saya menangis. Tetapi juga rasa sakit di hati saya. Karena saya berbeda.

Memang, kawan kecil saya itu kemudian dihukum atas perbuatannya; namun rasa percaya diri saya setelah insiden itu terlanjur menciut. Kejadian 'menghebohkan' itu membuat seantero kelas semakin menyadari keanehan saya. Dan sejak saat itu, jari keenam saya merupa beban. Saya kerap memandangi dan mengutukinya; satu hal yang membuat saya berbeda dari yang lain. Saya sensitif dengan isu jari keenam ini. Saya tumbuh pemalu dan tak percaya diri karena 'kelebihan' satu jari.

Seorang pemuka agama dulu pernah menyarankan untuk memotong jari keenam saya saja. "Supaya tidak minder," katanya.

Namun Ayah saya dengan tegas menolak. "Tidak! Kelebihan jangan disia-siakan!" begitu kata Ayah. Maka saya pun tumbuh dewasa dengan jari tambahan. Bukan lagi sepuluh tapi sebelas. Untungnya, kehidupan SMP, SMA, dan masa kuliah tak semengerikan pengalaman saya di Taman Kanak-kanak. Biasanya yang ada hanyalah pandangan aneh tanpa olok-olok. Saya mulai berdamai dengan 'bonus' ini, walau belum mensyukurinya benar-benar.

Suatu hari, seorang kawan yang melihat jari keenam saya, berseru: "Wah, lihat jari ini! Kelebihanmu pasti ada di tangan! Tetaplah menulis dan memigura hidup, suatu waktu pasti anugerah ini akan menyentuh hati banyak orang. Ini anugerahmu!" katanya.

Saya tak tahu persis apa yang membuat saya begitu tersentuh dengan kata-katanya, tetapi seketika, saya menangis haru. Ada rasa damai menyelinap di dalam dada, seakan saya menemukan satu alasan yang menjelaskan dan menghubungkan semua pengalaman hidup saya dengan si jari keenam. Saya tertampar, sekaligus melayang. Saya tak pernah menyangka ada orang lain yang mampu melihat si jari keenam dengan cara seperti itu. Bahwa si jari keenam adalah semacam simbol. Penanda. Anugerah.

Selama ini saya selalu melihatnya sebagai perbedaan yang perlu disembunyikan. Tidak lebih.

Perkataan kawan itu seperti mengubah seluruh cara pandang saya terhadap si jari keenam. Saya tak lagi malu karena memiliki jari tambahan. Kini, saya mampu melihatnya sebagai bagian dari perjalanan hidup dan kisah saya; memeluknya sebagai ciri khas dan pengutuh diri.

Saya beruntung. Saya punya Ayah yang menegaskan kepada saya bahwa 'kelebihan' jemari saya itu bukanlah kekurangan; tapi benar-benar sebuah kelebihan yang tak perlu dihilangkan. Saya juga memiliki seorang kawan yang bisa melihat keindahan di balik jari keenam saya ketika saya tak bisa melihatnya. Saya bersyukur karena saya dianugerahi orang-orang baik ini, yang mengingatkan saya bahwa tak apa menjadi berbeda.

Saya berharap saya bisa menjadi salah satu di antara orang-orang itu. Yang akan melihat perbedaan dalam dirimu--kekurangan dan kelebihanmu; lalu menyampaikan padamu bahwa itu tak mengapa.

Saya tahu, merengkuh diri dan mencintainya secara penuh bukan proses yang mudah. Tetapi proses itu bisa dilalui, terutama jika kita punya orang-orang baik yang kerap mengingatkan kita bahwa kita selalu diterima, dengan tangan terbuka, apa adanya.

Saya juga tahu, kita selalu membutuhkan lebih banyak orang seperti Ayah dan kawan saya itu di dunia ini. Dan saya, saya ingin mencoba menjadi seperti mereka.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Tuhan Memberi Saya 'Kelebihan' Lewat Jari-Jemari Tangan Saya. Jumlahnya 11, Bukan 10.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Natalia Oetama | @Natalivy

Pecinta senja, pengamat langit, petualang hidup, penyuka gerimis, penggemar puisi. Baginya menulis itu terapi agar tetap waras dari pesta pora di kepala.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar