5.6K
Jadi perempuan harus kuat. Jadi perempuan harus ngalah.

Tiba-tiba saya teringat percakapan dengan Ibu saya sebelum saya menikah. Percakapan dan nasihat yang sering saya anggap angin lalu.

Jadi perempuan harus kuat

Jadi perempuan harus ngalah, walaupun kadang bukan kita yang salah

Jadi perempuan harus bisa sumur, dapur, kasur

Saat itu saya hanya tertawa. Dalam hati saya, ada sangkalan: bahwa itu kan perempuan jaman dahulu. Perempuan yang terikat pada budaya patriarki sehingga harus tunduk pada kekuasaan lelaki--demikian pikir saya. Namun, ketika saya memasuki gerbang pernikahan, semua ucapan Ibu seakan menjadi sebuah kekuatan sendiri untuk saya. Semacam sugesti yang masuk di alam bawah sadar; karena selalu dikatakan berulang-ulang.

Nasihat bijak itu membuat saya memiliki gambaran lain tentang sosok seorang perempuan.

Kuat yang bukan berarti keras

Mengalah bukan berarti kalah

Sumur, dapur, kasur bukan berarti menjadi wanita di belakang rumah

Menjadi perempuan buat saya adalah anugerah yang istimewa. Saya diberi kesempatan menjadi tempat dimulainya kehidupan--terlebih bagi mereka yang sudah diberi kesempatan menjadi ibu.

Menjadi istri dan ibu memang butuh kekuatan yang besar. Bagaimana kita menjaga energi dan perasaan kita. Terkadang semua teori yang telah kita baca, sulit sekali dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan saja, sebagai perempuan, seringkali kita diharapkan dapat melakukan banyak hal sekaligus: dari memasak, merawat keluarga, mengurus keuangan, serta menata rumah dalam waktu bersamaan.

Katanya, perempuan harus kuat dan mandiri. Tapi dilema lain datang ketika perempuan-perempuan bekerja di ranah publik, meninggalkan keluarga mereka di tangan orang lain. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah perempuan tanpa rasa tanggung jawab. Padahal, bisa dibayangkan, ya, bagaimana mereka harus mengeraskan hati ketika melangkah pergi meninggalkan rumah; demi menafkahi keluarga. Mungkin terkadang sayup terdengar suara anak menangis memanggilnya kembali, membuat berangkat kerja menjadi pergulatan batin tersendiri. Perempuan-perempuan ini rela susah-payah bangun pagi demi memberikan gizi terbaik untuk keluarga. Perempuan ini rela meninggalkan waktu istirahat mereka demi air susu yang harus dipompa.

Perempuan harus kuat, demikian kata mereka.

Pun dengan perempuan yang banyak dicibir orang karena 'hanya' di rumah saja; meskipun gelar pendidikan tinggi sudah mereka raih. Padahal, mungkin sebagian mereka begitu menikmati kesempatan membahagiakan dan menciptakan rumah yang penuh cinta bagi keluarga. Mungkin pendidikan tinggi itu membuat mereka merasa ingin punya tanggung-jawab lebih dalam mendidik anak-anak mereka. Atau mungkin, mereka ikhlas melepas ambisi dan cita-cita demi membangun keluarga yang mereka impikan.

Perempuan-perempuan dengan ceritanya masing-masing ini memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Bukan hak kita sebenarnya untuk menghakimi perbuatan ataupun pilihan mereka. Pada akhirnya, ketika masing-masing perempuan hebat itu bersungguh-sungguh dalam menjalani pilihan hidupnya, perempuan akan menjadi kekuatan yang besar. Kesungguhan merekalah yang akan membuat peradaban ini menjadi lebih baik. Yang akan membuat generasi selanjutnya lebih baik. Yang akan membuat dunia jadi lebih baik.

Kesungguhan yang dibarengi dengan komitmen penuh serta keseharian yang baik dapat membuahkan hasil yang maksimal. Bukankah pada dasarnya, kita menuju satu tujuan yang sama? Bukankah kita semua mengharapkan dunia yang damai, yang sejuk, yang ramah?

Maka, bukanlah saatnya kita harus saling mencari kekurangan satu sama lain, hanya karena kita berbeda pilihan atau berbeda jalan. Sudah saatnya para perempuan, mencari kebaikan dalam diri perempuan-perempuan lain yang kita temui sehari-hari. Kita bisa saling melengkapi, saling belajar, saling mengerti, saling memahami. Perbedaan itu biasa dalam hidup, kan? Membuat hidup jadi berwarna.

Apapun jalan hidup yang kita tempuh sebagai perempuan, kita adalah perempuan-perempuan hebat. Jadi, mulai hari ini, saya juga ingin menjadi lebih 'ramah' terhadap perempuan-perempuan lain. Karena bukankah kita tak pernah tahu jalan sulit apa yang pernah mereka tapaki untuk sampai pada pilihan hidup mereka saat ini?



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bisakah Kita Menjadi Perempuan yang Tak Mencibir Perempuan Lain?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

bestari prameswari | @bestariprameswari

Wife and mom for her family Passion in writing and cooking

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar