7.5K
Dua minggu lalu, seperti biasa, saya bermalas-malasan dahulu sepulang kantor sebelum mengerjakan hal lainnya. Malam itu, entah mengapa, saya gatal mengecek akun media sosial seorang perempuan yang jadi pilihan mantan suami saya.

Dua minggu lalu, seperti biasa, saya bermalas-malasan dahulu sepulang kantor sebelum mengerjakan hal lainnya. Malam itu, entah mengapa, saya gatal mengecek akun media sosial seorang perempuan yang jadi pilihan mantan suami saya.

Ya, hal yang bodoh dan tidak perlu, memang.

Sudah hampir 4 tahun saya bercerai dari suami saya dulu. Namun, jujur, saya terkadang masih tergoda untuk mengintip akun media sosial perempuan itu. Yang sudah dipilih oleh mantan suami saya bahkan pada saat kami masih berstatus suami-istri. Malam itulah saya ketahui bahwa ternyata keduanya, mantan suami saya dan perempuan itu, sudah melangsungkan pertunangan.

Refleks, senyum pahit mengembang di bibir saya.

Akhirnya, perjuangan mereka tak sia-sia. Mereka masih saja bahagia berdua, bahkan sampai kini keduanya akan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Saya ingin turut bahagia. Dan saya rasa, sebagian diri saya memang sungguh bahagia untuk mereka. Tapi jauh di lubuk hati, tersisa rasa pahit yang tak bisa saya enyahkan. Saya kesulitan menerima semua dengan lapang dada.

Bukan karena saya masih mencintai mantan suami saya, atau sejenisnya. Tapi rasa pahit dan kesal itu hadir ketika saya memandang diri saya sendiri: saya masih di sini, masih menderita dengan trauma-trauma saya akan lelaki, dengan ketakutan-ketakutan saya setiap kali hendak membuka hati untuk seseorang yang baru. Saya masih takut tersakiti lagi, sedangkan mantan suami saya dan perempuan pilihannya sudah bisa berbahagia. Sudah bisa menjalankan kehidupan mereka seperti tak pernah ada apa-apa, tak pernah ada cerita tentang sang mantan istri: saya.

Tiba-tiba, malam itu, kemarahan dan kebencian saya membludak--saya marah dan benci kepada diri saya sendiri. Mengapa saya masih saya tersakiti oleh mereka yang sudah melukai saya bertahun-tahun lalu? Kemudian, pecahlah tangis saya. Bukan pertama kalinya tangis saya pecah seperti ini. Bisa dibilang, menangis histeris tiba-tiba sudah menjadi 'tradisi' yang kerap hadir sejak perceraian saya terjadi.

Saya menangis meraung-raung, menjerit karena kesal dan marah. Saya meluapkan kekecewaan saya terhadap diri sendiri. Saya tahu tak seharusnya saya seperti ini terus-menerus. Sudah 4 tahun! Mengapa saya masih saja runtuh pada saat-saat semacam ini?

Lalu, ada panggilan telepon yang mengagetkan saya. Mama.

Firasat orang tua mungkin memang sangat kuat, ya. Pada saat seperti ini, adalah sosok Mama yang tiba-tiba saja hadir. Saya mengangkat telepon Mama. Beliau paham ketika mendengar saya menangis; sudah biasa, mungkin. Beliau pun bingung harus berbuat apa. Apalagi Mama tinggal jauh dari saya. Lalu saya menyesal karena sudah mengangkat telepon dari Mama; karena mendengar saya menangis akan membuat Mama khawatir dan uring-uringan sendiri karena tak bisa mengunjungi saya. Tapi Mama selalu ada untuk setia mendengarkan keluhan saya. Entahlah, mungkin sebenarnya Mama juga sudah jengah dengan saya yang masih belum juga berubah.

Saya tak juga berhenti menangis saat Mama menelepon, justru tangis saya makin kuat. Sampai saya mendengar di ujung sana beliau juga ikut terisak-isak. Di tengah tangisan saya yang makin kencang, Mama bertanya: apa yang sebenarnya saya inginkan? Apa yang ingin saya lakukan sehingga saya bisa melangkah meninggalkan masa lalu saya yang menyakitkan?

Sejenak saya berpikir. Selama bertahun-tahun, saya tak pernah menanyakan pertanyaan ini kepada diri saya sendiri. Saya tak menjawab dan malah kembali menangis. Lalu, Mama berkata, "Apa kamu ingin datang ke Bandung, menemui mereka, dan menghancurkan hubungan mereka? Itu yang akan membuat kamu puas dan bisa melanjutkan hidup dengan 'normal' lagi? Kalau kamu mau seperti itu, silakan. Coba lakukan!"

Saya tetap menangis sambil berpikir tentang ucapan beliau. Iya, apa sebenarnya yang saya inginkan? Saya rasa, balas dendam bukan jalan yang akan menjamin hidup saya jadi lebih tenang. Karena kalau saya berbuat seperti itu, apa bedanya saya dengan orang-orang yang pernah menyakiti saya?

Masih dengan terisak-isak, saya menjawab, "Nggak mau, nggak mau balas dendam dan merusak hubungan orang".

"Ya, memang tidak ada bagus-bagusnya," ujar Mama. "Kamu ini orang berpendidikan, pintar, sekarang sudah bisa menghidupi diri sendiri, dapat pekerjaan dan segala urusan dimudahkan. Kamu bisa jalan-jalan kesana-kemari, punya banyak teman, mau apa saja gampang. Cuma belum ketemu jodoh saja, kan? Yang bisa kamu lakukan sekarang adalah belajar memaafkan masa lalu. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi. Ambil hikmah positifnya. Kamu lihat, dong, sekarang kamu seperti apa? Harus bangga dengan apa yang sudah kamu raih. Kamu harus bangkit, jangan malah mundur masih mikirin masa lalu. Jangan lihat ke belakang terus. Lihat ke depan.”

Rasanya saya seperti baru saja tertimpa batu besar ketika mendengar perkataan Mama. Iya, di tengah kesedihan, saya seringkali lupa kalau saya yang sekarang adalah hasil dari masa lalu itu.

Saya yang memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan berlama-lama pasca perceraian.

Saya yang bangkit dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat patah hati di depan orang-orang.

Saya yang tidak mau sampai ada orang yang mengasihani keadaan saya.

Saya yang selalu berusaha tegar dan ceria ketika bersama keluarga maupun teman-teman.

Saya yang memutuskan membeli tiket pesawat satu kali jalan ke Australia untuk pertama kalinya. Pada saat membeli tiket itu, saya tidak peduli apa yang akan saya lakukan di sana. Saya hanya ingin memberi hadiah terhadap diri saya.

Saya yang lantas punya cukup rejeki untuk mengajak orang tua saya berlibur, seraya menemani dan menghibur saya di Bali selama 5 hari.

Pada saat menuliskan ini, saya baru bisa melihat banyaknya perubahan dan pencapain yang saya raih selama 4 tahun semenjak perceraian saya.

Seharusnya saya tidak perlu merasa sedih dan meratapi nasib sendiri. Tidak perlu saya merasa paling menderita hanya karena melihat orang lain bahagia. Saya harus bangga terhadap diri saya. Harus lebih banyak bersyukur dan berdoa agar mendapatkan pasangan yang baik.

Selain itu, bukankah banyak hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya? Misalnya, bahwa setelah sekitar 6 bulan pasca bercerai, tiba-tiba kontrak kerja saya yang seharusnya selesai pada bulan September, diputus lebih awal di bulan Juni. Tepat seminggu sebelum saya pergi ke Australia. Saya akan pergi ke Australia sebagai pengangguran, dan tak punya pekerjaan saat saya pulang?

Tapi, selang beberapa hari saja, saya mendapat panggilan telepon mengikuti test pre-qualification interview di salah satu perusahaan IT Australia yang berlokasi di Bali. Dikarenakan dalam waktu satu minggu saya sudah akan berada di Melbourne, maka diaturlah jadwal interview saya agar dapat dilakukan di Melbourne. Kok ya, bisa pas banget?

Proses wawancaranya cepat sekali. Sepulang dari Australia, saya mendapat kabar bahwa saya diterima untuk bekerja di perusahaan tersebut. Saya jadi bisa tinggal di Bali untuk 10 bulan berikutnya! Tempat idaman saya! Mungkin ini sesuatu yang tak akan pernah bisa terjadi selama saya masih menjadi istri seseorang.

Ya, kita tak pernah tahu ke mana setiap rangkaian peristiwa akan membawa kita, sampai saatnya tiba.

Terkadang saya lupa akan hal-hal positif dan pencapaian saya selama ini, selama berusaha keras untuk hidup lebih baik lagi. Saya harus berterima kasih kepada orang-orang yang mencoba ‘menarik’ hidup saya ke bawah. Mereka semua mengajarkan saya untuk bangkit. Mengajarkan saya untuk menghargai kekuatan saya sendiri.

Selama tinggal di Bali, saya mulai aktif dalam komunitas backpacker, dan memperbanyak lingkaran kawan-kawan hingga sekarang. Saya dimudahkan untuk bisa berjalan-jalan ke tempat-tempat yang sudah saya impikan dari dulu, termasuk road trip di Selandia Baru. Saya sudah memiliki rumah idaman dan juga karir yang, Alhamdulillah, selalu dilancarkan. Masih banyak hal-hal positif lain yang seharusnya membuat saya malu karena sudah terus-menerus terfokus pada kesedihan.

Saya tak bermaksud pamer. Tapi pencapaian-pencapaian itu adalah hal-hal yang tak pernah saya sangka-sangka sebelumnya. Saya tak mengira masih bisa melangkah sejauh ini bahkan setelah bencana besar dalam hidup saya. Terkadang, saya juga kagum sendiri: dari mana saya punya kekuatan ini, bagaimana mungkin? Apakah ini kekuatan yang justru datang dari patah hati?

Hingga saat ini, saya masih akan selalu berusaha untuk berdamai dengan masa lalu. Saya harus berhenti untuk membenci diri saya sendiri, dan berhenti membenci orang-orang yang sudah menyakiti saya. Saya paham bahwa yang paling penting adalah memaafkan dan mengikhlaskan. Dan saya masih terus berjuang melakukannya.

Oh, satu lagi.

Sekarang saya sudah lebih berani membuka hati untuk orang baru. Yang, semoga, bisa membimbing saya ke masa depan yang lebih cerah. Kepercayaan diri saya juga sudah jauh lebih meningkat. Dulu saya tidak percaya diri dengan status saya yang sudah pernah menikah. Saya takut karena selalu berpikir bahwa para lelaki akan lebih memilih seorang gadis yang belum pernah menikah.

Tapi, seorang teman mengatakan, “Kenapa kamu peduli sekali dengan apa yang orang lain pikirkan tentang masa lalu kamu? Siapapun lelaki itu, kalau dia mencintaimu, dia akan menerima kamu, dan tak akan peduli dengan masa lalu kamu. Kalau kamu terus mempermasalahkan masa lalumu seperti itu, kamu juga akan membuat lelaki manapun mempermasalahkan masa lalumu. Let it go. Laki-laki yang baik hanya akan menginginkan kamu dan masa depan bersama kamu, tak peduli seperti apa masa lalu kamu. Open your heart."

Saya setuju dengan perkataannya.

Saya percaya segala sesuatu terjadi untuk alasan yang mungkin belum kita ketahui. Balas dendam tak akan mengubah hidup kita jadi lebih baik. Bahkan mungkin sebaliknya, akan jadi bumerang dan merugikan diri sendiri.

Ada pepatah mengatakan, “Work hard in silence, let your success be your noise!”

Ya, tidak perlu lagi berperang dengan diri sendiri dan menangis meraung-raung. Look forward, and keep moving on. Boleh menoleh ke belakang sejenak, tapi hanya untuk melihat seberapa jauh kamu sudah melangkah. Saya sudah memaafkan dan mengikhlaskan masa lalu saya. Saya ingin sepenuhnya berdamai dengan masa lalu, dan sudah tidak ingin memikirkan hal-hal yang menyakitkan.

Yang lalu biarlah berlalu. Jadikan pelajaran yang sangat berharga, dan jadikan sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya hanya berdoa agar orang-orang yang pernah singgah dalam kehidupan saya akan hidup lebih bahagia, dan tidak ada lagi tangisan atau air mata kesedihan.

Jika kalian--yang pernah hadir dalam masa lalu saya--membaca tulisan ini, saya dengan besar hati ingin menyampaikan, bahwa saya sudah memaafkan dan mengikhlaskan semuanya.

Terima kasih atas pelajaran hidup yang berharga.

Mari hidup berbahagia.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bisakah Kita Berdamai Sepenuhnya Dengan Masa Lalu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Elsya Fhani | @elsyafhani

Live in IT world and working as Software tester An amateur blogger who's trying to write about her traveling stories. Love Solo traveling and backpacking! :-)

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

Haiii kawan senasib ???? membaca artikelmu membuat sy ingin berkata : Ya, dunia ini memang memberlakukan hukum tarik menarik. Semakin qta merasa tenang dan bahagia dalam hidup, semakin banyak hal-hal positif dan 'mengejutkan' yang akan terjadi dalam hidup qta. Sukses yaaa utk km..dn welcome to the gank (we are exactly the happiest divorced woman in the universe ????????????????????????????)