1K
Sungguh saya berharap agar kelak dipertemukan tidak dengan tergesa dan terpaksa, karena kejaran waktu atau tuntutan dunia.

Malam itu, Papa dan Mama sengaja mendudukkan kami sekeluarga. Momen yang jarang sekali terjadi, mungkin hanya satu dua kali dalam setahun, itu pun hanya saat Lebaran. Dua hari lagi, kedua orangtua saya akan berangkat untuk beribadah umrah dan Mama secara khusus meminta saya pulang ke rumah. Saya beserta para kakak dan kakak ipar saya dengan khusyuk mendengar Papa yang memberi nasihat-nasihatnya.

Suasana berubah haru ketika Papa mulai menyampaikan rentetan wasiat yang sudah dibuatnya. Malam itu menjadi seperti malam yang mengerikan buat saya: seolah-olah kepergian mereka nanti untuk selama-lamanya. Saya kemudian menyadari Papa dan Mama yang semakin tua. Uban mulai memenuhi seluruh kepalanya, juga keriput-keriput yang semakin nyata terlihat. Mama semakin terisak dan hampir semua orang di ruangan keluarga menahan napas.


“Kalian tahu, Papa masih punya beban. Kamu belum menikah.”


Saya yang sedari awal menahan tangis, kemudian tak tahan lagi. Saya menangis dengan keras.

Kenyataan bahwa saya menjadi ‘beban’ bagi kedua orangtua karena saya merupakan anak terakhir yang belum menikah adalah sesuatu yang selama ini kami sekeluarga tahu. Namun, persoalan ini tidak pernah terang-terangan menjadi pembahasan keluarga. Saya amat mengerti kedua orangtua dan para kakak tidak ingin menambah tekanan terhadap saya, begitu juga saya yang selalu menghindari topik ini ketika keluarga mulai mempertanyakan.

Kakak pertama kemudian menyodorkan tisu sembari memeluk saya. Kami semua seperti sama-sama tahu, hal ini menyakitkan bukan hanya untuk saya, tapi seluruh keluarga.

Iya, status saya yang belum menikah adalah ‘beban’ bersama.

Detik itu, saya seperti menjadi anak yang tidak berguna. Lidah saya kelu untuk berkata bahwa mereka tidak perlu khawatir, saya bahagia dengan kondisi ini dan saya akan menikah jika sudah waktunya.

Kata-kata Papa terus-terusan menampar saya. Ternyata sampai kapan pun saya akan menjadi ‘beban’ bagi mereka jika saya belum menikah.

Selama ini saya selalu berusaha menyenangkan diri sendiri.

Status lajang saya menjadi sebuah privilege yang saya manfaatkan sepenuhnya. Pergi kesana-kemari, bersenang-senang dengan teman-teman, mencoba hal-hal baru. Apa pun asal positif dan membahagiakan saya. Bukan untuk melupakan status saya, tapi memanfaatkan momen yang saya miliki. Selagi bisa, selagi mampu dari segi kesehatan, finansial dan waktu. Sebelum kesempatan-kesempatan seperti itu mungkin jadi hal yang amat mewah untuk saya lakukan.

Bahkan kedua orang tua saya tak jarang mengingatkan saya bahwa saya harus ikhlas dan sabar, bahwa saya harus menikmati waktu saya selama masih bersendiri, bahwa saya tidak perlu khawatir karena semua ada waktunya. Membuat saya lalai akan perasaan kedua orang tua saya yang sebenar-benarnya.

Kemudian saya bertanya-tanya, apakah kebahagiaan saya itu bermakna ketika di satu sisi saya sebenarnya mengubur dalam-dalam kenyataan bahwa saya masih menjadi ‘beban’ bagi keluarga? Apakah saya egois karena selama ini saya berpikir keputusan menikah adalah hak prerogatif saya?

Sesaat, saya benci karena kelajangan saya menjadi beban.

Merasa kesal akan pandangan masyarakat yang mendasarkan kebahagiaan seseorang, terutama perempuan, diukur dari apakah ia berpasangan atau tidak. Dan yang lebih menyebalkan, saya tidak memiliki kendali atas hal ini.

Di luar, saya bisa saja menjadi perempuan paling bahagia meski melajang. Tapi di rumah, saya harus menerima bahwa kebahagiaan saya belum dianggap utuh.

Menganggap hal itu angin lalu dan bersikap masa bodoh dengan semua itu bisa saja saya lakukan. Namun membayangkan saat-saat terakhir orangtua dihabiskan dengan akan kecemasan atas saya yang masih menjadi beban mereka, jelas itu hal yang paling tidak diinginkan dalam hidup saya.

Untuk kedua orangtua saya, sekarang saya mungkin hanya bisa memohon maaf karena masih menjadi beban. Sungguh saya berharap agar kelak dipertemukan dengan jodoh yang baik bagi saya, dengan tidak dengan tergesa dan terpaksa, dan bukan karena kejaran waktu atau tuntutan dunia.

Tentu saja, dengan doa dan restumu.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bersendiri: Bagaimana Jika Statusmu Menjadi Beban bagi Orangtuamu?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Gita Rustifar | @gitarustifar

Project Manager ZettaMedia

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar