8.9K
Menjadi Ibu bukan sebuah kompetisi, bukan sebuah pertandingan. Ini bukan tentang siapa Ibu yang lebih hebat, atau anak siapa yang lebih berbakat.

Tentang Membanding-bandingkan Anak

Ada sebuah pengamatan menarik ketika saya sedang berkumpul bersama para ibu muda. Para ibu muda ini, termasuk saya, seringkali begitu bersemangat (bahkan terlalu bersemangat) bercerita tentang kehebatan anak-anaknya.

Anak yang satu sudah bisa melakukan hal A, sudah mampu membuat benda B. Atau bagaimana si anak A melakukan berbagai kebaikan di mata kedua orangtuanya. Di lain kesempatan, para ibu muda ini menceritakan kehebatan-kehebatan anak-anaknya yang lain. Hingga kemudian, entah disengaja atau tidak, beberapa ibu mulai saling membandingkan anaknya dengan anak ibu-ibu di sampingnya, di depannya, atau dengan anak ibu tetangga atau anak teman-temannya yang lain.

Ada begitu banyak hal yang bisa diperbandingkan: mulai dari anak siapa yang lebih dahulu bisa berjalan, anak siapa yang paling hebat dalam memanjat, sampai dalam hal yang sangat sensitif: seperti anak siapa yang punya berat badan paling ideal.

Dalam kesempatan yang lain, beberapa ibu muda ini juga mengeluh tentang anak-anaknya yang tidak bisa cepat menangkap apa yang ia ajarkan. Tidak bisa makan sayuran atau buah-buahan. Tidak suka bermain permainan yang sering dimainkan anak sebayanya. Sampai keluhan tentang pribadi anak yang terlalu aktif; atau sebaliknya, terlalu pendiam.

Ibu-ibu ini barangkali lupa, jika hari sebelumnya ia baru saja menceritakan kehebatan anak-anaknya dengan penuh semangat. Ibu muda ini, seperti banyak ibu-ibu muda lainnya--termasuk saya, mulai sering merasa ada yang kurang pada diri anaknya sesudah berkumpul dengan ibu-ibu lainnya; atau setelah melihat anak-anak lain yang sebaya dengan anaknya.

Anak-anak lain itu nampak memiliki banyak kemampuan, dan si ibu muda ini terobsesi dengan segala jenis kemampuan itu. Ia ingin anak dengan satu paket lengkap. Segala macam kemampuan dapat dikuasai si anak. Sekaligus, tentu saja, anak tersebut menjadi anak yang sehat, tidak rewel, baik hati, penurut, aktif, tekun, sekaligus suka bereksplorasi dan pemberani.

Sebuah kombinasi yang langka bagi anak-anak; terutama anak usia balita.

Menjadi Ibu-Anak yang "Hebat"

Ketika sampai rumah, ibu-ibu ini, termasuk saya, menekankan pada dirinya, dan tentu saja pada anaknya: bahwa mereka akan bekerja keras agar menjadi Ibu dan anak yang (tampak) hebat.

Si ibu muda ini mulai menyusun banyak rencana. Mulai dari mengkursuskan anaknya untuk menguasai banyak keahlian, tanpa ia tanya pada sang anak apakah si anak mau atau tidak. Mendatangkan guru les dari berbagai tempat les yang mahal dan bergengsi untuk mengajari anaknya tambahan pelajaran dari sekolah. Membelikan segala peralatan pendukung untuk memuluskan keinginan si Ibu agar anaknya dapat diakui sebagai anak yang hebat. Bahkan tidak jarang, si Ibu rela melakukan segala hal untuk memuluskan keinginannya, termasuk berbuat curang.

Perbuatan yang berbanding terbalik dengan tujuannya menjadi orang tua bagi anak-anak "super".

Saya jadi teringat sebuah cerita seorang Ibu dengan tiga anak.

Ibu itu sering sekali menceritakan kehebatan anak-anaknyanya di depan banyak orang. Sedari kecil, anak-anak ini sudah diharapkan mampu mewujudkan cita-cita ibunya: menjadi anak yang pintar dan bisa dibanggakan. Anak ini diberi beban belajar yang berlebih untuk anak seusianya. Setiap pergantian tahun ajaran, ibunya sudah ribut dan senewen mendekati wali kelasnya.

Setiap tahun, anak ini memang mendapatkan peringkat yang bagus di kelasnya. Ibu dan Ayahnya pun berbangga, diceritakannya kepintaran anaknya dalam setiap kesempatan. Suatu saat, anak tersebut ditanya oleh salah seorang guru. Pertanyaannya mencecar dan ternyata anak tersebut tidak mampu menjawabnya. Setiap kali mengikuti pelajaran dengan sang guru, anak tersebut tertekan. Semakin lama, anak tersebut sering merasa tertekan dalam semua mata pelajaran. Nilainya terjun bebas, orang tuanya pun tidak terima, baik kepada pihak sekolah dan terutama kepada si anak sendiri.

Sang Ibu marah besar. Dituduhnya si anak tidak lagi rajin belajar. Anak itu kemudian mengalami depresi yang cukup parah, bahkan sampai harus mendapatkan pertolongan psikolog.

Anak itu sebenarnya bukanlah anak yang bodoh, tapi bukan pula anak yang benar-benar "pintar" jika pintar dinilai dari sebuah peringkat.

Dari cerita yang beredar, si Ibu inilah yang giat sekali membuat anaknya menjadi juara kelas bertahan. Banyak cara yang ditempuh si Ibu: mulai dari mendekati wali kelas dan guru, mencari bocoran soal, dan sebagainya. Dalam masa pengobatannya juga diketahui, bahwa anak ini suka sekali olah raga. Bahkan dia memiliki kemampuan istimewa di salah satu cabang olah raga.

Tapi bagi sang Ibu, olah raga bukanlah cerita favorit yang ingin ia bagikan. Pintar belorahraga bukan menjadi ciri anak "berprestasi". Karena bagi Ibunya, prestasi akademik yang ditunjukkan dalam deretan nilai yang fantastis lebih utama. Angka-angka inilah yang akan membawa anaknya ke masa depan yang lebih baik, atau mungkin membawa ibunya ke dalam cerita seorang ibu hebat yang berhasil mendidik anak-anak hebat.

Apakah Cerita Tadi Merupakan Cerita Kita Juga?

Cerita si ibu tadi, bisa jadi menjadi bagian dari cerita anak-anak kita (termasuk saya) kelak, jika kita (dan saya) masih terus terobsesi dengan berbagai predikat ibu hebat, ibu super atau ibu dengan predikat wow lain yang ingin kita capai.

Catat dan beri garis tebal, capaian itu untuk kita pribadi--bukan untuk anak kita. Anak hanyalah kita lihat sebagai alat untuk mewujudkan ambisi kita tersebut. Kita bahkan lupa, jika anak-anak kita ini dan juga anak-anak lain di dunia adalah anak-anak yang dilahirkan dengan takdir mereka masing-masing. Anak-anak ini memiliki banyak tahap berbeda dalam perkembangan dirinya.

Kadangkala, tahapan-tahapan ini bahkan tidak bisa kita percepat atau perlambat, hanya untuk membuat anak tampak lebih pintar atau lebih maju selangkah daripada anak-anak yang lain. Kita juga lupa, bahwa dulu kita juga seperti mereka. Belajar dari mulai merangkak sampai berjalan dan berlari dengan disertai keinginan untuk diberikan dukungan seberapa kecilpun langkah yang kita buat. Bukannya ingin langsung disuruh berlari ketika kita baru saja mulai berjalan tertatih satu langkah kecil.

Cerita ibu-ibu di atas juga mengingatkan saya untuk tidak terus berusaha bersaing dengan ibu-ibu lain di dunia.

Meski saya juga tidak tahu, ibu-ibu tersebut bersaing untuk siapa dan siapa yang kelak akan memenangkannya. Karena menjadi ibu yang hebat bukan saja dinilai dari anak-anak 'super' yang berhasil ia besarkan.

Tidak ada kompetisi dan persaingan dalam menjadi Ibu.

Ibu yang hebat, menurut saya, adalah ibu yang membantu anaknya untuk bisa berbahagia. Dan definisi Ibu hebat ini hanya dapat disematkan oleh sang anak kepada ibunya sendiri, bukan oleh orang lain, atau ibu-ibu lain.

Anak yang hebat juga menjadi predikat yang hanya bisa disematkan orang tua pada anaknya. Karena hanya merekalah anak-anak bagi orang tuanya. Mereka adalah satu-satunya di dunia. Bahkan bisa jadi, anak-anak hebat ini bukanlah anak jenius seperti yang kita sering kira. Bukan pula anak serba-bisa yang tidak punya cela.

Anak-anak hebat ini, bisa jadi, adalah anak-anak yang bahagia menjadi dirinya sendiri, yang selalu berterima kasih kepada orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkannya, dan meneladani kebaikan yang orang tuanya ajarkan sepanjang hidupnya. Ia adalah anak-anak berbudi, lembut hati, sopan-santun, dan pekerja keras.

Meski tidak ada deretan prestasi yang dapat dipajang di dinding rumah, anak hebat ini mampu menerima dirinya apa adanya, dan mengembangkan apa yang ada dalam dirinya menjadi sesuatu yang berarti bagi banyak orang. Dan anak hebat ini, lahir dari orang tua yang mampu menerima mereka apa adanya, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagaimana wajarnya.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bersaing Menjadi Ibu Hebat? Sst, Tidak Ada Kompetisi dalam Menjadi Ibu.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Seorang perempuan dalam perjalananya menjadi Bahagia dan berguna

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar