2.4K
Memilih untuk hidup berpasangan ataupun melewati hari-hari seorang diri, keduanya merupakan pilihan hidup. Namun, entah mengapa yang kedua seringkali kurang mendapatkan sambutan hangat.

Memang, katanya, idealnya manusia hidup berpasangan. Menjalani hitam-putih kehidupan bersama pilihan hati. Setelah jalinan hubungan dirasa cukup dijalani berdua, mulailah mereka melangkah ke arah yang lebih serius yakni pernikahan. Setelah menikah lalu menambah insan-insan baru dan lengkaplah sudah koloni kehidupan terbentuk. Happily Ever After.

Namun tentu ada juga yang memilih untuk hidup dalam kesendirian. Melewati tantangan kehidupan sendiri, meskipun tak berarti kesepian. Meski demikian, kesendirian masih kerap dipandang sebelah mata. Mereka yang memilih bersendiri masih dianggap lemah, kurang beruntung, atau tak mampu menemukan orang yang bersedia menemani berjalan menempuh kehidupan.

Sesungguhnya, baik itu sendiri maupun memiliki pasangan, keduanya memiliki sisi positif dan negatif masing-masing. Kadang yang sendiri menoleh iri pada yang berjalan berpasangan. Kadang juga saat tangan digenggam erat, mata menatap nanar melihat kebebasan si lajang.

Saat berada dalam jalinan hubungan, ia bisa menjadi amat membahagiakan. Ada yang menemani hari-hari kita. Ada yang selalu mendengarkan keluh kesah kita setelah melewati cerita di satu hari. Ada yang kita andalkan dalam setiap kesulitan, ada yang mengimbangi tiap canda maupun tawa. Kehidupan pun terasa lengkap saat kita memiliki pasangan.

Namun janganlah juga lupa bahwa kadang menyatukan dua kepala itu tak mudah. Selalu ada gesekan dan percikan api saat membentuk sebuah hubungan.

Saat kita memiliki kehendak dan tak sejalan dengan pasangan kita, indanya api asmara pun perlahan meluntur. Pertengkaran demi pertengkaran serignkali membawa kepada perpisahan. Namun, bila kuat bertahan, maka pertengkaran sehebat apapun tak akan mampu mengusik keberlangsungan hubungan. Hanya saja kita akan mencecap pertengkaran itu berulang ulang. Bertengkar lagi, berbaikan lagi. Bertengkar lagi, berbaikan lagi.

Sementara yang berdiri sendiri, bisa bebas melenggang kemanapun langkahnya menuju. Tanpa perlu persetujuan atau melewati perdebatan panjang untuk melakukan sesuatu yang disuka. Si lajang juga mendapat waktu dan kesempatan panjang untuk belajar tentang kemandirian dan segala hal yang diminati. Namun, terkadang ia juga bisa merasakan kesepian; merasakan keinginan untuk memiliki seseorang yang bisa mendampinginya, yang bisa menjadi rekan hidupnya. Terkadang ia juga bertanya-tanya: "Apakah ada yang salah dengan diri saya?"

Kita semua selalu bergelut dengan keputusan-keputusan yang telah kita ambil. Di satu saat, keputusan itu terasa tepat, dan di saat lain keputusan tersebut bisa terasa berat. Setiap kita menjalani perjuangannya sendiri-sendiri; jadi tak perlu rasanya menuding mana yang lebih atau kurang beruntung, mana yang lebih atau kurang baik, mana yang lebih atau kurang pantas.

Entah hidup berpasangan maupun hidup sendiri, keduanya adalah pilihan. Setiap orang punya alasannya sendiri-sendiri untuk memilih kehidupan yang mereka jalani. Tugas kita bukan menghakimi, tapi melihat ke dalam diri dan bertanya: bagaimana kita bisa membuat kehidupan yang kita jalani saat ini lebih berarti? Dan jangan lupa pula untuk mendoakan yang lain agar mereka berbahagia: baik berpasangan, maupun sendiri-sendiri.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berpasangan atau Bersendiri? Keduanya Pilihan Hidup yang Perlu Dihargai.". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Safitri Saraswati | @SafitriSaraswati

A Single Mom, A Traveller, A Believer

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar