662
Berapa banyak dari kita merasa benci dengan keadaan yang tidak berjalan seperti semestinya? Berapa banyak dari kita yang ingin segera bereaksi untuk meluruskan suatu kondisi yang tidak benar?

Banyak dari kita ingin segera bertindak ketika melihat 'ketidakberesan' di sekitar kita. Demikian juga halnya dengan saya.

Tapi, dalam kenyataannya, hal itu tidaklah mudah.

Seringkali, ‘pembenahan’ kita tidak disambut baik oleh lingkungan sekitar. Apalagi jika dilakukan dengan cara-cara yang salah. Niatan baik untuk membenahi sebuah kesalahan pun bisa malah menjadi kesalahan lain.

Suatu pagi di hari Sabtu yang cerah, saya hendak mengisi akhir pekan dengan mengikuti sebuah lokakarya kepenulisan di Jakarta Barat. Seperti biasa, saya menaiki ikon transportasi publik ibukota, TransJakarta.

Kondisi lalu-lintas di kota ini memang selalu padat, menguji kesabaran setiap pengguna jalan, bahkan di akhir pekan yang semestinya tenang sekalipun. Saya duduk dalam bis bagian belakang, di mana persaingan untuk mendapatkan tempat duduk tidak terlalu sengit jika dibandingkan di area khusus perempuan.

Di belakang saya, duduk dua orang lelaki berpakaian batik. Rapi seperti hendak menghadiri sebuah pesta pernikahan. Namun, di saat laju bis seringkali berhenti lantaran kepadatan jalan, seorang dari mereka mulai berkeluh-kesah.

Dari balik tempat duduk, saya mengerti alasan dari kegusarannya itu.

Lelaki satu ini kesal pada teman sebelahnya lantaran sudah membuat kesalahan yang cukup krusial pada hari Sabtunya. Si teman itu mengajak lelaki gusar ini ke suatu tempat di pagi hari tanpa memperhitungkan waktu. Ini membuat mereka terlambat menghadiri sebuah acara di mana mereka biasa mendapatkan penghasilan.

Ternyata, kedua lelaki itu hendak menjadi penonton bayaran di sebuah acara salah satu stasiun televisi swasta di bilangan Kedoya.

Sembari menguping, saya setuju dengan semua poin yang diutarakan si lelaki gusar ini. Sepanjang jalan, dia menasehati temannya untuk lebih bijak dalam berencana dan memperhitungkan waktu.

Saya melihat suatu idealisme dan integritas dalam diri si lelaki gusar ini yang terdengar dari logat bicaranya.

Namun, tahukah kamu cara penyampaian lelaki gusar ini?

Sungguh menyedihkan.

Sepanjang jalan, dia menghujat temannya, memaki jalanan, dan bersungut-sungut. Nada suaranya penuh emosi dan amarah yang tak terbendung. Panas amarahnya pun terasa hingga pundak saya: yang duduk tepat di depannya. Saya sungguh jadi gusar dibuatnya. Ketenangan Sabtu pagi berubah penuh emosi.

Akhirnya saya memutuskan pindah ke bagian depan, di area khusus perempuan, walau akhirnya harus rela berdiri.

Dan ternyata, panas api amarah lelaki gusar itu masih terasa hingga area penumpang depan. Suara bentakannya lantang menjalar menembus barisan penumpang dalam bis. Saya tersadar, semua penumpang saling bertatapan sembari mengerutkan kening mereka.

Sungguh kemalangan bagi kedua lelaki itu.

Satu dari mereka harus menanggung malu karena diceramahi di muka umum atas kesalahannya. Sementara, si lelaki gusar secara tak sadar sudah merendahkan dirinya sendiri di muka umum lantaran kekecewaan terhadap temannya--yang membuatnya kehilangan pendapatan dari menjadi seorang penonton bayaran untuk sebuah acara televisi.

Setibanya bis di halte tujuan, saya melangkah keluar sembari memetik sebuah pelajaran hidup yang berharga. Penting bagi kita untuk bijaksana dalam bersikap. Dan kebijaksanaan itu hanya bisa didapat dalam jiwa yang tenang. Karena meskipun pemikiran kita (menurut kita) adalah benar, tanpa kebijaksanaan sikap, kebenaran bisa tergelincir menjadi sebuah kesalahan.

Maka dari itu, ketenangan jiwa adalah kuncinya.

Di saat-saat saya dihadapkan oleh Tuhan pada kondisi-kondisi hidup yang tidak mengenakkan di sekitar saya dan saya terdorong untuk bereaksi tergesa, saya selalu mengingat peristiwa di dalam bis Sabtu itu.

Alih-alih bereaksi tergesa, saya memohon pada Tuhan untuk ketenangan jiwa, dan ketenangan berpikir: agar bisa melihat situasi yang ada lebih jernih, alih-alih reaktif. Pada akhirnya, saya lebih sering memilih untuk diam, karena lewat kejernihan dan ketenangan, saya bisa melihat bahwa ada saatnya diam itu baik.

Jika apa yang akan saya katakan atau lakukan saat itu juga akan menyakiti perasaan orang lain--terlepas dari niat baik yang melatarinya, saya memilih diam. Saya diam untuk kemudian berpikir dan merasa lebih jernih. Merancang bagaimana saya bisa menyampaikan niat baik saya dengan cara-cara dan kata-kata yang baik pula. Agar lingkaran sakit-menyakiti tidak berlanjut atas nama 'niat baik'.

Mungkin benar kata orang bijak bahwa diam adalah emas. Bukan diam selamanya, tapi diam sejenak: untuk mencari ketenangan jiwa--agar kita bisa bicara dan bertindak dari ketenangan diri di dalam sana.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berbuat Tidak Baik Demi Niat Baik: Apakah Bijak?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Ainin Nadia | @anadia

A knowledge seeker. A wordsmith to be. Dream to be happy in simplicity.

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar