1.6K
Rasa ingin menjadi sempurna juga menjauhkan kita dari rasa syukur, kita tidak bisa lagi melihat kebaikan apa yang kita miliki sekarang karena obsesi kita untuk terus menjadi lebih baik dan paling baik. Kita tidak bisa lagi menikmati hidup dan selalu dihinggapi ketakutan akan sesuatu yang tidak sesuai dengan target kita.

Saya harus bisa memasak, menjahit, berkebun, menulis dan segala pekerjaan rumah tangga

Saya harus menjadi supermom, apapun saya lakukan tanpa bantuan siapapun

Saya harus menjadi yang paling cantik, paling pintar, paling hits

Paling...paling...

Pusing?

Saya juga pusing memikirkan betapa tidak sempurnanya diri saya jika kesempurnaan itu bisa diukur. Saya pusing memikirkan, berapa lama waktu yang harus saya miliki untuk menjadi sempurna. Sedangkan saya diberikan banyak keterbatasan oleh Sang Maha Kuasa, keterbatasan yang mungkin hanya menjadi pikiran saya saja.

Saya pun teringat percakapan dua perempuan yang memiliki peran berbeda, satu perempuan yang bekerja di ranah publik dan satu lagi perempuan yang berkutat dengan urusan domestik

"Apakah seorang ibu disebut sempurna, jika ia berada penuh di dalam rumah? Apakah ibu tidak disebut sempurna jika anak-anaknya tidak ia temani bermain setiap saat?" tanya seoarang perempuan pada saya.

Perempuan itu bekerja, dan ia merasa tidak sempurna menjadi perempuan karena ia meninggalkan anaknya dengan pengasuh di rumah. Ia juga merasa tidak bisa menjadi istri yang baik, karena ia tidak sempat menyiapkan baju untuk suaminya di pagi hari. Ia ingin sekali bisa melakukan segala hal dengan baik, ya memiliki pekerjaan yang baik, anak terawat dan tumbuh dengan baik, suami juga terlayani dengan prima. Dalam bayangan dia, seharusnya begitulah perempuan yang sempurna.

Lain lagi dengan cerita seorang teman saya yang lain, seorang ibu rumah tangga yang urusan hariannya dipenuhi urusan rumah tangga dan anak-anak

"Apakah menjadi perempuan itu harus punya mimpi dan cita-cita besar? Saya tidak punya. Saya merasa apa yang saya lakukan itu sia-sia, saya juga merasa saya tidak berharga sebagai seorang manusia. Saya sangat tergantung pada suami, aktivitas saya juga terbatas, dan saya bahkan tidak tahu mau jadi apa saya kelak."

Perempuan kedua ini menginginkan sebuah peran yang lengkap, rumah tangga dapat dikelola dengan sangat baik, tapi ia juga bisa menghasilkan banyak uang dan terus produktif sepanjang waktu.

Secara tidak langsung, kedua perempuan tersebut saling membandingkan satu sama lain, dalam kacamata mereka. Bahkan, keinginan membandingkan seakan tidak bisa dibendung jika perempuan ini melihat orang lain dalam gambaran yang disajikan dalam media sosial. Sebuah gambaran yang menyajikan hal-hal yang (ter)baik, dan mengundang pujian.

Bahkan bisa jadi, gambar itu bukanlah gambaran yang sebenarnya.

Dalam kacamata perempuan (setidaknya saya), menjadi sempurna menjadi bagian dari impian.

Memiliki pasangan yang serasi, kehidupan rumah tangga yang baik, memiliki pekerjaan yang baik, dan anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Semua harus bisa dimiliki dalam satu waktu, jika bisa semua sekaligus ia pegang erat.

Sayapun demikian. Saya sering sekali membandingkan diri ini dengan perempuan lain, lalu saya akan berkaca pada mereka.

Apakah saya cukup baik? Lebih baik? Atau bahkan tidak sebaik mereka? Apa salah saya jika saya tidak sebaik mereka?

Lalu saya pun merasa terintimidasi ketika menilai diri saya ini tidak memiliki kemampuan atau kehidupan yang sama baiknya dengan yang saya lihat. Setelah itu apa yang terjadi?

Pada akhirnya saya memutuskan untuk berhenti menjadi lebih baik, karena saya tidak mungkin menjadi sempurna. Dan saya lelah memperlakukan hidup seperti kompetisi tanpa akhir melawan jutaan perempuan lain di dunia. Betapa melelahkannya! Saya tidak sempurna. Saya tahu itu. Namun, terkadang, mengetahui bahwa saya tidak sempurna atau kurang sempurna dibandingkan perempuan lain, masih saja membuat hari saya terasa buruk.

Perasaan ini, saya kira, akan terus muncul selama keinginan menjadi sempurna itu ada: sebuah kedudukan yang seharusnya bukan milik kita, tapi milik Sang Maha Kuasa.

Sempurna bagi kita belum tentu sempurna bagi orang lain. Sempurna saat ini, belum tentu sempurna esok lusa. Dan saat kita sudah merasa sempurna, belum tentu kita berhenti menoleh kepada orang lain yang menurut kita memiliki sesuatu yang lebih dari kita. Begitu terus, tidak akan ada habisnya.

Rasa ingin menjadi sempurna juga menjauhkan kita dari rasa syukur. Kita tidak bisa lagi melihat kebaikan apa yang kita miliki sekarang karena obsesi kita untuk terus menjadi lebih baik dan paling baik. Kita tidak bisa lagi menikmati hidup dan selalu dihinggapi ketakutan akan sesuatu yang tidak sesuai dengan target kita. Bahkan kita juga bisa kehilangan rasa empati terhadap orang lain yang membutuhkan bantuan kita, dan rasa empati terhadap diri sendiri.

Yang kini kita perlukan adalah fokus pada kekuatan kita, serta selalu mawas diri untuk berkaca pada masa lalu dan diri kita sendiri, bukan kepada orang lain.





Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Berapa Lama Waktu yang Saya Miliki Sebagai Perempuan untuk Menjadi 'Sempurna'?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Bio

Hepi Risenasari | @hepirisenasari

Seorang perempuan dalam perjalananya menjadi Bahagia dan berguna

What do you think ?

Silahkan login untuk memberi komentar